Macepat (Geguritan)

Macepat sering juga disebut pupuh atau geguritan dibentuk berdasarkan kaidah prosadi padalingsa. Pada artinya banyak bilangan suku kata dalam satu baris (carik), lingsa artinya bunyi akhir masing-masing baris dalam satu bait (pupuh). Untuk lebih jelasnya padalingsa itu mengandung 3 (tiga) hal yaitu :

  • Jumlah suku kata dalam setiap baris (carik)
  • jumlah baris (carik) untuk setiap bait (pada)
  • Bunyi akhir tiap-tiap baris

Secara teknis untuk menyanyikan pupuh (macepat) pengambilan suara biasanya di ujung lidah. Dengan posisi pengambilan suara seperti itu suara menjadi ngranasika, ini sangat memudahkan menciptakan gregel dan wewiletan/cengkok. Menyanyikan pupuh dengan wewiletan, agar mampu mengolah suara menjadi “Engkal-engkalan” atau ngengkal (istilah di Bali) (Warjana, 1996:30)

Ada beberapa hal tentang macepat (Warjana, 1996:30-32) antara lain:

1)   Fungsi/karakter dari masing-masing pupuh (macepat), adalah sebagai berikut:

  1. Mijil, wataknya melahirkan perasaan. Sepatutnya untuk menguraikan nasihat, tetapi dapat juga digubah untuk orang mabuk asmara.
  2. Pucung wataknya kendor, tanpa perasaan yang memuncak. Sepatutnya untuk cerita yang seenaknya, tanpa kesungguhan. Tetapi ada juga Pucung untuk ajaran yang dalam hal ini untuk memperingankan caranya saja.
  3. Maskumambang, wataknya nelangsa sedih/merana. Sepatutnya untuk melahirkan perasaan sedih, hati yang merana atau menangis.
  4. Ginada, melukiskan kesedihan, merana atau kecewa.
  5. Kinanti (Ginanti), senang, kasih cinta. Sepatutnya untuk menguraikan ajaran, filsafat, cerita yang bersuasana asmara, keadaan mabuk cinta.
  6. Semarandana (Asmarandana), wataknya memikat hati, sedih, kesedihan karena asmara. Sepatutnya untuk menceritakan cerita asmara.
  7. Sinom, wataknya ramah tamah, meresap sedap. Patutnya untuk menyampaikan amanat, nasihat atau bercakap-cakap secara sahabat.
  8. Durma, wataknya keras, bengis, marah. Sepatutnya untuk melukiskan perasaan marah atau untuk cerita perang, saling menantang dan sebagainya.
  9. Pangkur, wataknya perasaan hati memuncak. Sepatutnya untuk cerita mengandung maksud kesungguhan. Jika nasihat yang bersungguh-sungguh, jika mabuk asmara sampai puncaknya.
  10. Dandanggula, wataknya halus lemas, umumnya untuk melahirkan sesuatu ajaran, berkasih-kasihan, juga untuk penutup suatu karangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *