VISISTADVAITA

3.1 Riwayat Ramanuja

Ramanuja diperkirakan hidup pada tahn 1050-1137 Masehi . Beliau lahir di dekat Kanci, Perumbudur, Tamil, anak dari Asuri Kesava Somayajin dan Kantimati cucu dari Yamunacharya. Sejak kecil ia telah menunjukkan tanda-tanda kejeniusannya dalam pemikiran Vedanta, sehingga ia dikirim untuk mengikuti pelajaran Vedanta   kepada   seorang   guru   Advaita-Vedanta,   bernama   Yadvaprakasa.

Ramanuja merupakan tokoh Vedanta yang muncul setelah Śańkara, di mana ia mencoba memberi pemecahan yang berbeda dengan Śańkara terhadap pernyataan Upanisad tentang Brahman, Jiwa, dan alam semesta. Beliau menulis buku Sribhasya dan buku komentar mengenai Bhagavadgita. Alirannya disebut Visistādvaita yang terdiri dari kata Visista dan Advaita. Kata Visista berarti yang diterangkan oleh sifat-sifatNya. Ajaran Ramanuja  bersifat  qualivaid  monismenya  yang  artinya  monisme  yang  mempunyai bagian-bagian   di   dalamnya,   sedangkan   monismenya   Śańkara   menyatakan   bahwa Brahman adalah Esa dan tidak ada bagian-bagian di dalamnya. Visistadvaita merupakan sistem filsafat kuno, yang pada awalnya didirikan oleh Bhodayana dalam Vrtti-nya yang ditulis sekitar 400 tahun SM, yang uraiannya sama dengan uraian dari Ramanuja dalam menafsirkan Brahma Sūtra.

Śańkara dan Ramanuja adalah dua tokoh Vedanta yang sangat populer, tetapi memiliki pandangan yang berbeda mengenai Brahman, Jiwa dan alam semesta. Menurut Ramanuja Prakerti yang merupakan bagian Brahman benar-benar mengalami perubahan, sedangkan Śańkara berpendapat bahwa hanya Brahman yang ada dan tidak mengalami perubahan apapun. Apa yang kita lihat berubah hanya kelihatannya saja demikian, namun sebenarnya perubahan itu tidak ada.

Dalam sistem filsafat Vedanta dikenal dua jenis perubahan yaitu, Wiwartawada dan Parinamawada. Wiwartawada ialah sesuatu yang kelihatannya saja berubah, sesungguhnya perubahan itu tidak ada. Contohnya, terlihatnya seutas tali sebagai seekor ular. Parinamawada ialah sesuatu yang benar-benar mengalami perubahan bukan merupakan sesuatu yang semu. Contohnya, perubahan kelapa menjadi minyak.

Ramanuja berpendapat bahwa itu benar-benar bersifat Parinamawada, sedangkan Śańkara menyatakan bahwa perubahan itu bersifat Wiwartawada. Menurut kitab-kitab Upanisad alam semesta ini merupakan suatu evolusi dari Brahman karena adanya maya. Maya  disamakan  artinya  dengan  Prakerti,  kekuatan,  Sakti,  Pradana,  dan  sebagainya. Dalam prakerti ada tiga guna yaitu: Sattwam, Rajas, dan Tamas. Prakerti pada Vedanta

tergantung   pada   Tuhan,   tetapi   Prakerti   pada   Samkhya   bebas   (tanpa   ada   yang menciptakan).  Tentang keberadaan  alam  semesta Śańkara tetap  berpegang pada teori Vivartavada, yaitu: sesungguhnya alam semesta ini adalah Maya, keberadaannya dari pandangan  manusia  adalah  karena  Avidya.  Sedangkan  Ramanuja  menyatakan  bahwa alam semesta ini berasal dari Brahman dan benar-benar nyata bukan suatu hayalan.

Berdasarkan teori Vivartavada dan Parinamavada maka maya itu dapat dipandang dari dua sudut yang berbeda, yaitu:

1.   Maya adalah sebab dari keberadaan alam semesta,

2.   Maya adalah kekuatan yang dimiliki oleh Brahman, tetapi maya tidak dapat mempengaruhi Brahman.

3.2 Metafisika Visistādvaita Vedanta

Dalam metafisika Visistadvaita ini akan ditampilkan dua pokok bahasan yaitu, tentang pandangan Visistadvaita terhadap Tuhan dan alam semesta. Menurut Śrī Śańkara, segala sifat atau perwujudan itu tidak nyata atau sementara, yang merupakan hasil dari Avidyā atau kegelapan, sedangkan menurut Ramanuja, atribut tersebut nyata dan tetap, tetapi tergantung pada pengendalian dari satu Brahman. Tuhan dapat menjadi satu walaupun adanya atribut-atribut, karena mereka tak dapat terjadi dengan sendirinya dan mereka bukan merupakan kesatuan yang bebas yang benar-benar ada. Mereka merupakan prakara atau cara-cara, seva atau tambahan dan niyama atau aspek pengendali dari satu Brahman.

Aliran bhakti memuja Tuhan yang berpribadi, di mana para pemujanya mengembangkan rasa bhakti kepada Vāsudeva atau Nārāyana dan mereka yang memuja Tuhan yang berpribadi itu disebut Bhagavata dan mereka memiliki kitab suci sendiri yang disebut  Pañcaratra  Āgama  yang  dianggapnya  sama  dengan  upanisad.

3.2.1 Pandangan Visistadvaita Tentang Adanya Tuhan

Filsafat Visistadvaita merupakan Vaisnavaisme,  yang mengakui kejamakan, di mana Brahman atau Nārāyana dari Ramanuja hidup dalam kejamakan bentuk sebagai roh- roh (cit) dan materi (acit). Brahman menurut Visistadvaita dipandang realitas tertinggi dan bersifat sagunam atau imanen. Brahmanlah yang menjadi asal mula dari segala sesuatu, tanpa Brahman jiwa dan alam semesta tidak akan ada. Brahman  adalah  jiwa  alam  semesta  dan  sekaligus  pula  berada  dalam  jiwa  manusia.

Ketiganya dapat dilukiskan sebagai dua lingkaran yang memiliki titik pusat yang satu. Pusatnya adalah Brahman sedangkan jiwa adalah lingkaran yang kecil dan alam semesta sebagai lingkaran yang lebih besar yang berada di luar. Dari penggambaran ini dapat dikemukakan bahwa Brahman, jiwa dan alam semesta adalah sama-sama nyata, namun tidak berada pada tingkat yang sama. Kesimpulannya adalah bahwa Brahman, jiwa, dan alam semesta memang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan sekalipun ketiganya sama- sama  kekal.  Dalam  hal  ini  penekanannya  terletak  pada  berbeda,  tetapi  berhubungan sangat erat sekali.

Dalam  sistem  Advaita  menekankan  pada  non  dualisme  (monisme),  karena Brahman adalah tunggal, tetapi dalam sistem Visistadvaita Brahman yang satu ini dijelaskan atau ditentukan oleh sifat-sifat-Nya. Brahman yang satu itu juga menjelma dalam jiwa dan juga dalam alam semesta.

Semua sekolah-sekolah pemikiran yang menamakan dirinya sebagai monisme setuju bahwa The Ultimate Reality hanya satu, tetapi mereka masing-masing jauh berbeda satu sama lainnya ketika menjelaskan pengertian dari apa yang dimaksud dengan ”Reality itu satu”. Problem yang mendasar dalam pemikiran monisme adalah dalam menjelaskan bahwa dunia  ini  sifatnya plural  dan  begitu  pula roh jumlahnya tidak  terbatas,  maka pertanyaan yang harus mereka jawab adalah: ”Mengapa yang satu itu menjadi banyak dan bagaimana hubungan antara satu Realitas dengan alam semesta yang terdiri dari materi (jasmani) dan roh (rohani)”?.

Ada dua jawaban di dalam memecahkan problem metafisika ini, antara lain: Pertama: mereka yang menganut pandangan monisme absolut seperti yang diajarkan oleh Śańkara, bahwa alam semesta tidak ultimitely real, tapi hanya fenomena, penampakan dari realitas. Ultimate Reality pada dasarnya adalah satu dan tidak ada perbedaan, baik itu secara internal maupun secara eksternal. Dengan demikian suatu identitas yang absolut akan bertentangan dengan ultimate reality dari roh individual dan alam semesta. Monisme seperti  ini  diajarkan  oleh  Śańkara  yang  terkenal  dengan  Advaita  Vedanta.

Kedua: Pandangan yang diberikan Ramanuja, bahwa Ultimate Reality adalah satu, tapi tidak absolut. Suatu Being yang tak berubah dan bersifat transedental tidak dapat kita bayangkan dan juga secara logis tidak dapat dipertahankan. Kita harus menerima realitas alam semesta yang mengelilingi kita dan juga roh-roh individual yang mengalami dunia ini.

Ramanuja mengajarkan tiga entitas:

1.   Materi (acit)

2.   Roh (cit)

3.   Tuhan (Isvara)

Berdasarkan atas prinsip-prinsip hubungan organis adalah sebagai satu kesatuan yang organis. Īśvara sebagai pencipta alam semesta bereksistensi secara imanen dan juga merupakan the inner self dari segala sesuatu di alam semesta ini dan ia bertugas mengontrol cit (roh) dan acit (materi). Dengan demikian cit dan acit tergantung dari Īśvara dalam keberadaannya dan secara organis berhubungan dengan Īśvara. Begitu pula halnya badan jasmani berhubungan dengan roh yang ada di dalamnya secara organis pula. Dengan  demikian  kesatuan  dari  realitas  dimengerti  tidak  dalam  pengertian  identitas absolut   tetapi   sebagai   suatu   kesatuan   organis.   Brahman   sendiri   secara   organis berhubungan dengan seluruh cit dan acit, merupakan satu Ultimite Reality. Dengan demikian ada suatu perbedaan  yang mendasar antara  Īśvara dengan hal-hal  yang riil lainnya dan juga antara roh-roh individual dan materi. The Ultimate Reality dinyatakan sebagai satu karena sebagai satu kesatuan organis ia adalah satu. Dalam pengertian ini sistem Vedanta yang diajarkan oleh Ramanuja dinamakan sebagai Visistadvaita yang artinya adalah satu dalam kesatuan organis.

Ramanuja menginterpretasikan Vedanta sebagai berikut: Tuhan adalah satu- satunya Realitas. Di dalam diri-Nya eksis bagian-bagian objek-objek material tak berkesadaran (acit), dan demikian pula banyak roh berkesadaran (cit). Tuhan mempunyai semua sifat-sifat baik, seperti Maha Tahu, Maha Kuasa. Seperti laba-laba mengeluarkan benang dari dalam tubuhnya, demikian Tuhan menciptakan dunia objek-objek material dari materi (acit) yang secara eternal eksis di dalam-Nya. Roh-roh dipahami sebagai substansi secara tak terbatas kecil yang juga eksis secara eternal. Mereka sesuai hakikatnya, sadar dan berpenerangan sendiri. Setiap roh memiliki tubuh material sesuai dengan karmanya.

b)  Teori Aprthak-Siddhi

Menurut teori ini, hubungan substansi dan sifat-sifatnya tidak dapat dipisahkan. Ramanuja menjelaskan pandangannya itu dengan mempergunakan ”cara orang memakai bahasa” pada umumnya. Sebagai contoh, mawar adalah merah. Mawar adalah substansi, sedangkan merah adalah suatu sifat. Jadi keduanya tidak sama, akan tetapi kita menguraikan  seolah-olah  keduanya  sama,  yaitu  mawar  adalah  merah.  Secara  inheren  di  dalam  substansi,  sifat-sifat  adalah  suatu  bagian  yang integral dari substansi itu sendiri. Substansi merupakan dasar dari sifat-sifat dan ia tidak tergantung dari sifat-sifat itu dalam eksistensinya. Walaupun demikian ia membutuhkan sifat karena svarupa dari suatu entitas dapat diketahui hanya lewat sifat-sifatnya yang esensial. Menurut Visistadvaita suatu svarupa yang tanpa sifat-sifat adalah bukan suatu entitas. Hubungan aprthak-siddhi tidak hanya dipergunakan untuk menjelaskan hubungan antara substansi dengan sifat, tetapi juga menjelaskan hubungan antara substansi dengan substansi. Dengan cara penjelasan yang sama badan jasmani (sarira) dan roh yang ada di dalamnya (atman), dua-duanya adalah substansi (dravya), yang terpisah. Sarira (badan) berhubungan dengan suatu roh adalah suatu organisme hidup artinya bahwa badan tidak dapat eksis sendiri tanpa dukungan roh atau jiwa. Contoh yang lain: ”Aku seorang laki-laki”. Aku adalah jiwa yang hidup, sedangkan laki-laki adalah fana. Oleh karena itu keduanya tidak sama, namun kita identikkan  juga. Hubungan yang terdpat pada kedua contoh di atas diberlakukan pada: (a) substansi dan sifat, (b) substansi rohani dan badan (jiwa dan tubuh). Salah satu dari kedua unsur perumpamaan itu tergantung kepada yang lain. Keduanya memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan yang tidak dapat dipisahkan inilah yang menghubungkan Brahman dengan jiwa dan Brahman dengan alam semesta. Baik jiwa dan alam semesta tidak dapat digambarkan lepas dari Brahman.

Menurut Ramanuja walaupun Tuhan adalah satu-satunya Realitas dan tidak ada lagi di luar Tuhan, namun di dalam Tuhan terdapat banyak realitas-realitas lainnya. Penciptaan dunia dan obyek-obyek yang terciptakan semuanya riil seperti Tuhan. Oleh karena itu, ia tidak monisme tak bersifat, tetapi monisme bersifat oleh kehadiran banyak bagian (Visistadvaita). Tuhan memiliki roh-roh sadar dan materi tak berkesadaran adalah satu-satunya  Realitas.  Keduanya  riil  baik  obyek-obyek  material  maupun  roh  atau Brahman.

c)  Konsep Hubungan Badan dan Roh

Badan jasmani dalam eksistensinya tergantung dari roh, artinya badan dapat ditinggalkan oleh roh. Badan sepenuhnya dikontrol oleh roh. Eksistensinya sepenuhnya dipergunakan oleh sang diri (the self), oleh karena hubungannya tidak dapat dipisahkan antara sang diri dengan  badan,  sehingga sangat  mungkin sekali  badan didukung dan dikontrol serta digunakan demi kepentingan sang diri. Berdasarkan atas teori hubungan antara badan dan roh, maka Visistadvaita menyatakan bahwa hubungan keseluruhan alam

semesta baik yang cit maupun acit sama halnya hubungan antara badan dan jiwa. Semua yang kekal dan tidak kekal ditentukan oleh badan dari Īśvara dalam pengertian teknis bahwa badan sepenuhnya tergantung dari roh dalam eksistensinya; sepenuhnya dikontrol oleh Īśvara dan mereka melayani tujuan dari The Supreme Being. Īśvara disebut Atma atau sariri karena ia merupakan dasar penunjang (adhara) untuk alam semesta. Ia adalah kontroler (niyanta) yang dipergunakan sesuai dengan tujuannya sendiri. Ada tiga konsep yang dipergunakan untuk menjelaskan secara luas hubungan-hubungan organic antara Brahman dan alam semesta baik cit maupun acit sebagai adhara-adheya (antara penunjang dan yang ditunjang); niyanta-niyama (antara kontroler dengan yang dikontrol); sesi-sesa (antara yang mempengaruhi dengan yang dipengaruhi).

Keberadaan Alam Semesta Menurut Visistadvaita Vedanta

Dalam  pernyataan  Upanisad  disebutkan  bahwa  alam  semesta  ini  berasal  dari Tuhan.  Ramanuja  mengikuti  pernyataan-pernyataan  Upanisad  itu,  dan  menyebutkan bahwa di dalam Brahman yang Esa itu terdapat dua jenis unsur pokok yaitu cit dan acit. Cit adalah spirit (jiwa) yang memiki kesadaran. Cit dan acit dapat disamakan dengan Purusa dan Prakerti. Prakerti pada Vedanta tergantung kepada Tuhan dalam proses penciptaan,  sedangkan  prakerti  pada  Samkhya  tergantung  pada  roh  dalam  proses penciptaa dan tidak ada yang menciptakan. Menurut Visistadvaita alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dari Prakerti. Prakerti disamakan pula dengan maya. Antara Tuhan dan maya bukanlah merupakan dua hal yang berbeda, karena pada hakekatnya hanya Tuhan yang ada di samping Tuhan tidak ada apa-apa lagi. Di dalam tubuh Brahman yang absolut itu terdapat banyak hal, oleh karena itulah sistem Ramanuja disebut qualivaid monisme yaitu monisme yang mempunyai bagian-bagian di dalamnya (cit dan acit).

Alam dengan berbagai wujud material dan roh-roh pribadi, bukanlah Maya yang tidak nyata, tetapi bagian nyata dari hakekat Brahman dan merupakan badan Tuhan. Materi itu nyata yang merupakan acit atau substansi yang tanpa kesadaran. Ia mengalami suatu Parimana atau evolusi yang nyata, dan ada dalam suatu keadaan yang halus sebagai Prakara Tuhan (ragam yang terpisah), selama masa Pralaya. Prakerti memiliki 3 guna: sattva, rajas, dan tamas, tetapi Śuddha Tattva hanya memiliki sifat Sattvam saja, yang merupakan materi murni. Śuddha Tattva merupakan substansi  yang menyusun badan Tuhan dan disebut Nitya-Vibhūti, sedangkan alam yang berwujud ini merupakan Līlā- Vibhūti-Nya.

Menurut sistem filsafat Vedanta ada tiga jenis perbedaan, yaitu: Wijatya-Bheda, Sejatya-Bheda dan Swagata-Bheda.

1.   Wijatya-Bheda yaitu perbedaan yang ada di luar dari suatu kelompok, misalnya: anjing berbeda dengan kuda dan berbeda pula dengan sapi.

2.   Sejatya-Bheda yaitu perbedaan yang ada diantara satu warga. Umpamanya; sapi betina berbeda dengan sapi jantan,  sapi berwarna merah berbeda dengan sapi berwarna putih.

3.   Swagata-Bheda yaitu perbedaan yang ada antara bagian dari satu benda, misalnya; perbedaan antara ekor, kaki, perut dan sebagainya dari satu mahluk.

Perbedaan antara Tuhan dengan cit dan acit menurut Ramanuja adalah perbedaan Swagata-Bheda, karena Tuhan itu Esa dan di luar Beliau tidak ada apa-apa lagi. Tuhan menurut Ramanuja adalah asas yang merupakan imanen yang menjiwai Acit dan Cit atau berada dalam Cit dan Acit. Sedangkan hasil yang muncul dari pertemuan Cit dan Acit menimbulkan tiga kualitas,  yaitu: berubah, tumbuh, dan mati.  Bila alam semesta ini pralaya maka Cit dan Acit ada pada Tuhan. Dalam proses penciptaan terhadap segala sesuatu di alam ini dinamakan Karya Brahman, yaitu Brahman sebagai pelaksana, sedangkan dalam proses pralaya disebut Karana Brahman, yaitu Brahman sebagai bentuk sebab.

Pandangan Visistadvaita dan Samkhya mengenai Prakerti berbeda, menurut Ramanuja  dalam  Prakerti  ada  tiga  guna  yaitu  Sattvam,  Rajas,  dan  Tamas  yang mewujudkan sifat-sifat benda, bukan merupakan daya atau tenaga yang ada pada benda seperti yang diajarkan oleh Samkhya. Dalam Visistadvaita Prakerti tidak lepas dari Tuhan, Tuhanlah  yang  membimbing  Prakerti  untuk  menjadikan  segala  sesuatu  di  alam  ini bersama-sama dengan jiwa, bukan karena dirinya sendiri).

Tentang proses terjadinya ciptaan dalam Visistadvaita adalah sama dengan yang dikemukakan oleh Samkhya, yaitu Tuhan muncullah Cit dan Acit. Pertemuan Cit dengan Acit menimbulkan secara berturut-turut dari yang halus sampai kepada yang kasar, yaitu Citta dan Buddhi, Ahamkara, Manas, sepuluh indriya (Panca Budhindriya dan Panca Karmendriya), Panca Tan Matra, Panca Maha Bhuta dan yang terakhir alam semesta dengan isinya. Semua proses ini bukan berlangsung dengan sendirinya melainkan semata- mata di bawah bimbingan Tuhan. Pada zaman pralaya semua ini kembali kepada Acit yang ada dalam tubuh Tuhan. Proses penciptaan alam semesta ini bukan merupakan suatu bentuk ilusi melainkan suatu kenyataan yang benar-benar terjadi. Dalam Samkhya Purusa dan Prakerti tidak berasal dari Tuhan melainkan secara Svayambhu (tanpa ada yang menciptakan).

3.3 Epistemologi Visistadvaita Vedanta

Menurut Ramanuja suatu pengetahuan adalah valid kalau memenuhi dua hal: mengungkapkan sesuatu sebagaimana adanya dan menunjang kepentingan praktis dari kehidupan. Sistem Visistadvaita mengenal tiga jenis pramana (alat pengetahuan yaitu: pratyaksa (pengamatan), anumana (penyimpulan), dan Sabda (kesaksian)).  Pratyaksa  memberikan pengetahuan dari  obyek  yang  diamati.  Ketiga pramana  ini  mengungkapkan  kebenaran oleh  karena  itu  sama  validnya. Dari ketiganya Pratyaksa Pramana mendasari dua pramana lainnya. Anumana tergantung dari Pratyaksa atau persepsi di dalam membangun kesimpulan logis. Begitu pula Sabda sangat tergantung dari pendengaran suatu suara atau bunyi dari kata-kata kesaksian baik itu orang yang dipercaya maupun teks kitab suci. Hubungan ini merupakan hubungan yang realistis, karena setiap indriya memiliki sifat- sifat yang khas dengan obyek yang diamatinya. Sebenarnya indriya-indriya kita memiliki kaitan yang sangat erat dengan Panca Maha Butha, sebab keberadaan tubuh kita berada dari unsur-unsur tersebut. Maka itu mata dapat menangkap sinar, telinga dapat mendengar, lidah dapat merasa dan sebagainya. Pengamatan dapat juga terjadi tanpa memerlukan bantuan indriya, yang disebut pengamatan transenden yang dilakukan oleh para Yogi.

Pengamatan menurut Visistadvaita ada dua jenis yaitu Nirwikalpa dan Sawikalpa. Nirwikalpa adalah pengamatan terhadap suatu objek tanpa asosiasi, tanpa penilaian, tanpa sebutan apapun. Umpama; seseorang melihat sesuatu mereka tidak tahu apakah yang dilihat itu periuk guci, pot, panjang atau pendek, rendah, tinggi dan sebagainya. Dalam hubungan ini seseorang hanya mengenal sesuatu sasaran pengamatan saja. Sawikalpa adalah pengamatan terhadap suatu objek dengan ciri-cirinya, sifat-sifatnya, namanya dan dengan  penilaian  tertentu.  Misalnya;  seseorang  mengamati  golongan  barang  yang termasuk alat dapur, yaitu belanga yang berbentuk bulat, hitam dan sebagainya. Pengetahuan ini dapat disebut benar bila corak benar-benar dimiliki oleh sasaran pengamatan itu sendiri.

Anumana merupakan pramana yang kedua dari Visistadvaita, yang artinya pengetahuan yang kemudian. Pengetahaun yang didapat dengan cara Anumana adalah dengan melihat suatu tanda (Lingga) yang selalu memiliki hubungan dengan objek yang ditarik kesimpulannya (Sandhya). Berhubungan antara Lingga dengan Sandhya disebut Wyapti. Dalam Visistadvaita dikemukakan bahwa dalam Anumana semestinya ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: Paksa (suatu kesimpulan yang akan ditarik), Sandhya (objek yang akan ditarik kesimpulannya), dan Lingga tanda yang tak terpisahkan dengan benda dan kesimpulannya). Misalnya; dikejauhan ada terlihat asap, hal ini memberi kesan pada kita tenetu ada kebakaran di tempat tersebut.

Uraian penyimpulan di atas menunjukkan adanya api di suatu tempat. Kesimpulan itu diambil karena adanya dalil umum yang menunjukkan bahwa adanya hubungan yang erat antara api dan asap. Perlu diperhatikan bahwa dalil umum itu perlu dikuatkan dengan suatu contoh yang khas, yaitu apa yang berasap tentu berapi. Hal ini menunjukkan bahwa dalil umum itu juga didasarkan atas pengalaman pada pengamatan tentang asap yang memang sudah  dikenal  sebagai  suatu  yang  selalu  menyertai  api.  Dengan demikian jelaslah  bahwa  pengamatan  yang  diperoleh  dengan  penyimpulan  itu memerlukan perantara atau bantuan pengetahuan lain. Penyimpulan yang diambil itu adalah bertujuan untuk meyakinkan orang lain atau diri sendiri.

Mengenai Sabda (kesaksian) dinyatakan oleh Visistadvaita bahwa Sabda Veda mengandung kebenaran yang mutlak. Apa yang dinyatakan oleh Veda adalah benar. Isi Veda tidak bertentangan dengan Pramana-Pramana lainnya, karena Pramana yang lain itu lebih   banyak   berhubungan   dengan   dunia   yang   dapat   diamati,   sedangkan   Veda berhubungan dengan dunia yang tidak dapat diamati.

Menurut sistem Visistadvaita kitab Veda bagian Brahmana dan Upanisad sama pentingnya sebab kitab Brahmana mnghubungkan manusia dengan upacara keagamaan, dengan caranya memuja, sedangkan kitab Upanisad menghubungkan manusia dengan Brahman, dengan sasaran pemujaan. Sebenarnya kedua bagian Veda ini merupakan suatu penjelmaan dari satu ajaran, yaitu Veda. Perbedaannya hanya terletak pada bahan yang dibicarakan dalam kehidupan beragama kedua kitab ini saling isi mengisi dan tidak dapat dipisahkan penggunaannya. Veda menurut Ramanuja diciptakan oleh Tuhan dan bersifat kekal. Visistadvaita juga mengakui bahwa pengetahuan yang didapat melalui Sabda Pramana dipandang benar bila berasal dari orang yang dipercaya. Misalnya, pernyataan- pernyataan para Maha Rsi tentang kebenaran adanya Tuhan dan kesucian ajaran-Nya. Ajaran Tuhan  yang  ada  pada  kitab  suci  Veda  menurut  Visistadvaita  hendaknya dipergunakan sebagai pedoman dalam hidup ini untuk kesempurnaan umat manusia.

