MODUL NYAYA DARSANA

BAB II
NYAYA DARSANA

2.1 Pendiri Nyaya Darsana
Nyaya sutra atau nyaya Darsana secara umum juga dikenal sebagai Tarka Vada atau diskusi dan perdebatan tentang suatu Darsana karena nyaya mengandung Tarka-Vidya (ilmu perdebatan), dan Vada-Vidya (ilmu diskusi). System filsafat nyaya tergolong astika, yaitu system filsafat yang mempercayai otoritas Veda. Tokoh pendiri filsafat nyaya adalah Maha Rsi Gautama (4 S.M) yang menuliskan system ini di dalam nyaya-sutra. Ia juga dikenal dengan nama Aksapada dan karenanya system ini juga dikenal dengan nama system filsafat Aksapada. Selanjutnya banyak muncul filosof yang membahas atau menciptakan karya-karyanya memperkuat posisi nyaya sekaligus member komentar terhadap nyaya-sutra, antara lain: nyayabhasya oleh Vatsyayana (400 Masehi), Nyaya-Lankara oleh Srikantha, Nyaya-Manjari oleh Jayanta, Nyaya-Bodhini oleh Govardhana dan Vacaspati Misra dalam Nyaya-Kusumanjali.

2.2 Pokok-Pokok Ajaran Nyaya
Nyaya berarti argumentasi dan mengindikasikan bahwa system ini bersifat intelektual, analitik, logis dan epistemologis. System ini dikembangkan dengan menekankan pada aspek logika dan nalar dengan pendekatan ilmiah dan realisme. Oleh karena itu system ini juga disebut Nyaya-Vidya atau Tarka-Sastra (ilmu logika dan nalar), Pramana-Sastra (ilmu logika dan epistemology), Hetu-Vidya (ilmu penyebab), Vada-Vidya (ilmu debat), dan Anviksiki (ilmu studi kritis). System ini menganalisis hakekat dan sumber pengetahuan dan validitas dan non validitasnya. System Nyaya merupakan system pertama yang meletakkan fondasi yang kuat ilmu logika India.
Filsafat Nyaya ingin mencari pengetahuan yang benar tentang dunia ini dan bagaimana hubungannya dengan pikiran manusia serta dirinya sendiri. Ini merupakan satu-satunya cara bagi manusia untuk mencapai pembebasan atau moksa. Bila seseorang menguasai teknik logika dan penalaran dan mampu menerapkan secara penuh dalam hidup sehari-hari maka ia akan dapat melepaskan dirinya sendiri dari segala bentuk penderitaan. Jadi, metode dan kondisi untuk menentukan pengetahuan benar bukanlah tujuan akhir dari filsafat Nyaya. Tujuan tertinggi filsafat Nyaya seperti umumnya filsafat India lainnya adalah moksa. Nyaya adalah filsafat hidup walaupun pada pokoknya berhubungan dengan studi logika dan epistemology.
System Nyaya dapat disebut sebagai system yang realistis (nyata). Pengetahuan itu dapat disebut ‘benar’ atau ‘salah’ tergantung dari pada alat-alat yang dipergunakan untuk mendapatkan pengetahuan tersebut, di mana secara sistematik semua pengetahuan menyatakan 4 keadaan, yaitu: 1) subyek atau si pengamat (pramata), 2) obyek yang diamati (prameya), 3) keadaan hasil dari pengamatan (pramiti) dan 4) cara untuk mengamati atau mengetahui (pramana). Jadi proses pengamatan tergantung kepada keempat keadaan ini.
Filsafat Nyaya membagi aspek dari realitas menjadi enam belas katagori atau padartha. Pembagian secara filosofis menjadi enam belas itu, antara lain: 1) pramana (sumber-sumber dari pengetahuan), 2) prameya (obyek-obyek dari pengetahuan), 3) samsaya (keragu-raguan, suatu keadaan yang tidak pasti), 4) prayojana (tujuan)), 5) drstanta (contoh), 6) siddhanta (doktrin-doktrin), 7) avayava (bagian-bagian penyimpulan), 8) tarka (argumentasi hipoteis), 9) nirmaya (kesimpulan), 10) badha (diskusi), 11) jalpa (percekcokan), 12) vitanda (argumentasi yang irasional), 13) hetvabhasa (penalaran yang tampaknya bagus), 14) chala (jawaban yang tidak fair), 15) jati (menarik kesimpulan yang bersifat umum atau generalisasi yang didasarkan pada analogi yang keliru, 16) nigrahsthana (dasar-dasar untuk mengalahkan). Tapi dari semua itu pramana merupakan sumber-sumber pengetahuan, merupakan katagori yang paling penting, paling menyeluruh dan diuraikan secara mendalam dibandingkan dengan katagori-katagori yang lainnya.
a. Pramana adalah suatu jalan untuk mengetahui sesuatu secara benar. Pramana akan memberikan pengetahuan yang benar kepada kita untuk mengetahui sesuatu dan dapat mencapai tujuan hidup yang bersifat duniawi dan akhirat. Dalam premana ini termasuk pula metode dari pengetahuan itu sendiri yang dipergunakan untuk mengetahui sesuatu.
b. Prameya adalah suatu yang berhubungan dengan pengetahuan yang benar dari objek pengetahuan yang benar, yaitu pengetahuan yang benar. Objek dari setiap pengetahuan dalam ajaran nyaya adalah sebagai berikut:
– Atman (diri sendiri)
– Sarira (badan) yang terdiri dari bagian tubuh yang aktif seperti indriya dan perasaan suka dan duka
– Indriya yaitu alat tubuh yang dapat merasakan adanya bau, rasa, penglihatan, sentuhan dan pendengaran.
– Artha (objek) yaitu kualitas dari bau, rasa, warna, sentuhan dan bunyi.
– Budhi yaitu pengetahuan atau intelek
– Manas (pikiran) yaitu bagian indria yang sangat dalam yang dapat merasakan suka dan duka dalam batas-batas tertentu pada suatu waktu, dan bentuk pikiran itu sangat halus seperti atom-atom.
– Prawertti (aktivitas) yaitu kerja yang dapat menimbulkan hasil baik dan buruk yang bersumber dari perkataan, pikiran dan perbuatan.
– Dosa (kerusakan mental) yaitu berupa nafsu keinginan dan termasuk pula alat-alat pemuasnya (kasih sayang (raga), kebencian (dvesa) dan kebingungan (moha)). Ketiga hal ini dapat menghalangi aktivitas seseorang untuk mencapai kebaikan dan dapat menyeret kearah perbuatan hina.
– Pretyabhawa yaitu kelahiran kembali setelah kematian dimana seseorang membawa karma wasana masing-masing sesuai dengan perbuatannya.
– Phala yaitu pengalaman yang menyenangkan dan menyedihkan yang disebabkan oleh aktivitas mental yang rusak.
– Dukha yaitu pahit getir kesedihan yang dialami setiap orang dalam hidupnya.
– Apawarga yaitu bebas dari penderitaan, ini berarti seseorang telah mengalami kebebasan dalam ikatan.
c. Samsaya atau keragu-raguan terhadap pernyataan yang tidak pasti.
d. Prayojana: kata “prayojana” adalah “tujuan”. Objek atau sasaran yang mau dicapai oleh seorang pelaku. Tanpa tujuan atau target, maka tidak ada seorangpun yang dapat berbuat.
e. Drstanta (suatu contoh) yang berasal dari fakta yang berbeda sebagai gambaran yang umum.
f. Siddhanta (doktrin), doktrin merupakan cara mengajarkan sesuatu melalui satu system pengetahuan yang benar, dimana kebenarannya tidak dapat dibantah atau dipersoalkan lagi, yang dipergunakan sebagai dasar dari teori dan system pemikiran filsafat tertentu .
g. Avayaya (bagian-bagian dari suatu peyimpulan), dalam konteks ini yag dimaksud adalah bagian-bagian atau unsure-unsur dari suatu penyimpulan.
h. Tarka (argumen hipotesis) atau bukti tidak langsung, dimana kita mulai dari satu asumsi yang salah dan menunjukan bagaimana asumsi itu absurd.
i. Nirmaya (kesimpulan) yaitu suatu pengetahuan khusus yang didapat dengan mempergunakan alat-alat yang legitim.
j. Vada (diskusi) adalah suatu perdebatan atau diskusi yang didasari oleh prilaku yang baik dan garis pemikiran yang rasional untuk mendapatkan suatu kebenaran.
k. Jalpa (pertengkaran) adalah suatu diskusi yang dilakukan oleh suatu kelompok yang hanya untuk mencapai kemenangan atas yang lain, tetapi tidak mencoba untuk mendapatkan kebenaran.
l. Vitanda (penalaran yang irasional). Secara khusus argumentasi ini bertujuan secara eksklusif pada penyangkalan atau penghancuran posisi lawannya yang sama sekali tidak memperhatikan kekuatan dan kelemahan posisinya sendiri.
m. Hetvabhasa (alasan irasional) adalah argumentasi yang irasional.
n. Chala (jawaban yang tidak fair) adalah suatu penjelasan yang tidak adil dalam usaha mempertentangkan suatu pernyataan antara maksud dan tujuan, jadi sesuatu yang perlu dipertanyakan.
o. Jati (generalisasi berdasarkan atas analogi yang salah) adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menyatakan suatu perdebatan dimana jawaban yang tidak fair atau kesimpulan yang tidak berdasarkan atas analogi yang salah.
p. Nigrahasthana (dasar-dasar suatu kesalahan) adalah suatu kekalahan dalam berdebat.
Sistem filsafat Nyaya disebut pula dengan sistem realitas dalam artian bahwa keberadaan dunia ini berdiri sendiri yang lepas dari pikiran. Kita mengetahui dunia ini melalui perantara pikiran, demikian pula halnya dengan perasaan suka dan duka yang dialami oleh setiap orang. Keberadaan benda-benda seperti meja, binatang adalah suatu yang berdiri sendiri yang lepas dari pikiran kita. Menurut pandangan nyaya segala sesuatu yang diketahui ini semata-mata melalui perantara pikiran, baik itu sesuatu yang terbatas dan tak terbatas, manusia maupun dewa.
Keberadaan segala sesuatu di dunia ini dapat diketahui melalui perantara pikiran, demikian pula adanya pengetahuan dalam diri, maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa keberadaan dunia ini sesungguhnya adalah suatu pengalaman dari pikiran. Di dalam usahanya untuk mengetahui dunia ini pikiran dibantu oleh indriya. Oleh karena itu sstem Nyaya disebut system realities.
Berdasarkan aspek realitas tersebut di atas menjadi dasar dari pokok-pokok ajaran Nyāya. Adapun pokok-pokok ajaran Nyaya adalah sebagai berikut:
1) Metafisika Nyaya
2.3.1 Terjadinya Alam Semesta
Teori yang dikemukakan oleh system Nyaya tentang terbentuknya alam semesta sama dengan teori yang dikemukakan oleh Waisesika, maka itu gabungan ke dua ajaran ini disebut Nyaya-Waisesika.
2.3.2 Ketuhanan Dalam Nyaya
Dalam kitab Nyaya-Sutra karya Maha Rsi Gautama terdapat uraian singkat tetapi tegas tentang keterangan adanya Tuhan. Tetapi dalam kitab Waisesika-Sutra uraian semacam itu tidak ada, walaupun demikian interpretasi terhadap hal itu sudah menunjukkan adanya Tuhan. Dalam perkembangannya kemudian, ajaran Nyaya-Waisesika menjelaskan adanya Tuhan itu dengan sangat teliti dan selalu dihubungkan dengan ajaran kelepasan. Menurut ajaran ini semua jiwa perorangan akan dapat mencapai pengetahuan yang benar dan kelepasan bila Tuhan berkenan menganugrahinya.
Nyaya menerima system metafisika Vaisesika termasuk roh dan Tuhan. Teori sebab akibat yang dianut Nyaya menghendaki kehadiran Tuhan, yaitu kekuatan yang tak nampak oleh mata. Atom-atom sebagai penyebab material tidak mampu menciptakan dunia tanpa adanya penyebab efisien yang berkesadaran. Pada saat itulah diperlukan kehadiran Tuhan untuk memberikan kekuatan pertama sehingga atom-atom bisa melakukan kombinasi-kombinasinya.
2.4 Epistemologi Nyaya
Ada empat alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar menurut Nyaya yaitu: pengamatan (pratyaksa), penyimpulan (anumana), perbandingan (upamana), dan kesaksian (sabda). Sebelum membicarakan sumber-sumber pengetahuan ini maka definisi dari pengetahuan itu mesti dijelaskan terlebih dahulu begitu pula bagaimana metode untuk membedakan pengetahuan yang benar dan pengetahuan yang tidak benar. Harol H Titus dalam bukunya: (Living Issues in Philosophy, 1979 yang diterjemahkan oleh Prof Rasjidi. Hal. 197-198), Bermula dari membagi bidang pengetahuan yang akan dibicarakan menjadi tiga persoalan pokok: (1) Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahuinya? Di sini dibicarakan “asal” dari pengetahuan. (2) Apakah watak pengetahuan itu? Apakah ada dunia yang benar-benar di luar pikiran kita, dan kalau ada, apakah kita dapat mengetahuinya? Ini berbicara soal apa yang dilihat dan apa hakekatnya. (3) Apakah pengetahuan kita itu benar? Bagaimana kita dapat membedakan dari yang benar dengan yang salah? Disini dikaji kebenaran atau usaha untuk menguji kebenaran itu. Sedangkan sumber-sumber pengetahuan yang benar oleh H Titus, dibagi menjadi empat sebagai berikut: pengetahuan yang didapat lewat kesaksian dari suatu otoritas, pengetahuan yang didapat dari persepsi indrawi, pengetahuan yang didapat dari pemikiran atau akal, dan pengetahuan yang didapat dari intuisi.
Dalam filsafat Nyaya, pengetahuan dibedakan menjadi dua katagori utama yaitu: anubhava yaitu pengetahuan yang didapat lewat pengalaman atau pengetahuan empiris dan pengetahuan ingatan atau smrti. Pengetahuan empiris didapat lewat keempat sumber pengetahuan yaitu persepsi, penyimpulan, perbandingan dan kesaksian. Pengetahuan katagori yag kedua adalah didasarkan pada ingatan atau memori yang dikeluarkan dari gudang atau tempat penyimpanan di dalam pikiran seseorang, tetapi akhirnya pengetahuan memori ini juga didasarkan atas pengetahuan empiris, karena tidak ada orang ingat sesuatu yang tidak dialaminya. Kedua katagori pengetahuan ini dapat dibagi menjadi dua pengetahuan yaitu pengetahuan yang benar dan pegetahuan tidak benar. Dalam filsafat Nyaya pengetahuan benar disebut “Prama” dan penetahuan tidak benar disebut “Aprama”. Prama didapat lewat persepsi, penyimpulan, perbandingan, dan kesaksian,sehingga ada empat jenis pengetahuan yang benar lewat empat pramana di atas. Aprama ada tiga yaitu: keragu-raguan (samsaya), kesalahan (bhrama/viparyaya) dan argumen hipotetis (tarka).
Menurut filsafat Nyaya pengetahuan yang benar adalah pengetahuan sesuai dengan hakekat dari obyeknya; bila tidak sesuai maka pengetahuan itu tidak benar. Mengerti sesuatu sesuai dengan hakekatnya adalah pengetahuan yang benar, contoh: pengetahuan tentang “mawar merah” adalah benar jika pengetahuan itu nyata-nyata berwarna merah. Pengetahuan tentang mawar yang berwarna merah sebagai “mawar putih” adalah tidak benar karena mawar tidak berwarna putih. Menurut filsafat Nyaya, benar dan tidak benarnya suatu suatu pengetahuan tergantung dari apakah pengetahuan itu sesuai atau tidak sesuai dengan kenyataannya atau dengan faktanya. Sebagai contoh, bila seseorang ingin mendapatkan pengetahuan tentang gula maka ia harus mencicipinya. Pengetahuan yang benar membawa seseorang kepada aktivitas praktis yang sukses, sementara pengetahuan yang salah akan membuat seseorang merasa tidak punya semangat dan membawa seseorang kepada kesalahan dan kekecewaan.
1) Pratyaksa (Persepsi/pengamatan)
Persepsi merupakan sumber pengetahuan yang paling tinggi. Semua orang percaya bahwa apapun yang dialami lewat panca indranya adalah merupakan pengetahuan yang benar, walaupun ia belum menguji data-data yang diterima lewat indra-indranya. Pratyaksa memberikan pengetahuan kepada kita tentang sasaran yang diamati menurut ketentuan dari sasaran itu masing-masing, umpama: pohon itu tinggi, meja itu panjang dan bola itu bulat. Pengetahuan itu ada karena adanya hubungan indra dengan sasaran yang diamati, dan hubungan ini benar-benar ada bukan hubungan yang hayal. Setiap indriya terjadi dari panca maha bhuta maka itu setiap indriya memiliki sifat-sifat yang khas dengan objek-objek yang diamati, umpama mata menangkap sinar untuk dapat melihat, telinga menangkap suara yang berasal dari hawa.
Jika kita perbandingkan pratyaksa ini adalah sama dengan cara mndapatkan pengetahuan dalam filsafat Barat yang kita kenal sebagai aliran empirisme. Istilah empirisme berasal darikata Yunani: empeiria yang berarti pengalaman. Empirisme memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan. Pengalaman indrawi adalah merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna demikian Thomas Hobbes (1588-1679), begitu pula John Locke (1632-1704), mula-mula rasio manusia harus dianggap “as a white paper” dan seluruh isinya berasal dari pengalaman, baik pengalaman lahiriah (sensation) dan pengalaman batiniah (reflexion).
Persepsi adalah pengetahuan yang dihasilkan karena adanya kontak antara indra-indra dengan obyek-obyek dunia ini, sebagai contoh seseorang memiliki pengetahuan persepsi tentang sebuah meja, karena adanya kontak langsung dengan mata. Untuk menyatakan bahwa pengetahuan itu benar, maka kontak dari indra-indra dengan obyek-obyeknya harus jelas tanpa ragu-ragu. Persepsi tentang sesuatu yang berada pada jarak yang jauh apakah itu serumpun semak-semak atau seekor beruang adalah suatu keragu-raguan dan merupakan pengertian atau kognisi yang tak dapat dipastikan, maka dari itu bukan merupakan persepsi yang benar.
Dalam filsafat Nyaya ada beberapa system yang berbeda dalam mengklasifikasikan persepsi. Menurut klasifikasi pertama ada dua jenis persepsi: persepsi biasa atau laukika dan persepsi yang luar biasa atau alaukika. Ketika suatu persepsi didapat dari kontak langsung dengan obyek-obyek indrawi, ini merupakan persepsi biasa. Bila obyek-obyek itu tidak tampil langsung kepada indra-indra kita tetapi disampaikan kepada indra-indra kita melalui cara-cara yang tidak seperti biasanya maka persepsi ini persepsi yang luar biasa. Cara-cara persepsi itu ada dua yaitu persepsi eksternal (bahya) dan persepsi internal (manasa). Dalam persepsi eksternal beberapa atau semua kemampuan-kemampuan seperti: melihat, mendengar, menyentuh, mengecap, dan mencium dilibatkan ikut membawa obyek kepada pikiran. Dengan demikian akan ada lima jenis persepsi eksternal yaitu: penglihatan, bunyi, sentuhan, hembusan, dan penciuman. Kelima indra-indra itu: indra pendengar, indra penyentuh, indra penglihatan, indra perasa dan indra pencium semuanya itu merupakan indra-indra kasar. Sementara pikiran adalah indra yang halus yang merupakan indra keenam. Pikiran merupakan kemampuan dalam yang mengenal kwalitas-kwalitas atau sifat-sifat dari roh seperti keinginan, keengganan, kesenangan, kesakitan dan kesadaran atau mengerti.
Persepsi biasa terdiri dari dua yaitu persepsi yang tidak ditentukan (nirvikalpa) dan persepsi yang ditentukan (savikalpa). Persepsi yang tidak ditentukan ialah pengamatan terhadap sesuatu hanya sebagai sasaran atau obyak belaka tanpa penilaian, tanpa asosiasi dengan suatu sebutan apapun. Contoh adalah pandangan selintas pertama sebuah meja, seseorang menangkap keberadan dari meja itu tanpa mengetahui lebih luas tentang meja itu seperti warnanya, bentuknya dan sifat-sifat khusus lainnya, seseorang hanya mengenal penampakannya secara umum tanpa mengetahui detailnya. Hanya dengan melihatnya lebih lanjut maka ia akan mengenal meja itu apa adanya seperti sebuah meja kayu bundar. “persepsi yang ditentukan” selalu didahului oleh “persepsi yang tidak ditentukan” dan “persepsi yang ditentukan” selalu merupakan pengetahuan yang benar karena ia pasti dan eksplisit.
Nyaya menyatakan bahwa ada tiga jenis persepsi yang luar biasa yaitu: persepsi mengenai kelas-kelas (samanya laksana), persepsi berdasarkan atas asosiasi (jnana laksana), dan persepsi berdasarkan intuisi (yogaja). Realisasi bahwa manusia dapat mati adalah suatu persepsi eksternal yang langsung mengenai kelas-kelas (samanya laksana). Bagaimana seseorang tahu bahwa semua orang akan mati? Seseorang tidak akan sampai pada kesimpulan ini dengan persepsi yang biasa karena kematian semua orang pada waktunya itu tidak dapat diketahui secara fisik dengan indra-indra kita, tetapi karena seseorang tidak pernah dapat dikenal tanpa kemanusiannya, yaitu hakekat kelasnya yaitu bagian dari suatu kemanusiaan yang universal, maka dengan demikian kesimpulan akan dapat ditarik berdasarkan hakekat manusia itu. Seseorang dikenal sebagai seorang manusia karena kehadiran dari kemanusiaan pada dirinya.
Jenis persepsi yang luar biasa yang lain yaitu asosiasi diterapkan ketika seseorang mengatakan bahwa sesuatu itu kelihatannya lezat, blok es itu kelihatannya dingin, atau karang itu kelihatannya keras. Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa rasa dari makanan, kedinginan dari es, dan kekerasan dari karang dapat diketahui lewat mata kita. Tetapi bagaimana caranya mata dapat mengetahui kwalitas dari rasa dan rabaan? Nyaya mengatakan bahwa pengalaman masa lalu menicipi dan meraba terkait erat dengan penampakan visual dari unsur yang menyebabkan pengalaman-pengalaman, dimana ketika sumber-sumber itu tampak dan kontak dengan mata maka ia akan memberikan persepsi tentang rasa dan rabaan secara bersamaan dengan keadaan yang sesungguhnya.
