KITAB SUCI VEDA

KITAB SUCI VEDA

A. Pengertian Veda
Kata Veda dapat dikaji melalui 2 pendekatan yaitu berdasarkan etimologi (akar kata) dan berdasarkan semantik (pengertiannya). Secara etimologi kata Veda berasal dari bahasa Sanskerta, dari akar kata “Vid”, yang artinya mengetahui dan akar kata ini berubah menjadi kata benda yaitu Veda, yang artinya kebenaran, pengetahuan suci, kebijaksanaan dan secara semantik Veda berarti kitab suci yang mengandung kebenaran abadi, ajaran suci atau kitab suci bagi umat Hindu. Akar kata ‘vid’ juga muncul dalam bahasa Latin ‘videre’, artinya ‘melihat’, dan dalam bahasa Inggris ‘wit’ artinya ‘menyaksikan’. Sedangkan Max Muller mengatakan bahwa Veda pada mulanya berarti mengetahui atau pengetahuan, dan nama ini diberikan oleh para brahmana bukan untuk satu karya, tetapi kepada seluruh kesusastraan suci kuno. Maharṣi Sāyana menyatakan bahwa Veda adalah wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang mengandung ajaran yang luhur (trancendeltal) untuk kesempurnaan umat manusia serta menghindarkannya dari perbuatan jahat.

Demikian pula Bloomfield dalam bukunya The Religion of Veda menyatakan bahwa Ṛgveda bukan saja monument tertua umat manusia, tetapi juga dokumentasi di Timur yang paling tua. Susastra ini lebih tua dari Yunani maupun Israel dan memperlihatkan perabadan yang tinggi di antara mereka yang dapat dijumpai dalam mantra-mantra Veda (1908).

Menurut Swamī Dayānanda Sarasvatī dalam bukunya Ṛgveda di Bhāṣya Bhumika ‘Penjelasan dan komentar terhadap Ṛgveda’ yang ditulisnya dalam bahasa Hindi menyatakan kata Veda berasal dari empat urat kata atau akar kata kerja sebagaimana uraian berikut;
1. Vid : mengetahui (Anādi, Set, Parasmaipada) – Vetti
2. Vid : menjadi ada (Divadi, Anit) – Vidyāte
3. Vid : membedakan (Rudhadi, Anif) – Vinte
4. Vid : mencapai (Tudadi, Set) – Vindati atau Vindate.
Tentang arti Veda, S. Radhakrishnan lebih jauh menyatakan: Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan dalam tahap kedua disebabkan oleh pengkajian yang lebih mendetail, sedang kebijaksanaan (Veda) adalah pengetahuan tahap awal (tingkatan yang pertama) yang diturunkan dari prinsip tak terciptakan. Veda bukan hasil susastra yang satu seperti Bhagavadgitā atau bukan pula kumpulan dari beberapa buku dalam suatu masa tertentu seperti Tri Pitaka agama Buddha atau Kitab Injil agama Kristen, tetapi suatu susastra yang menyeluruh dari abad kea bad dan disampaikan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Ketika tidak ada buku ingatanlah yang kuat dan tradisi sangat pasti. Untuk memberikan kesan pada orang-orang agar bersedia memelihara susastra ini, Veda disampaikan sebagai pengetahuan suci atau wahyu. Kesuciannya timbul secara spontan berdasarkan umur dan nilai-nilai yang terkandung dalam isi Veda tersebut. mulai sejak itu Veda menjadi landasan berpikir dan berperasaan bagi banyak orang.

Begitu istimewa dan luar biasanya Veda, oleh karena itu jangan sampai kita sebagai umat Hindu meninggalkan Veda. Siapa yang meninggalkan Veda maka dia akan rugi karena Veda adalah lautan ilmu pengetahuan yang dapat dijadikan pedoman setiap manusia di dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Ilmu pengetahuan bagaikan seorang ibu yang akan selalu menjaga anaknya dari segala hal. Tanpa Veda maka kita tidak akan mengetahui arah, itu artinya kita akan tersesat. Siapa yang melepaskan Veda maka sama dengan ia telah melepaskan pegangan hidupnya sehingga ia akan kehilangan jati dirinya.

Referensi:
Pudja, G. 1998. VEDA III Pengantar Agama Hindu. Paramita: Surabaya.
Radhakrishnan, Sarvapalli. 2008. The Principal Upanisads. Surabaya: Paramita
Sivananda, Sri Svami. 1997. All About Hinduisme. Surabaya: paramita
Titib, I Made. 1997. Veda subdivision Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya: Paramita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *