DHARMAGITA DALAM AJARAN HINDU

  1. Pentingnya Dharmagita

Dharmagita merupakan media yang dipergunakan sejak dahulu oleh orang Bali dalam membina berbagai karakter atau budi pekerti setiap orang. Dharmagita adalah nyanyian suci, disebut suci karena melalui dharmagita orang mampu memperoleh kedamaian dan disamping itu disebut suci karena dharmagita selalu dinyanyikan atau dikumandangkan setiap ada upacara yadnya, baik upacara Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya maupun Bhuta Yadnya, dengan demikian dharmagita dikumandangkan di setiap upacara yadnya. Melalui lantunan dharmagita setiap umat yang mengikuti persembahyang dapat memusatkan pikirannya dengan khusuk.

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa melalui dharmagita karakter orang Bali terbentuk, hal itu terjadi karena dalam dharmagita tersebut terdapat berbagai ajaran tentang etika, moral dan religious yang merupakan dasar membentuk karakter atau bhudi pekerti orang Bali. Dharmagita dinyanyikan di setiap rumah dan di setiap waktu oleh hampir seluruh masyarakat Bali, dan tidak hanya di rumah, bahkan di setiap tempat di manapun masyarakat Bali berada, seperti di sawah, di pantai, di banjar dan sebagainya orang Bali dapat dipastikan melantunkan dharmagita.

Apabila di sebuah rumah terdapat anak balita maka dharmagita juga akan dinyanyikan untuk menghibur anak tersebut. Dharmagita dinyanyikan oleh setiap orang tua untuk anak mereka sejak masih kecil karena anak memang sangat menyukai nyanyian, dan melalui dharmagita orang tua berkomunikasi dengan anak. Seorang anak balita memang tidak dapat memahami syair dari dharmagita tersebut, namun anak dapat menangkap irama dari dharmagita tersebut dan irama dapat menyentuh perasaan anak tersebut. Semakin beranjak dewasa maka semakin mendarah daging pula dharmagita dalam jiwa anak tersebut dan selanjutnya dharmagita menjadi sebuah pembiasaan dalam kehidupan anak sebagai media untuk membina karakter atau budhi pekerti.

Seiring dengan perkembangan jaman dan kesibukan setiap orang, maka dharmagita mulai ditinggal sedikit demi sedikit digantikan oleh suara musik-musik modern atau lagu-lagu yang terkadang kurang mendidik karakter baik bagi anak maupun bagi orang dewasa, sehingga sebagian besar dapat kita amati terjadinya kemerosotan karakter di kalangan umat Hindu itu sendiri. Etika seorang anak mulai merosot yang ditandai dengan kurang hormatnya anak terhadap orang tua, kurang hormatnya murid terhadap guru, dan anak juga kurang memiliki ketangguhan sehingga mudah mengalami putus asa apabila menemukan kesulitan dalam kehidupan ini. Berita yang belakangan sering di TV adalah terjadinya berbagai bentrokan antar kelompok di Bali, bentrok antar desa dengan permasalahan yang kurang jelas, dan juga penjualan tanah secara besar-besaran hanya karena materi dan tanpa memikirkan dampaknya.

Berdasarkan fenomena tersebut dan untuk mencegah terjadinya kemerosotan moral lebih jauh lagi maka sudah saatnya dilakukan tindakan sehingga karakter orang Bali yang sudah terkenal sampai ke manca Negara dapat kembali seperti semula. Pembinaan terhadap karakter tersebut dapat dilakukan dengan kembali melantunkan dharmagita di setiap rumah dan oleh setiap masyarakat Bali. Walaupun demikian pembinaan melalui dharmagita ini tidak terbatas hanya dinyanyikan di rumah, namun dapat dilakukan di setiap tempat, seperti pura, pasraman dan banjar-banjar, dan dilakukan pada anak sejak anak usia dini.

  1. Tujuan Dharmagita

Dharmagita selain dijadikan materi pembelajaran di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, dharmagita juga dapat diajarkan kepada umat secara umum dalam rangka membentuk karakter umat. Apabila dharmagita ditujukan untuk membentuk karakter umat, hal itu berarti dharmagita difungsikan sebagai media pembinaan. Dharmagita dapat dijadikan sebagai media pembinaan umat, baik umat usia dini sampai usia dewasa. Dharmagita sangat tepat sebagai media pembinaan, karena dharmagita merupakan nyanyian yang indah dan penuh dengan nilai-nilai luhur. Pembinaan merupakan hal yang sengat dibutuhkan untuk saat ini baik untuk pembinaan generasi muda yaitu yang dimulai sejak anak usia dini sampai ke tingkat remaja, begitu pula pembinaan juga diperlukan untuk para orang tua sehingga di setiap rumah orang tua kembali menyanyikan dharmagita tersebut baik pada saat mengasuh anak maupun pada saat menasehati anak, karena dharmagita sangat efektif dijadikan media untuk membina karakter anak sejak usia dini. Tujuan pembinaan di sini adalah mempunyai peran ganda yaitu: (1) sebagai pelestarian dharmagita itu sendiri, (2) sebagai media pendidikan karakter generasi muda bahkan sejak usia dini, (3) sebagai pembiasaan menyanyikan dharmagita kembali, dengan demikian tujuan pembinaan dharmagita ini sangat penting dilakukan secepatnya dan secara terus-menerus dan berkelanjutan.

Dharmagita sangat sarat dengan nilai-nilai budhi pekerti maka dari itu sangat tepat apabila dharmagita selalu dilestarikan dan dinyanyikan oleh umat setiap hari. Dharmagita dapat dijadikan sebagai pandangan hidup, bahkan sangat tepat dijadikan sebagai lifestyle atau gaya hidup. Artinya, dharmagita dijadikan sebagai kebiasaan hidup sehari-hari. Agar dharmagita dapat tumbuh sebagai gaya hidup umat maka dharmgita harus diajarkan kepada umat di manapun mereka berada, dan untuk segala usia. Untuk anak-anak sekolah sangat penting diajarkan dharmagita di sekolah dengan teratur atau konsisten, oleh karena itu sudah sepantasnya dharmagita masuk dalam kurikulum sekolah. Selain diajarkan di sekolah, dharmagita juga harus diajarkan kepada anak-anak dan remaja di lingkungan rumah, dan masyarakat seperti di balai Banjar. Begitupula untuk orang dewasa dharmagita harus diajarkan di masyarakat. Dharmagita tidak hanya sekedar dinyanyikan, namun yang tidak kalah penting, nilai-nilai yang terdapat pada dharmagita harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Sasaran Pembinaan Dharmagita

Apabila dharmagita dijadikan media pembinaan, maka materi dharmagita harus disesuaikan dengan tingkat usia yang dibina. Materi dharmagita sangat luas, dan sudah diciptakan oleh leluhur disesuaikan dengan tingkatan usia umat yang akan menggunakan dharmagita tersebut. Mengingat pentingnya dharmagita sebagai media pembinaan sejak anak usia dini maka sudah seharusnya ditentukan siapa yang menjadi sasaran dalam rangka pembinaan dharmagita tersebut, dan adapun yang menjadi sasaran pembinaan dharmagita antara lain:

  1. Anak usia dini
  2. Remaja
  3. Orang dewasa termasuk orang tua

PEMBAGIAN KESUSASTRAAN BALI

Sebelum membahas dharmagita, maka terlebih dahulu akan diulas mengenai kesusastraan Bali. Kesusastraan Bali dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu: 1) kesusastraan Bali menurut bentuknya, 2) kesusastraan Bali menurut jamannya, 3) kesusastraan Bali menurut cara menuturkan, dan 4) kesusastraan Bali menurut bahasanya.

2.1 Kesusastraan Bali menurut bentuknya

Kesusastraan Bali menurut bentuknya dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Tembang (= puisi)
  2. Gancaran (= prosa)
  3. Palawakya (= prosa liris)
  4. Tembang

Pada umumnya orang membagi tembang itu menjadi empat bagian, yaitu:

  1. Sekar Rare (= Gegendingan)
  2. Sekar Alit (= Sekar Macepat)
  3. Sekar Madya (= Kidung)
  4. Sekar Agung (= Kekawin)
  5. Gancaran

Pada umumnya gancaran dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

  1. Tatwa crita

Tatwa crit aini banyak sekali jenisnya, yaitu: 1) berasal dari Bali, berupa cerita rakyat, misalnya: satwa I Siap Selem, Bawang Kesuna, Tuung Kuning dll; 2) berasal dari Jawa, biasa sering digubah menjadi lakon, misalnya: Satua Cupak Grantang, Jajar Pikatan, Bagus Umbara dll; dan 3) berasal dari Hindu, misalnya: Raamayaana, Mahaabhaarata, Tantri, dll.

  • Pralambang (= paribasa)

Paribasa ini banyak sekali jenisnya, misalnya: blabadan, sesonggan, sesenggakan, dll.

  • Palawakya

Palawakya adalah kakawin bebas akan tetapi waktu mengucapkannya memakai tembang. Bahasanya ada yang memakai Bahasa Jawa Kuna, Jawa Tengahan, dan kemudian setelah munculnya tarian Drama Gong lalu sering disalin memakai Bahasa Bali. Bahannya sering diambil dari parwa-parwa (contoh Adi Parwa), Smerti, Itihasa dll.

2.2 Kesusastraan Bali menurut Jaman

Kesusastraan Bali menurit jaman pada umumnya dbedakan atas: 1) kesusastraan Bali Purwa (= tradisional), dan 2) kesusastraan Bali Anyar (= modern).

  1. Kesusastraan Bali Purva

Kesusastraan Bali Purwa ialah kesusastraan yang telah diwarisi sejak jaman lampau dan lekat sekali kaitannya dengan Pustaka suci agama Hindu, misalnya: buku-buku Weda yang telah menjelma menjadi kesusastraan Nusantara Kuna diantaranya Kesusastraan Bali Purwa. Selanjutnya kesusastraan Bali Purwa itu kalau dilihat dari bentuknya dapat dibagi menjadi tiga bagian sebagai tersebut di muka, yaitu: tembang, gancaran dan palawakya.

  • Kesusastraan Bali Anyar

Kesusastraan Bali Anyar ialah kesusastraan Bali yang telah mendapat pengaruh dari kesusastraan Nasional, yaitu Kesusastraan Indonesia. Kesusastraan Bali Anyar ini dapat dibedakan berupa: 1) satua bawak (= cerpen), 2) satua dawa (= novel), 3) puisi Bali Anyar, dan 4) Lelampahan (= drama).

2.3 Kesusastraan Bali menurut cara Menuturkan

Cara menuturkan kesusastraan Bali ada dua, yaitu: sastra gantian (sastra lisan, rakyat) yang bentuknya berupa tembang dan gancaran, dan sastra sesuratan (sastra tulisan).

2.4 Kesusastraan Bali menurut Bahasanya

Kesusastraan Bali menurut bahasanya pada umumnya tertuang pada lontar. Kesusastraan Bali menurut bahasanya terdapat pada tembang-tembang, yaitu:

a. Lontar Geguritan

Lontar geguritan ini pada umumnya memakai tembang macepat dan bahasanya memakai Bahasa Bali Kepara (Bali umum). Walaupun demikian, terdapat pula Bahasa Bali Kuna (Kawi), Tengahan, Bahasa Sanskerta, tetapi yang terbanyak adalah Bahasa Bali Kepara. Umpamanya:

NoNama Lontar GeguritanTembang/puh yang digunakan
1JayapranaGinada
2BasurGianda
3Bagus UmbaraGinada
4Pakang RarasGinada
5SampikCampur
6MegantakaCampur
7GunawatiCampur
8I DurmaCampur
9BungklingCampur
10SalyaCampur

b. Kidung

Tembangnya ada yang memakai macepat dan ada yang memakai tembang kidung sejati. Bahasanya adalah merupakan bahasa campuran antara Bahasa Bali Kuna (wayah), Bahasa Jawa Tengahan, dan bahasa Kawi. Tetapi yang terbanyak adalah Bahasa Tengahan.

  1. Kidung yang memakai tembang macepat, umpanya:
NoNama kidung
1Kidung Rangga Lawe
2Kidung Pamancangah Dalem
3Kidung Sudamala
4Kidung Cowak
5Kidung Raden Putra
6Kidung Raden Saputra
7Kidung Sri Tanjung
8Kidung Ambarawa
9Kidung Kaki Tua
10Kidung Amad Muhamad
  • Kidung yang memakai Kidung sejati, umpama:
NoNama Kidung
1Malat
2Wargasari
3Wasengsari
4Alis-alis Ijo
5Tantri
  • Kakawin

Temabangnya memakai wirama, memakai system Hindu (guru-lagu). Bahasanya memakai Bahasa Kawi, umpama:

NoNama Kekawin
1Ramayana
2Barata Yuda
3Arjuna Wiwaha
4Smaradahana
5Sutasoma
6Bomakawia
7Gatotkacasraya
8Wrettasancaya
9Negara Kertagama
10Kresnayana

DHARMAGITA

3.1 Pengertian Dharmagita  

Dharmagita sangat penting artinya dalam kehidupan umat Hindu dan dharmagita berperan penting dalam kehidupan beragama umat Hindu, karena setiap pemujaan selalu disertakan dengan gita. Upacara yadnya yang dilakukan oleh umat Hindu harus disertakan dengan gita, selain syarat lainnya seperti: daksina, mantra, sraddha, lascarya dan anaseva.

Perkataan Dharmagīta berasal dari kata Dharma dan Gita. Kata Dharma berarti kebenaran yang abadi atau disebut agama, yaitu ajaran kebenaran yang kekal dan abadi bersumberkan pada kitab suci Veda yang meliputi: Tattwa, Susila dan Upacara. Sedang Gita itu sendiri berarti nyanyian atau lagu-lagu. Jadi Dharmagīta berarti nyanyian atau lagu-lagu suci yang di dalamnya terkandung ajaran keagamaan.

3.2 Fungsi Dharmagīta

Ada beberapa fungsi Dharmagīta adalah sebagai berikut :

1)  Untuk memuja Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) sebagai sumber dari semua yang ada, sumber alam beserta isinya, sumber kebenaran dan kemakmuran. Dalam Rgveda disebutkan sebagai berikut:

ā viśvādevam satpatim sūktair adyā

vrnīmahe, satyasavam savitāram.

(Rg Veda V.82.7)

Artinya :

Ya Tuhan Yang Maha Agung dengan kidung kami memuja-Mu. Tuhan sebagai sumber kebajikan, Engkau maha cemerlang yang memiliki takdir yang maha benar dan bijaksana.

2) Sebagai  salah  satu  media  tradisional  yang  sangat  efektif untuk memasyarakatkan ajaran-ajaran agama, mengingat Dharmagīta adalah merupakan nyanyian suci yang di dalamnya memuat ajaran agama sebagai media untuk menyampaikan ajaran agama. Materinya dijalani sedemikian rupa dalam bentuk lagu atau irama yang indah dan menawan, mempesona bagi pembaca dan pendengar.