Persepsi luar biasa ketiga yaitu yogaja, dimana pengetahuan muncul sebagai akibat praktek-praktek yoga. Ini adalah pengetahuan intuisi yang tidak tergantung dari hubungan dengan obyek-obyek indrawi dan pengetahuan ini benar, dimana pengetahuan ini didapat setelah pikiran dibersihkan lewat praktek-praktek yoga.
Dalam Nyaya Darsanadikenal adanya 9 substansi atau dravya, yaitu: prthivi, apah, tejah, vayu, akasa, kala, dis, atman dan manas, dimana lima buah yang pertama dikenal sebagai panca bhuta. Mata yang dapat melihat, telinga yang dapat mendengar, lidah yang mengecap, indra raba (sentuhan) yang membedakan panas dan dingin, hidung yang mencium (membaui), kesemuanya merupakan alat persepsi, yang tidak hanya terbatas pada kulit luar saja, tetapi tersebar pada sekujur tubuh dan juga ada di dalam badan, contoh: sakit perut atau sakit jantung terasa oleh indra sentuhan (raba) yang berlokasi di dalam badan.
Kelima perasaan (sensasi) tersebut hanya dapat dirasakan melalui organ-organ yang sesuai, seperti penglihatan terbatas melalui mata saja dan seseorang tak dpat melihat melalui telinga. Jadi kelima indra itu masing-masing mampu mengindra lima guna, yaitu: Rupa (wujud dan warna), Rasa (kecap), Gandha (bau), Sparsa (sentuhan, raba), dan Sabda (suara, bunyi). Kelima guna ini disesuaikan dengan visaya-visaya yang ada pada panca bhuta tersebut. Dalam unsur tanah kelima visaya (sifat) itu ada di sana, sehingga tanah memiliki rupa, rasa, raba, bau dan suara; dalam unsure air, visaya bau tidak ada, sehingga yang tinggal adalah visaya rupa, rasa, raba, dan suara, dimana visaya utamanya adalah rasa, sedangkan pada tanah visaya utamanya adalah bau. Pada unsure tejah, yang ada hanya visaya rupa, raba, dan suara, sedangkan sifat khususnya adalah rupa; pada unsure vayu (udara) yang masih ada adalah visaya raba dan suara, dan sifat khususnya adalah raba atau sentuhan. Unsure akasa hanya memiliki visaya suara saja.
Ilmu pengetahuan modern pada awalnya berpikir bahwa udara atau angin mampu menghasilkan suara. Setelah penemuan transmisi tanpa kabel, secara perlahan-lahan mereka menyatakan bahwa suara merupakan sifat dari ruang (akasa) dan transmisi tanpa kabel tidak tergantung pada aliran angin.
Waktu, jam, kemarin, sekarang, besok, tahun, yuga berhubungan dengan waktu atau kala; sedangkan dis (dik) yaitu arah menyatakan tentang atas, bawah, di sana, di sini, dan sebagainya. Atma atau roh yang menyebabkan sang pikiran mampu menggambarkan prinsip-prinsip tersebut.
2) Penyimpulan (anumana)
Filsafat Nyaya melengkapi secara detail dan penjelasan yang sistematis dari penyimpulan. Penyimpulan adalah proses mengetahui sesuatu tidak dengan kontak langsung antara indra-indra dengan obyek-obyek dunia ini dan tidak pula dengan observasi tapi dengan melewati suatu medium yaitu symbol atau linga yang merupakan penghubung yang harus ada. Penyimpulan melibatkan proses menganalisa ingatan-ingatan, hubungan-hubungan dan argumentasi-argumentasi yang tidak menyimpang. Inilah suatu metode sistematis untuk menguji kebenaran dari pengetahuan penyimpulan, bila salah satu tahapan proses atau bagian-bagian itu tidak ada, karena terpisah atau hilang ataukah salah maka pengetahuan penyimpulan itu adalah tidak benar. Kata Sanskerta untuk kesimpulan adalah Anumana dan didefinisikan sebagai “suatu pengetahuan yang didapat berdasarkan atas beberapa pengetahuan lainnya”. Kata anumana secara harfiah berarti pengetahuan kemudian. Ada dua contoh yang dapat kita tampilkan: “Bukit terbakar karena ada asap di bukit itu, dan dimana ada asap disana ada api” dan “Tono mati karena ia seorang manusia, dan semua manusia akan mati”. Dalam contoh pertama kita melihat asap di atas bukit dan sampai pada pengetahuan tentang keberadaan api di atas bukit yang didasarkan pada pengetahuan kita yang lalu dimana ada hubungan universal antara asap dan api. Pada contoh yang kedua kita mulai dari persepsi tentang seorang manusia yang bernama Tono yang memberikan inspirasi pengetahuan tentang kematian Tono berdasarkan atas pengetahuan kita sebelumnya tentang hubungan universal antara manusia dan kematian. Dengan demikian, ini membuktikan bahwa penyimpulan adalah suatu proses penalaran dimana seseorang akan melewati suatu tahapan-tahapan berpikir tertentu yang diperlukan untuk mencapai suatu kesimpulan yang disebut sebagai pengetahuan penyimpulan. Tahapan-tahapan itu diperlukan karena merupakan persyaratan untuk mendapatkan suatu pengetahuan penyimpulan yang benar. Dalam proses-proses penyimpulan seseorang mencapai suatu kesimpulan berdasarkan fakta-fakta particular melewati pengetahuan tentang symbol dan hubungan universal yang ada sampai pada suatu kesimpulan.