Mengenai pengetahuan diajarkan oleh sistem Visistadvaita, bahwa segala pengetahuan adalah benar, sekalipun ad tingkat-tingkat kebenarannya, yaitu: kurang benar, cukup benar, dan sebagainya. Umpamanya, sebuah obor di tangan dengan cepat diputar- putar, menampakkan seolah-olah ada sebuah lingkaran api. Lingkaran api itu bukanlah suatu khayalan, tetapi benar-benar ada, sekalipun tidak benar secara sempurna. Sebab obor itu memang benar-benar mengambil posisi pada tiap bagian lingkaran, hanya saja posisi itu tidak diambil secara bersamaan melainkan secara berurutan.

Sesungguhnya semua pengetahuan menunjukkan adanya objek pengetahuan yang kompleks, yang tidak sederhana, suatu keruwetan yang telah diberi kualifikasi, yang telah ditentukan  sifat-sifatnya.  Alat  apa  kiranya yang  dipergunakan  untuk  menentukan keruwetan  itu,  jawaban  dari  pernyataan  itu  adalah  pengalaman.  Obor  tadi  dapat ditentukan realitasnya karena pengalaman yang berkali-kali. Oleh karena itu apa saja yang tanpa kualitas, yang tanpa sifat, tanpa rasa, tanpa warna, dan sebagainya, tentu tidak dapat dipakai sebagai asas atau pangkal penilaian. Kesimpulan dari pendiri ini ialah, Brahman tidak mungkin tanpa sifat. Tiada Nirgunam Brahman. Menurut Ramanuja kekeliruan Śańkara terhadap pernyataan Upanisad tentang Neti-Neti (bukan ini, bukan itu) yang dikenakan kepada Brahman sebagai penyangkalan terhadap semua ifat Brahman. Menurut Ramanuja ungkapan Neti-Neti itu diartikan penyangkalan terhadap beberapa sifat Brahman saja.

Dalam sistem Visistadvaita Brahman dipandang berhakikatkan intelegensi, berasal dai semua cacat dan cela, memiliki sifat yang mulia seperti Maha Tahu, Maha Kuasa, berada di mana-mana, Maha Pemurah dan sebagainya. Ia menyebabkan adanya alam semesta  dan  berada  di  dalam  jiwa  dan dunia.  Brahman  dalam  Visistadvaita  disebut dengan nama Visnu Narayana.

3.4 Etika Visistadvaita Vedanta

Dalam   sistem   filsafat   Visistadvaita   jiwa   dipandang   sebagai   atom   yang bilangannya banyak sekali, serta mewujudkan satu kelompok, satu rumpun, satu kelas jiwa. Roh adalah suatu Prakāra Tuhan yang lebih tinggi daripada materi, karena ia merupakan kesatuan yang sadar, yang merupakan inti dari Tuhan. Menurut Ramanuja, Tuhan, roh dan alam merupakan kesatuan-keatuan yang abadi. Roh adalah yang sadar sendiri, tak berubah, tak terbagi, dan bersifat atom (anu). Roh-roh itu jumlahnya tak terbatas, di mana roh pribadi menurut Ramanuja benar-benar bersifat pribadi dan secara mutlak nyata dan berbeda dengan Tuhan. sesungguhnya ia muncul dari Brahman dan tak pernah di luar Brahman; tetapi sekalipun demikian ia menikmati keberadaan pribadi dan akan tetap merupakan suatu kepribadian selamanya. Setiap roh memiliki tubuh material sesuai dengan karmanya.

Menurut Ramanuja, ada 3 golongan roh, yaitu: 1) Nitya (abadi) yaitu roh yang tidak pernah terbelenggu oleh benda, 2) Mukti (bebas) yaitu jiwa/roh yang telah terbebas dari belenggu, dan 3) Banddha (terbelenggu) yaitu  roh  yang masih terbelenggu oleh benda sehingga masih mengalami kelahiran berulang-ulang. Penyebab belenggu adalah karma  yang  mengalir  dari  kebodohan.  Roh  mengidentifikasi  dirinya  dengan  tubuh, melalui kebodohan terhadap hakekat sejatinya dan berprilaku seolah-olah tubuhnya. Kebodohan disingkirkan melalui pembelajaran Vedanta. Roh-roh abadi tak pernah berada dalam belenggu dan selamanya bebas. Mereka hidup dengan Tuhan di Vaikuntha. Roh-roh yang terbebaskan sekali waktu menjadi subyek Samsāra, tetapi sekarang telah  mencapai  pembebasan  dan  hidup  dengan  Tuhan.  Roh-roh  yang terbelenggu terperangkap dalam jerat Samsara dan berjuang untuk dibebaskan serta mengembara dari kehidupan ke kehidupan sampai mereka dibebaskan. Manusia atau roh pribadi merupakan partikel dari keseluruhan partikel, yaitu Tuhan, ibarat sebutir buah delima yang menyatakan Tuhan atau Brahman-nya Ramanuja, maka setiap biji (benih) disamakan dengan roh pribadi. Bila roh pribadi terbenam dalam keduniawian atau Samsāra, pengetahuannya diciutkan. Ia memperoleh badan yang sesuai dengan karma masa lalunya dan berjalan dari kelahiran menuju kematian dan dari kematian menuju kelahiran, sampai ia mencapai moksa atau pembebasan akhir, di mana pengetahuannya berkembang kembali dan pembebasan itu diperoleh atas karunia Tuhan, Nārāyana.