3)  Sebagai   motivasi   umat   Hindu   untuk   lebih   mencintai   agamanya, sehingga menimbulkan keinginan untuk mempelajari, menghayati dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari dijadikan pegangan di dalam berpikir, berbicara dan bertindak sehingga dapat meningkatkan kesucian rohani dan akhirnya mencapai kebahagiaan yang disebut “Moksartam Jagadhita  ya ca iti Dharma

3.3 Tujuan  Dharmagīta

Sebagai media tradisional yang sangat efektif, maka tujuan dari Dharmagīta adalah sebagai berikut :

1) Untuk memasyarakatkan ajaran agama kesenian, yaitu seni suara sehingga mendorong kita lebih mencintai agama dengan memahami dan menghayati serta mengamalkan ajaran-ajarannya,

2) Untuk  memberikan  sentuhan  rasa  kesucian,  kekhidmatan  serta kekhususkan dalam pelaksanaan upacara yajña

3) Untuk memberikan dorongan kepada kita untuk menghargai karya seni, lebih mencintai kebudayaan warisan leluhur berupa seni sastra, selanjutnya timbul keinginan untuk menjaga, memelihara, melestarikan, dan mengembangkannya.

3.4  Makna dan fungsi Dharmagīta menurut ajaran Weda dan Susastra Hindu

Makna dan fungsi Dharmagīta dapat kita jumpai dalam kitab suci Veda dan juga dalam beberapa Susastra Hindu lainnya antara lain:

1)  Rg Veda Samhitā

Dalam kitab suci Rg Veda  disebutkan bahwa dalam pelaksanaan yajña harus ada persembahan, orang yang menata pelaksanaan yajña, pemimpin upacara dan nyanyian-nyanyian pujian.

Dalam Rgveda , X. 71.11, disebutkan bahwa :

rcām tvah poşamāste pupuşvān

gāyatram tvo gāyati śakvarīşu,

brahma tvo vadati jātavidyām

yajñasya mātrām vi mimīta u tvah

Artinya:

“Seorang bertugas mengucapkan sloka-sloka veda, seorang melakukan nyanyian-nyanyian pujian dalam sakwari, seorang lagi yang mempunyai pengetahuan veda, mengajarkan isi veda, dan yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (yajña)”.

2)  Kitab Yajur Weda

Kitab suci Yajur Weda menyerukan semoga para ilmuwan menyanyikan lagu pujian kepada Tuhan.

3)  Atharwa Weda

Dalam kitab Atarwa Weda dijelaskan bahwa kidung suci dilagukan untuk memohon kesempurnaan kehadapan Dewa Waruna.

4)  Brahad Aryanaka Upanisad

Brahad Aryanaka Upanisad menyebutkan bahwa kidung suci yang dilagukan dalam persembahyangan/pelaksanaan yajña dapat menumpas kejahatan. Selanjutnya dijelaskan bahwa doa persembahyangan/kidung suci kekuatannya ada dalam mulut yang disebut Ayasya Anggirasa, karena merupakan inti sari rasa dari tubuh. Mereka yang mengetahui rahasia ini dijauhkan dari kematian dan dapat nantinya menuju Sorga.

3.5 Pembagian Dharmagita

Dharmagita dapat dibagi dalam beberapa jenis, dan pembagian dharmagita ke dalam jenis-jenis yang berbeda karena pemberian dharmagita tersebut disesuaikan dengan umur yang diberikan dharmagita. Adapun jenis-jenis dharmagita tersebut, antara lain:

1)  Gegendingan

Gegendingan itu merupakan suatu kalimat/kumpulan kalimat yang dinyanyikan dan isinya pada umumnya pendek-pendek.

Gegendingan itu dibagi menjadi 3 jenis yaitu :

  1. Gending rare, Gending rare ini dinyanyikan oleh anak-anak pada waktu bermain-main atau bersenda gurau dengan kawan-kawannya. Tembang ini mempunyai system berbeda-beda, umpama: Jaring guling, Juru pencar, Jenggot uban, Made cenik dan mati delod pasih
  1. Gending jejangeran, Gending jejangeran ini sama dengan gending rare dan biasanya dinyanyikan bersama-sama saling sahut antara kelompok satu dengan kelompok yang lain. Ada yang menjadi kecak (kelompok laki-laki). Lama kelamaan gending jejangeran ini dinyanyikan juga oleh orang-orang dewasa didalam tontonan dengan jalan memberi variasi gerak-gerik atau variasi lakon (lelampahan) umpama : Putri Ayu, Siap Sangkur dan Majejangeran
  2. Gending Sanghyang, Gending Sanghyang itu dinyanyikan untuk menurunkan (nedunang) Sanghyang-Sanghyang, umpama Sanghyang Dedari, Sanghyang memedi. Ortenan tembang-tembang ini sama dengan gending-gending rare lainnya, tidak dipakai karang mengarang ceritera sebagai pada tembang-tembang macepat, umpama : Puspa Panganjali, Kukus Arum dan Suaran Kumbang