Dalam contoh penyimpulan tentang api di sebuah bukit, seseorang memastikan adanya api di atas bukit yang tidak ia lihat, dan tidak dialaminya, berdasarkan atas persepsi tentang asap di atas bukit dimana orang itu telah memiliki pengetahuan tentang hubungan universal antara asap dan api sebelumnya. Suatu kondisi primer dari penyimpulan ini adalah pengetahuan tentang asap di atas bukit. Pada Anumana Pramana terdapat suatu perantara di antara subyek dan obyek, karena pengamatan langsung dengan indra saja tidak dapat secara langsung menyimpulkan hasil dari pengamatan. Walaupun tampaknya proses pengamatan di sini melalui suatu perantara, tetapi perantara itu sendiri berkaitan sangat erat dengan sifat dari obyek yang diamati, contoh:
– Kita melihat sebuah gunung mengeluarkan asap
– Sesuatu yang mengeluarkan asap tentu ada apinya
– Karena gunung itu mengeluarkan asap, maka tentu gunung tersebut berapi.
– Dengan demikian jelas bahwa gunung tersebut berapi
– Kesimpulan kita adalah bahwa yang kita lihat itu adalah gunung berapi.
Penyimpulan tentang gunung itu berapi disebabkan karena adanya suatu perantara di antara subyek, yaitu yang mengamati dengan obyek yag diamati, yang dalam hal ini adalah “asap” yang menandai adanya api di dalam gunung tersebut, walaupun subyek tidak secara langsung melihat apinya. Jadi penyimpulan itu sebenarnya untuk meyakinkan orang lain tentang kebenaran hasil pengamatan kita.
Dalam terminology logika, “bukit” adalah term minor atau paksa dari penyimpulan ini karena “bukit” adalah sesuatu yang kurang kita pertimbangkan, sedangkan “api” merupakan term mayor (sadhya) karena ia merupakan sesuatu yang kita akan buktikan dalam hubungannya dengan bukit itu. Adanya “asap di atas bukit” merupakan term tengah (linga) karena inilah tanda yang menunjukkan adanya api. Term tengah ini juga disebut hetu atau sadhana yang artinya “alasan-alasan atau dasar-dasar suatu penyimpulan”.
Proses penyimpulan dalam Anumana Pramana, melalui beberapa tahapan, seperti di bawah ini:
1. Pratijña, yaitu proses yang pertama: memperkenalkan obyek permasalahan tentang kebenaran pengamatan, misalnya gunung itu berapi.
2. Hetu, yaitu proses kedua: alasan penyimpulan, dimana dalam hal ini adalah terlihatnya asap yang keluar dari gunung tersebut.
3. Udāharana, yaitu proses ketiga: menghubungkan dengan aturan umum tentang suatu masalah, yang dalam hal ini adalah bahwa segala yang berasap tentu ada apinya.
4. Upanaya, yaitu proses keempat: pemakaian aturan umum itu pada kenyataan yang dilihat, yaitu bahwa jelas gunung itu berapi.
5. Nigamana, yaitu proses kelima: berupa penyimpulan yang benar dan pasti dari seluruh proses sebelumnya, dengan pernyataan bahwa gunung itu berapi.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang sering pengamatannya dilakukan secara Anumana Pramana, yaitu dengan cara menarik kesimpulan berdasarkan analisa proses sebelumnya, sehingga kita dapat mengenali obyek secara pasti dan benar.
Hanya dengan Anumana Pramana sesuatu yang tidak dapat diterima secara nyata dapat dikenali berdasarkan bukti-bukti lainnya. Paramātma dan Jivatma tak dapat diamati dengan peralatan sensorik kita seperti mata, telinga, mulut, hidung dan sebagainya. Demikian pula keadaan moksa atau pembebasan, juga melampaui pencapaian mereka. Kesemuanya itu hanya dapat dipahami melalui Anumana Pramana. Mengetahui yang tak diketahui melalui yang diketahui, itulah Anumana Pramana.
3) Upamana Pramana
Upamana atau perbandingan yaitu alat pengetahuan yang menyebabkan seseorang tahu adanya kesamaan antara dua hal. Perbandingan menghasilkan pengetahuan tentang adanya hubungan nama dengan obyek atau sasaran yang disebut dengan nama itu. Ada dua factor yang terlibat dalam sebuah argument dengan perbandingan, yaitu pertama, pengetahuan tentang obyek yang diketahui dan dua, kemiripan persepsi. Contoh; ada seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada anda bahwa ada sesuatu yang namanya apel hutan, yang mirip dengan apel merah biasa, tapi bentuknya lebih kecil dan tangkainya lebih panjang. Pada suatu hari di tengah hutan anda melihat ada sebuah pohon yang sedang berbuah lebat yang belum pernah anda lihat sebelumnya, tapi buah pohon tersebut mengingatkan anda tentang buah apel. Anda kemudian teringat dengan cerita dari kawan anda dulu tentang apel hutan, dan anda akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa pohon ini pasti pohon apel hutan.
4) Sabda Pramana (kesaksian)
Kata sabda atau kesaksian artinya adalah “kata-kata”, yaitu pengetahuan tentang obyek-obyek yang didapat dari kata-kata atau kalimat-kalimat, yang bagi Nyaya merupakan sumber pengetahuan pengalaman yang benar, dan terakhir. Tidak semua pengetahuan verbal atau lisan benar. Dalam filsafat Nyaya sabda didefinisikan sebagai pernyataan dari seorag apta, yaitu seorang yang berbicara dan bertindak seperti apa yang dipikirkannya, sejalan dengan pikirannya, orang yang satya wacana, dan orang yang jujur. Dengan demikian pikiran, perkataan dan perbuatan orang itu berjalan secara harmonis, sehingga orang yang seperti itu dianggap sebagai orang yang memiliki otoritas. Veda dianggap sebagai perwujudan dari apta yang patut dimuliakan, dimana para Rsi agung yang telah mencapai tingkat kesadaran tentang kebenaran menulis pengalaman-pengalamannya tentang kebenaran itu ke dalam kata-kata. Kebenaran dari Veda didapat dari otoritas dari apta ini.