Tujuan hidup manusia menurut Visistadvaita ialah mencapai alam Narayana untuk menikmati kebebasan dan kebahagiaan yang sempurna. Ada dua jalan yang ditunjuk oleh Visistadvita untuk mencapai itu, yaitu: Prapatti dan Bhakti. Prapatti adalah penyerahan diri   sepenuhnya   kepada   Tuhan, sebagai satu-satunya   tempat   untuk   berlindung. Penyerahan diri hendaklah disertai dengan kepercayaan yang sempurna bahwa Narayana bersifat Maha Kuasa, Cinta Kasih, Maha Pemurah untuk melimpahkan berkah-Nya. Jalan

Prapatti  terbuka bagi  siapa saja.  Yang wajib  dilakukan  adalah mengambil  keputusan dalam dirinya untuk mengikuti kehendak Tuhan, percaya bahwa Tuhan akan melepaskan semua ikatan, dan meyerahkan jiwa kepada Tuhan dengan didasari oleh sifat yang lemah lembut.

Prapatti dipandang oleh Ramanuja sebagai sesuatu yang amat penting dalam kehidupan ini. Barang siapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan ia akan dilepaskan dari ikatan suka dan duka serta akan mencapai kebahagiaan. Ia yang sepenuhnya melakukan prapatti, bila ia meninggal akan langsung menuju Vaikuntha yaitu tempat kebahagiaan yang tak terhingga dan menikmati kehadiran Brahman secara terus- menerus.

Jalan kedua untuk memuja alam Narayana adalah melalui bhakti, bhakti menurut Visistadvaita terbagi atas tiga tahap yaitu: karma yoga, jñana yoga, dan bhakti yoga. Karma yoga berarti melakukan kewajiban hidup tanpa terikat akan hasilnya melainkan dilakukan sebagai pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karma Yoga merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan hidup tertinggi bagi segenap umat manusia melalui kerja dengan tidak mementingkan diri sendiri. Karenanya tiap-tiap tindakan keakuan atau egoisme akan memperlambat tercapainya tujuan itu dan tindakan tanpa keakuan akan membawa seseorang kepada tujuan tertinggi.

Orang yang terikat oleh sifat egoisme tidak akan dapat melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, bahkan akan terjerat oleh nafsu yang pada akhirnya akan menghancurkan  dirinya.  Sebaliknya  mereka  yang  memiliki keseimbangan  jiwa  akan dapat  bekerja dengan  dengan  sebaik-baiknya.  Hendaklah manusia hidup  di  dunia ini seperti  bunga  teratai  yang  tumbuh di  air,  tetapi  tidak  pernah  dibasahi  oleh  air, demikianlah seharusnya orang hidup di dunia ini, hatinya menghadap Tuhan, tangannya menghadap pekerjaan. Kesempurnaan hanya dapat dicapai dengan jalan melakukan tindakan yang bebas dari kepentingan pribadi. Pandanglah pekerjaan itu sebagai suatu yajña yang dipersembahkan oleh manusia kepada Tuhan yang mengambil bentuk sebagai alam ini. Keterikatan akan hasil pekerjaan sebenarnya terletak pada pikiran, maka itu sucikanlah pikiran itu dengan cara melakukan bhakti kepada Tuhan.

Karma Yoga dalam Visistadvaita juga diartikan dengan upacara keagamaan yang dilakukan menurut petunjuk Veda, melakukan pemujaan melalui patung-patung dan mengulang-ulang mantra suci dalam pemujaan. Dalam hubungan dengan upacara keagamaan   adalah   melakukan   Panca   Yajña. Tiap-tiap   rumah   tangga   hendaklah menjalankan yajña ini karena dengan melakukan yajña seseorang akan mendapat anugrah dari Brahman.

Demikian pula halnya dengan melakukan pemujaan Tuhan melalui patung-patung adalah sesuatu yang tidak bertentangan dengan Veda. Patung-patung itu hanyalah sebagai sarana untuk memusatkan pikiran. Hal ini hendaknya disadari bahwa Brahman ada di mana-mana termasuk dalam sarana pemujaan itu. Pengucapan mantra-mantra suci dengan menyebut nama Tuhan secara berulang-ulang (Namasmaranam) akan menyucikan pemujanya. Ketiga bagian Karma Yoga ini dilakukan secara bersamaan karena memiliki hubungan yang sangat erat sekali.

Jñana   Yoga   adalah   suatu   usaha   untuk   merenungkan   diri   sendiri   yang berhakikatkan rohani dan jasmani yang berasal dan berada di bawah kekuasaan Tuhan. maksud dari perenungan ini ialah untuk membantu merealisasikan keadaan yang sebenarnya dari sang diri sejati, yaitu jiwa yang suci dan tanpa avidya. Hubungan antara jiwa dan Tuhan hendaklah dipahami bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan. Tuhan ada dalam jiwa dan jiwa ada dalam Tuhan. hal ini patut dimengerti oleh setiap orang sehingga dengan demikian  mereka  akan  lebih  mudah  merealisasikan  sang  diri  sejati dalam hubungan dengan Tuhan.