2) Macepat (Geguritan)

Macepat sangat popular di Bali dan Jawa. Kalau di Bali disebut macepat, maka di Jawa disebut Macopat. Kata macepat berasal dari kata maca dan pat, yaitu dibaca 4 – 4. Hal itu dikarenakan karena membacanya dipotong 4 – 4. Akan tetapi tidak selalu demikian. Baris-baris yang lain ada yang dipotong 3 – 2 bagi yang satu baris jumlah suku katanya 5, dan ada yang 3 -3 bila satu barisnya 6 suku kata. Sedangkan menurut Priyono, berpendapat macapat dari mancapat. Manca dari panca yakni keblat lima atau lima penjuru. Selanjutnya ada yang berpendapat bahwa macapat: manca dari panca, pat dari arpat, yang berarti kumpulan lima perkara, yaitu: 1) legena, 2) wulu, 3) suku, 4) taling, dan 5) taling tarung. Pepet tidak dipakai dalam dong-ding tembang macapat. Prof Slametmulyana berpendapat berbeda, dengan mengatakan bahwa berasal dari kata macepat, dimana macepat itu membacanya harus cepat.

Di Bali Macepat sering juga disebut pupuh yang dibentuk berdasarkan kaidah prosadi padalingsa. Pada artinya banyak bilangan suku kata dalam satu baris (carik), lingsa artinya bunyi akhir masing-masing baris dalam satu bait (pupuh). Untuk lebih jelasnya padalingsa itu mengandung 3 (tiga) hal yaitu:

  1. Jumlah suku kata dalam setiap baris (carik)
  2. jumlah baris (carik) untuk setiap bait (pada)
  3. Bunyi akhir tiap-tiap baris

Secara teknis untuk menyanyikan pupuh (macepat) pengambilan suara biasanya di ujung lidah. Dengan posisi pengambilan suara seperti itu suara menjadi ngranasika, ini sangat memudahkan menciptakan gregel dan wewiletan/cengkok. Menyanyikan pupuh dengan wewiletan, agar mampu mengolah suara menjadi “Engkal-engkalan” atau ngengkal (istilah di Bali)

Ada beberapa hal tentang macepat antara lain:

1)   Fungsi/karakter dari masing-masing pupuh (macepat), adalah sebagai berikut:

  1. Mijil, wataknya melahirkan perasaan. Sepatutnya untuk menguraikan nasihat, tetapi dapat juga digubah untuk orang mabuk asmara.
  2. Pucung wataknya kendor, tanpa perasaan yang memuncak. Sepatutnya untuk cerita yang seenaknya, tanpa kesungguhan. Tetapi ada juga Pucung untuk ajaran yang dalam hal ini untuk memperingankan caranya saja.
  3. Maskumambang, wataknya nelangsa sedih/merana. Sepatutnya untuk melahirkan perasaan sedih, hati yang merana atau menangis.
  4. Ginada, melukiskan kesedihan, merana atau kecewa.
  5. Kinanti (Ginanti), senang, kasih cinta. Sepatutnya untuk menguraikan ajaran, filsafat, cerita yang bersuasana asmara, keadaan mabuk cinta.
  6. Semarandana (Asmarandana), wataknya memikat hati, sedih, kesedihan karena asmara. Sepatutnya untuk menceritakan cerita asmara.
  7. Sinom, wataknya ramah tamah, meresap sedap. Patutnya untuk menyampaikan amanat, nasihat atau bercakap-cakap secara sahabat.
  8. Durma, wataknya keras, bengis, marah. Sepatutnya untuk melukiskan perasaan marah atau untuk cerita perang, saling menantang dan sebagainya.
  9. Pangkur, wataknya perasaan hati memuncak. Sepatutnya untuk cerita mengandung maksud kesungguhan. Jika nasihat yang bersungguh-sungguh, jika mabuk asmara sampai puncaknya.
  10. Dandanggula, wataknya halus lemas, umumnya untuk melahirkan sesuatu ajaran, berkasih-kasihan, juga untuk penutup suatu karangan.

Menurut Mardjawiraga mengatakan bahwa ada tembang macapat yang berasal dari tembang tengahan, yaitu: 1) Juru Demung, 2) Balabak, 3) Gambuh, dan 4) Megatruh.

  • Kidung

Bentuk nyanyian kidung (kekidungan) dapat dikenal pada bait permulaannya yang memakai bentuk “kawitan” dua bait. Kemudian menyusul pemawak (nyanyian pendek) dua bait, penawa (nyanyian panjang) dua bait, pemawak dua bait, penawa dua bait, demikian seterusnya sampai pada satu bab cerita, kembali lagi “kawitan” untuk bab kedua. Bentuk nyanyian kidung pada tiap-tiap baitnya memakai juga aturan “padalingsa” namun tiap-tiap baitnya tidak memakai carik (koma) sebagaimana nyanyian pupuh, sebab tembang atau irama nyanyian kidung itu berjalan terus perlahan-lahan, tidak berhenti pada waktu mengenai lingsa.