Kebenaran dari pengetahuan Veda tergantung dari dua syarat yaitu: pertama, maksud dari pernyataan itu harus dimengerti dengan sempurna dan yang kedua, adalah bahwa pernyataan itu harus merupakan ekspresi dari orang yang dapat dipercaya, yaitu seorang apta. Ada dua jalan utama untuk mengklasifikasikan kesaksian, antara lain: 1) metode klasifikasi pertama yaitu membagi pengetahuan kesaksian ini mejadi dua katagori berdasarkan atas hakekat obyek dari pengetahuan, yaitu a) katagori pertama: terdiri dari pernyataan-pernyataan yang dapat dipercaya dari orang-orang biasa, orang-orang suci, para rsi, kitab suci yang isinya berhubungan dengan obyek-obyek yang dapat dialami dari dunia ini, b) katagori kedua: kesaksian-kesaksian berupa pernyataan orang-orang yang dapat dipercaya, orang suci, para rsi, kitab suci berkaitan dengan realitas yang melewati pengalaman indrawi. 2) metode klasifikasi kedua berdasarkan atas hakekat sumber pengetahuan itu sendiri, yaitu yang bersumber dari kitab suci dan kesaksian sekuler.
Berdasarkan sumber kesaksian yang diakui kebenarannya, maka dapat dibedakan menjadi 2, yaitu: 1) Laukika sabda, yaitu bentuk kesaksian yang berasal dari orang yang dapat dipercaya dan kesaksiannya dapat diterima menurut logika atau akal sehat, misalnya program siaran TV yang diperoleh dari seorang penyusun program tersebut, 2) Vaidika sabda yaitu bentuk kesaksian yang didasarkan pada naskah-naskah suci Veda Sruti, yang merupakan sbda Brahman yang tak mungkin salah.

2.5 Etika Nyaya
2.5.1 Konsep Tentang Jiva
Filsafat adalah suatu filsafat hidup yang mencari dan membimbing seseorang untuk menuju kepada kebenaran dan kebebasan. Dengan adanya atman yang bersatu dengan unsure-unsur alam semesta kita merasakan adanya hidup di dunia ini. Setiap filsafat memiliki konsep tentang roh/jiva. Filsafat Carvaka menyatakan bahwa roh terdiri dari badan fisik yang hidup dan sifat-sifatnya, dan tidak mengakui adanya jiva yang kekal dan abadi. Filsafat Buddha, tidak ada roh (anatma). Buddha mengatakan bahwa sang diri atau atma tidak lain adalah suatu rangkaian dari pada perwujudan karma. Buddha tidak mengakui adanya jiva yang abadi yang menempati badan kasar ini. Menurut Nyaya, atman itu adalah sesuatu yang unik yang hanya dapat dibuktikan keberadaannya melalui pikiran dan tubuh. Atman dikatakan merupkan bagian dari Brahman, yang keberadaannya dapat dibandingkan dengan suatu aliran listrik melalui kabel-kabel. Aliran listrik itu tidak dapat dilihat tapi dapat dirasakan bila kita memegang kabel tersebut. Demikian juga atman, kita rasakan keberadaannya melalui pikiran dan tubuh kita.
Atma ada dua macam yaitu jivatma (roh pribadi), dan Paramatma (roh universal). Yang hanya menyaksikan segala kejadian di alam ini adalah Paramatma, sedangkan yang melibatkan diri dengan alam semesta dan menjadi sengsara adalah jivatman. Menurut Nyaya jumlah jivatman adalah banyak sekali, sedangkan Paramatman hanya satu. Vedanta mengatakan bahwa kesadaran atau kecerdasan itu sendiri adalah Atma, sebaliknya Nyaya sastra menyatakan bahwa yang memiliki kecerdasan adalah Atma, di mana kesadaran ini dibhaktikan kepada guna. Nyaya menganggap Atma sebagai materi, sedangkan kesadaran adalah sifat dari Atma tersebut. Atma merupakan tempat kediaman dari jñāna atau kecerdasan, pengetahuan dan kemampuan untuk mengetahui. Karena Nyaya menyebut Paramatma sebagai Pengetahuan Tertinggi, sang Jivatma atau roh pribadi hanya memiliki kesadaran yang terbatas, sehingga disebut sebagai “Kiñcitajña”, yang artinya memiliki pengetahuan yang sangat sedikit dan Paramatma adalah “sarvajña” atau serba tahu.
Kita merupakan tempat kediaman dari jñāna penuh dan jñāna kecil, yaitu kombinasi dari keduanya. Atma meresapi segalanya (vibhu) dan Paramatma juga meresapi segalanya, tetapi perbedaan antara keduanya dalam Nyaya diperkenalkan. Hal ini disebabkan karena menurut pandangan Nyaya, keberadaan kecerdasan terpisah pada setiap jiva dan tempatnya adalah pikiran dan hanya pikiran sajalah yang menyebabkan perasaan bahagia dan sedih.