Demikian juga dengan badan kita ini sesungguhnya adalah wujud dari Prakerti. Prakerti sebagai asas kebendaan ada pada Tuhan atau disebut pula sebagai pakaian dari Tuhan. Walaupun demikian perealisasian ini bukanlah merupakan tujuan yang terakhir. Ia hanya lahan mewujudkan keadaan pendahuluan dari tujuan yang terakhir itu, yaitu pengrealisasian Tuhan.

Bhakti Yoga adalah melakukan meditasi kepada Tuhan. Meditasi ini bertujuan untuk menguatkan ingatan bukan untuk menuju kepada pengamatan Tuhan. Ingatan yang teguh berbeda dengan ingatan yang biasa, ingatan yang teguh adalah ingatan yang penuh cinta kasih kepada objek yang direnungkan. Menurut Ramanuja moksa baru akan dapat dicapai setelah ini hancur. Di sanalah jiwa akan melihat Tuhan secara langsung dan akan nampak sebagai hakikat tertinggi dari dirinya sendiri. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan tanpa disertai dengan Bhakti, tidak mungkin mencapai tujuan akhir atau moksa. Maka dari itu Ramanuja menganjurkan semua yang kita lakukan hendaklah didasari oleh Bhakti.

Mengenai moksa Ramanuja menjelaskan pandangan terhadap pernyataan Upanisad yang mengajarkan bahwa Tuhan dan jiwa itu sama, namun bukan persamaan yang absolut, karena tidak mungkin manusia disamakan dengan Tuhan. Yang dimaksud oleh Upanisad di sini adalah bahwa Tuhan tidak dapat dibedakan dengan jiwa, sebagaimana membedakan jiwa dengan badan. Badan adalah wujud dari Prakerti dan jiwa adalah asas rohani yang kedua unsur ini ada dalan Tuhan dan di bawah kekuasaan-Nya. Menurut Ramanuja, Moksa artinya berlalunya roh dari kesulitan hidup duniawi menuju semacam surga (Vaikuntha) di mana ia akan tetap selamanya  dalam  kebahagiaan pribadi  yang  tenang  di  hadirat  Tuhan.  Pembebasan (moksa) adalah pemisahan total roh dari tubuh. Roh-roh yang terbebaskan mencapai hakekat Tuhan (menjadi serupa dengan Tuhan) dan tak pernah menjadi identik dengan –Nya, karena yang terbatas tidak pernah menjadi tak terbatas, tetapi hidup dalam persahabatan dengan Tuhan, baik dengan melayani-Nya ataupun bermeditasi dengan-Nya, tetapi tidak pernah kehilangan kepribadiannya. Menurut Ramanuja tak ada seseorang yang disebut sebagai Jivanmukti. Pembebasan muncul apabila roh meninggalkan badannya. Dan hal ini hanya dapat dicapai melalui Bhakti dan karunia Tuhan, serta penyerahan diri  secara mutlak atau Prapatt. Karma dan Jñana hanya cara untuk menuju Bhakti.

DAFTAR PUSTAKA

Dāmodara, Svami (T.D. Singh). 2004. Vedanta & Science Series Reality of God’s Existence (Terjemahan). Pt. Temprina Media Grafika: Bali.

Dāmodara, Svami (T.D. Singh).2008. Vedanta & Science Series Life and Origin of the Universe (Terjemahan).PT. Cintya: Denpasar.

Donder, I.K. 2009. Teologi Memasuki Gerbang Ilmu Pengetahuan Ilmiah tentang Tuhan Paradigma Sanatana Dharma. Paramita: Surabaya.

Maswinara, I Wayan. 1999. Sistem Filsafat Hindu (Sarva Darsana Samgraha). Paramita: Surabaya.

Prabhupāda, Svami. 2006. Śrīmad Bhāgavatam. Hanuman Sakti: Jakarta.

Prabhupāda, Svami. 2007. Śrī Īśopanisad. Hanuman Sakti: Jakarta.

Radhakrishnan, S. 1989. The Principal Upanisads (terjemahan). Yayasan Parijata: Jakarta.

Radhakrishnan, S. 2002. Hindu: The View Of Life (terjemahan). Manikgeni: Denpasar.

Saraswati, Sri Chandrasekharendra. 2009. The Vedas (terjemahan). Media Hindu: Jakarta.

Suamba, I.B Putu. 2003. Dasar-Dasar Filsafat India. PT Mabhakti: Denpasar

Suwira, Wayan. 2008. Buku Ajar Sejarah Filsafat India. Departemen Filsafat Universitas Indonesia.

Tagore, Rabindranath. 2003. The Religion of Man (terjemahan). Bintang Budaya.

Tim penyususn. 2009. Modul Materi Pokok Darsana. Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu: Departemen Agama RI.

Vimalananda, Swami. 1996. Maha Narayana Upanisad.

Vireśvarānanda, Svami. 2002. Brahma Sūtra Pengetahuan tentang Ketuhanan. Paramita: Surabaya.

Vivekananda, Svami. 2006. Voice Of Vivekananda (Suara Kebangkitan). PT One Earth Media: Jakarta.

Vivekananda, Svami. 2007. Vedānta Puncak Kebenaran Veda Masa Kini. Paramita: Surabaya.

Vivekananda, Svami. 2008. Wejangan Filosofis dan Keagamaan. Paramita: Surabaya.

Vimalananda, Swami. 1996. Maha Narayana Upanisad.

Related posts

Leave a Comment