Secara teknis untuk menyanyikan kidung yang biasanya dinyanyikan berkelompok, pengambilan suara pada tengah-tengah lidah dan reng atau gema kedalam. Yang paling penting dalam menyanyikan kidung ini adalah bersamaan (kelompok) dengan nada suara ngumbang ngisep atau ngaes nguncab yaitu alunan irama yang dapat menciptakan suara magis. Biasanya kidung itu pada umumnya memakai bahasa jawa tengahan, Jawa Kuno (Kawi), bahasa Bali tengahan atau ada juga memakai bahasa Bali lumrah.

Ada beberapa tembang yang dimasukkan kedalam sekar madya (kidung) seperti: Bramara ngisep sari, Walinge, Sidapaksa, Wilet mayure dan lain-lain. Pada umumnya bahasa yang digunakan dalam pupuh tersebut memakai bahasa Jawa tengahan, Jawa kuno (Kawi) dan Bali tengahan, dan ada juga yang memakai bahasa Bali-kawi yaitu bahasa Bali bercampur dengan bahasa kawi.

Menurut Tinggen, ada tiga contoh kidung yang berbeda-beda, yaitu:

  1. Adri (kidung tidak sebenarnya)
  2. Wargasari (memakai kawitan)
  3. Tantri (carik bawak, carik dawa)
  • Kekawin (Wirama)

Kekawin artinya syair berbahasa Jawa Kuna (kawi), yang memakai metrum India. Hal yang paling esensial dalam aturan metrum India ini adalah guru laghu.

 Wirama sering juga disebut Sekar Agung, sekar ageng atau tembang Gede. Kalau sekar alit sering kita jumpai penggunaannya dalam seni sastra yang berbentuk geguritan, sekar madya kita jumpai dalam seni sastra yang berbentuk kekidungan, sedangkan wirama digunakan dalam seni sastra yang umum disebut kekawin.

Jadi wirama itu adalah sejenis tembang (pupuh) yang kita temui dalam lontar-lontar kakawin seperti kakawin Ramayana, Bharata Yuda, Arjuna Wiwaha, Suta Soma, Boma dan lain-lain. Wirama jumlahnya amat banyak, ragamnya beraneka macam dan namanya berbeda-beda. Wirama atau sekar Agung mempunyai ciri-ciri dan aturan khusus yang tidak dimiliki oleh jenis tembang lainnya. Seperti kita ketahui bahwa Sekar alit mempunyai aturan tersendiri seperti ketentuan jumlah baris atau kalimat dalam satu carik, labuh suara (pada lingsa) pada akhir kalimat, dan jumlah suku kata pada setiap baris, maka pada Wirama Kakawin kita akan jumpai persyaratan atau cirri-ciri pada umumnya sebagai berikut:

  1. Pada umumnya terdiri dari 4 baris kalimat, kecuali Rahi tiga terdiri dari 3 baris.
    1. Tiap-tiap baris kalimat, mempunyai sejumlah suku kata tertentu
    1. Di ikat oleh aturan guru/lagu dengan komposisi guru lagu yang teratur
    1. Suku kata terakhir boleh guru dan juga boleh lagu.

Setiap jenis wirama, memiliki komposisi guru lagu tertentu, demikian juga jumlah suku kat yang dimiliki tertentu pula. Dengan adanya perbedaan komposisi guru lagu, jumlah guru dan suku kata, maka hal inilah yang menunjukkan perbedaan nama wirama, jenis wirama atau kelompok kadangnya. Akan tetapi ada kekawin yang tidak memenuhi keempat persyaratan tersebut di atas, yaitu Rahi Tiga dan Seronca. Rahi Tiga karena jumlah barisnya hanya 3 baris, sedangkan Seronca adalah letak guru lagunya tidak sama begitu juga guru wilangnya tidak sama.

  • Phalawakya

Istilah Phalawakya digunakan untuk pembacaan teks-teks prosa (Parwa) yang kemudian diterjemahkan. Istilah phalawakya tidak jelas dari mana asalnya. Apakah berasal dari kata phala dan wakya yang kalau makna masing-masing unsur kelompok kata tersebut berarti “buah dan kata” inipun tidak jelas. Kalau memang phalawakya ini berasal dari kata phala dan wakya maka yang didukungnya adalah kata-kata atau ucapan yang berpahala atau berhasil. Namun yang jelas phalawakya ini dimaksudkan untuk nama suatu kegiatan yaitu pembacaan teks-teks  bahasa kawi (jawa kuna) yang berbentuk prosa (parwa). Dalam kaitannya dengan dengan kegiatan keagamaan Phalawakya ini dibacakan pada upacara Pitra Yadnya yaitu yang disebut Mamutru. Teks yang dibaca adalah teks Adi Parwa atau Putru. Inilah yang melatarbelakangi mengapa Phalawakya ini merupakan lingkup Dharmagīta.

  • Sloka

Pengertian Sloka dalam tradisi di Bali adalah bait-bait mantra yang terdapat dalam buku suci Weda maupun Upanisad. Sloka ini biasanya dipakai pada saat-saat mengiringi doa upacara oleh para sulinggih atau persembahyangan umat. Secara teknis pembacaan bait-bait sloka ialah dengan irama yang khas (reng mantra). Bahasa yang dipakai adalah bahasa Sansekerta. Pembacaan teks sloka bait-bait dari Weda yang oleh pendeta di Bali umumnya memakai 3 cara pengucapan yaitu ada yang diucapkan tanpa tembang, ada mempegunakan reng Çardhūla  dan ada juga yang mengucapkan dengan reng sronca.

Untuk lebih memperluas pengetahuan kita tentang Sloka-sloka yang ada dalam kitab suci Weda baik juga kalau kita ketahui  berapa jumlah suku kata dalam satu baris yang ditetapkan kalau membentuk Sloka-sloka (Warjana, 1996:84) seperti:

  1. Sloka gayatri terdiri dari 8 suku kata dalam baris-barisnya
  2. Sloka Anuṣṭubh terdiri dari 8 suku kata setiap barisnya yang empat. Yang termasuk dalam Anuṣṭubh ini adalah sloka-sloka yang bernama: Sloka Gajahgātih, Pramānikā, Widyumālā, Samānikā.
  3. Sloka Wråhtī terdiri atas 9 suku kata pada setiap barisnya. Yang termasuk dalam Wråhtī ini adalah sloka-sloka yang bernama: Sloka Bhujanggaśiśubhratā, Bujanggatā, Manimadhyam.
  4. Sloka Pangktih terdiri atas 10 suku kata pada setiap barisnya. Yang termasuk dalam Pangktih ini adalah sloka-sloka yang bernama: Twaritagatih, Matta, Rakmawati.
  5. Sloka Triṣṭubh terdiri atas 11 suku kata pada setiap barisnya. Yang termasuk dalam Triṣṭubh ini adalah sloka-sloka yang bernama : Indrawajra, Upendawajra, Dodhakam, Bhramarawilasita, Rathodata, salinī, Swāgatā
  6. Sloka Jagatī terdiri atas 12 suku kata pada setiap barisnya. Yang termasuk dalam Jagatī adalah sloka-sloka yang bernama; Wangśasthawila, Indrawangśa, Candrawartamā, Jaladharamālā, Tāmarasam, Totakam, Pramitāksarā,  Bhujanggaprayatam, Manimālā, Malati, Wiswadewī.

3.6 Sasaran Pembinaan Dharmagita

Apabila dharmagita dijadikan media pembinaan, maka jenis dharmagitanya harus disesuaikan dengan usia yang akan dibina. Pembinaan dharmagita ditujukan kepada masyarakat Hindu di Jakarta, dengan tujuan untuk pembiasaan dharmagita kembali sehingga dapat dijadikan pedoman atau media dalam mendidik karakter. Adapun yang menjadi sasaran pembinaan dharmagita ini adalah:

  1. Anak usia dini
  2. Remaja
  3. Orang tua

Materi Dharmagita

4.1.1 Gending Rare

1) Ketog-ketog bumbung

Ketog-ketogang bungbung

(menghentak-hentakkan ke lantai sebuah potongan bambu)

Asopan enggal landung

(satu suap cepat tinggi)

Ketog-ketogang bide

(menghentak-hentakkan ke lantai anyaman bambu yang berisi rangka)

Asopan enggal gede

(satu suap cepat besar)

  • Juru Pencar

Juru pencar

(tukang jaring ikan),

Juru pencar-juru pencar

(tukang jaring ikan atau nelayan),

jalan jani luas ngejuk ebe

(mari sekarang pergi menangkap ikan),

ebe gede-gede

(ikan besar-besar),

ebe gede-gede di soane ajaka liu

(ikan besar-besar di laut banyak).

  • Putri Cening Ayu

Putri cening ayu

(anak cantik),

Ngijeng cening jumah

(tinggallah di rumah),

Meme luas malu

(ibu pergi terlebih dahulu),

Ke peken mablanja

(ke pasar berbelanja),

Apang ada darang  nasi,

(suapa ada lauk untuk makan).

Meme tiang ngiring,

(ibu saya menurut/bersedia)

Nongos ngijeng jumah,

(tinggal untuk menjaga rumah)

Sambilang me punpun,

(sambil memasak)

Ajak tiang dadwe,

(ajak saya berdua)

Dimulihne dong gap-gapin.

(pada saat pulang tolong oleh-oleh)

  • Made Bawa

Ne ada murid kumal gati

(ini ada seorang murid kotor sekali)

Madan Made Bawa

(bernama Made Bawa)

tusing taen ngumbah baju jaler),

(tidak pernahmencuci baju celana

gerip potlot, Poglo sai-sai

(alas untuk menulis dari batu, pensil selalu tumpul)

ento awanane

(itulah sebabnya)

dukaina ken pak guru

(dimarahi oleh pak guru)

  • Merah Putih

Merah putih benderan tityange

(merah putih bendera saya)

Berkibaran di langite terang galang

(berkibar di langit yang cerah)

Nika lambang jiwan rakyat Indonesia

(itulah lambang jiwa rakyat Indonesia)

Merah berani putih berartine suci

(merah berani putih berarti suci

Pusaka adil leluhur jaya sakti

(pusaka adil leluhur jaya sakti)

  • Mara bangun (baru bangun)

Mara bangun

(baru bangun)

Mandus tur masugi

(mandi dan cuci muka)

Gigi apang kedas

(gigi supaya bersih)

Lima batis kuping lan kukune

(tangan, kaki, kuping dan hidung)

Meseh baju laut nunas nasi

(ganti baju terus makan)

Tumuli mepamit

(selanjutnya minta ijin)

Mepamit mejalan masuk

(minta ijin untuk pergi ke sekolah)

  • Meong-meong

Meong-meong alih ja bikule

(kucing-kucing cari dong tikusnya)

Bikul gede-gede buin mokoh-mokoh

(tikus besar-besar lagipula gemuk-gemuk)

Kereng pesan ngarusuhin

(sering sekali membuat rusuh)

  • Ceroring Manggis

Ceroring manggis,

(duku dan manggis)

Buluan batun salak,

(rambutan dan biji salak)

Tak jempol-tak jempol

Nyen durine.

(siapa dibelakangnya).

  • Sekar alit (pupuh)
  • Pupuh Sinom

Sang brahmana lintang utama,

Ngemargyang yadnya sesai,

Meyadnya ring sang pendeta,

resi yadnya kawastanin,

Sane kanggen yadnya mangkin,

Vajasravasa sampun putus,

Nenten meduwe artha brana,

Pendeta katurang sampi,

Nanging lacur,

Sampine berag lan tua.

  • Pupuh Ginada

Naciketa kebawosang,

Ida nyingak sane mangkin,

Pemargin yayahnya, ne kemargiang yayahnya

Nika sami nenten patut

Meyadnya nenten lascarya

Ida gelis

Matur maring sang brahmana.

  • Pupuh Dandang

Swasti astu atur tityang mangkin,

ring pamyarsa,

Sane Mangkin tityang,

Jagi ngaturang gegitane,

Crita naciketa katur,

Pacang anggen nuntun mangkin,

Mlaksana ring merjapada,

Mangda uning iwang patut,

Sang Hyang Saraswati puja,

Katunasang,

Tityang wantah jatma nista,

Ledang ugi ngampurayang.

  • Pupuh Ginanti

Sang sarwa sane tumuwuh,

(sane mangkin malih kabawosan indik saluir sane hidup)

Ida Bhatara ne ngardi,

(wantah Ida Bhatara sane makardi maka sami punika)

Beburon lan tetanduran

(sarwa beburon kenten taler sarwa tetandurane)

Taler manusane sami,

(kenten malih manusane maka sami)

Malih maya pada nika,

(sapunika taler jagat maya niki)

Bhwana agung bhwana alit.

(nika kebawos bhuana agung lan bhuana alit, nah nika sami pekardin Ida Sang Hyang Widhi Wasa)

  • Pupuh Pangkur

Imanusa kabawosang,

Watek ipun, kabawos lintang tamak, /kabawos momo kalintang,

Tamak/momo maring artha brana,

Taler maring tahta,

Nika mawinan, artha ne patut kasuciang,

Antuk srana meyadnya,

Mangda nenten kari tamak/mangda momone ical.

  • Pupuh Mijil

Sing ja buung, iba lakar mati,

Maprang lawan ingong,

Macan mula manusa mangsane,

Ia I Dukuh manolih sabda aris,

Ih macan pitui,

Gung ujar marengsun.

  • Pupuh Smarandana

Apa kene manumadi,

Dadi jatma buka kene,

Setata menandang jengah,

Jejerone marasa enyag,

Sangsara olih i bulan,

Tusing pisan mangan minum,

Kanti berag di pedeman.

  • Pupuh Durma

Cai Durma, pianak bapa paling wayah,

Tumbuh cai kasih-asih,

Katinggalan biang,

Jumah cai apang melah,

Bapa luas nangun kerti,

Ka gunung alas,

Paidepan bapa mati.

  1. Pupuh Maskumambang

Kema laku,

Ditu ada gedong cenik,

Bersih wawu pragat,

Sang kalih raris ngeranjing,

Saget ngenah gegambaran.

  • Pupuh Pucung

Bibi anu,

Lamun payu luas mandus,

Antenge tekekang,

Yatnain ngaba masui,

Tiuk puntul,

Bawang anggon pasikepan.

DAFTAR PUSTAKA

Remen, I Ketut. 1982. Serba-serbi Wirama Kekawin. Denpasar:—-

Tingen, Nengah. 1982. Aneka sari Gending-Gending Bali. Denpasar:—

Warjana, I Nengah. 1996. Modul Dharmagita. Jakarta: Direktorat Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia.

Related posts

Leave a Comment