Jivatman memiliki 16 kala, antara lain: 1) prana (daya hidup vital), 2) sraddhā (keyakinan), 3) kham (ether, akasa), 4) vayu (udara), jyotir (cahaya, sinar), 6) apah (air), 7) prthivi (tanah), 8) indriya (peralatan persepsi), 9) manas (pikiran), 10) annam (makanan), 11) annadvirya (kekuatan), 12) tapa (pengendalian), 13) mantrah (mantra veda), 14) karma (perbuatan), 15) lokalokesu (dunia, planet-planet), dan 16) nama (nama benda atau wujud). Jiva merupakan keberadaan nyata yang keseluruhannya atau kesauannya abadi. Keinginan, keengganan, kesenangan, kemauan, penderitaan, kecerdasan dan intuisi merupakan sifat-sifatnya. Obyek yang menyatakan “Aku” adalah jiva, dimana tak mungkin ada pengamatan atau ingatan tanpa adanya jiva. Mata tak dapat melihat benda-benda dan telinga tak dapat mendengar suara tanpa adanya jiva, sehingga jiva dikatakan sebagai pelaku yang mempergunakan peralatan persepsi tersebut. Sesudah obyek terlihat, walaupun kedua biji mata dihancurkan, pengetahuan yang telah diperolehnya akan tetap dan pengetahuan ini bukanlah sifat dari obyek maupun sifat dari indra. Pikiran bukanlah jiva tetapi hanya sebuah alat dari jva untuk berpikir. Sang diri adalah subyek, sedangkan jiva akan tetap ada walaupun badan lenyap, pikiran terkendalikan dan indra-indra padam.
Sesungguhnya atman itu suci, adanya penderitaan dan kebahgiaan yang kita alami adalah disebabkan oleh manas melalui indriya dalam hubungannya dengan dunia luar. Karena persatuan dengan tubuh, maka ia mengalami penderitaan dan kesenangan di dunia ini. Tubuh tidak dapat disamakan dengan atman karena sebenarnya ia tidak memiliki kesadaran, adanya kesadaran yang kita rasakan berasal dari atman. Ajaran Nyaya mengatakan bahwa atman atau jiva perorangan bukan saja memiliki kesadaran atau pengetahuan tetapi juga maha tahu, berpribadi dan sebagai yang menikmati.
Walaupun kesadaran ataupengetahuaan ada pada atman, tetapi kesadaran itu sendiri bukanlah inti dari atman. Semua bentuk kesadaran yang kita rasakan dalam hidup sehari-hari sesungguhnya muncul dari hubungan atman dengan pikiran, pikiran berhubungan dengan indriya dan indriya berhubungan dengan dunia luar. Sehingga kesadaran yang kita rasakan pada hakekatnya bersifat sementara, selama atman bersatu dengan badan jasmani.
2.5.2 Aksiologi :Konsep tentang pembebasan.
Pada intinya semua sistem fisafat India bertujuan untuk mencapai mukti atau kebebasan bagi setiap jiva individu dari ikatan duniawi. Filsafat Nyaya juga berpendapat bahwa tujuan akhir dari kehidupan manusia adalah mencapai kebebasan. Untuk mendapatkan keadaan bebas seseorang harus memperoleh pengetahuan yang benar tentang roh dan semua obyek-obyek pengalaman. Pengetahuan ini disebut tatwa jnana, yaitu mengetahui realitas sebagai keseluruhan yang berbeda dengan yang bukan realitas. Filsafatnyaya menetapkan tiga tahapan jalan untuk mendapat tujuan pengetahuan pembebasan. Tahap pertama adalah sravana, yaitu belajar kitab suci, dimana seseorang harus mempelajari kitab-kitab rohani dan mendengarkan dari orang-orang memiliki otoritas dan para Rsi. Dengan melaksanakan hal ini maka seseorang harus mempergunakan kekuatan penalarannya untuk mempertimbangkan lebih jauh lagi apa yang telah dipelajarinya. Proses perenungan ini disebut manana. Tahapan terakhir seseorang harus berkontemplasi tentang roh, mengkonfirmasikan pengetahuannya dan mempraktekkan kebenaran di dalam hidupnya, inilah yang disebut tahapan nididhyasana. Dengan mempraktekkan srvana, manana, dan nididhyasana seseorang akan sadar akan hakekat dari roh yang sepenuhnya berbeda dengan badan, pikiran, panca indra dan obyek-obyek lainnya di dunia ini. Kebenaran di realisasikan untuk mengusir kegelapan dari identifikasi diri dan kesalah pahaman (mitya-jnana) menyangkut “keakuan” dan “keengkauan”. Bila hal ini yang terjadi maka manusia menghapuskan nafsunya dan dorongan hatinya serta mulai mewujudkan tugas-tugasnya sendiri tanpa mempunyai keinginan untuk memetik buah-buah dari perbuatannya. Api pengetahuan yang benar akan membakar karma masa lalu seseorang seperti benih, yang akan menjadi tidak bersemai. Dengan demikian pengetahuan yang benar akan mengantarkan seseorang ke suatu keadaan dimana tidak ada siklus kehidupan dan kematian. Keadaan inilah yang disebut pembebasan.

DAFTAR PUSTAKA
Donder, I. K. 2005. Brahmavidya. Paramita: Surabaya.
Donder, I.K. 2009. Teologi Memasuki Gerbang Ilmu Pengetahuan Ilmiah tentang Tuhan Paradigma Sanatana Dharma. Paramita: Surabaya.
Maswinara, I Wayan. 1999. Sistem Filsafat Hindu (Sarva DarsanaSamgraha). Paramita: Surabaya.
Rama, Svami.2009. Hidup dengan para Rsi, Yogi Himalaya. Paramita: Surabaya.
Sivananda, Svami, 2003. Intisari Ajaran Hindu. Paramita: Surabaya.
Suamba, I.B Putu. 2003. Dasar-Dasar Filsafat India. PT Mabhakti: Denpasar
Suwira, Wayan. 2008. Buku Ajar Sejarah Filsafat India. Departemen Filsafat Universitas Indonesia.
Tim penyususn. 2009. Modul Materi Pokok Darsana. Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu: Departemen Agama RI.
http://www.britannica.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *