MODUL PURVA MIMAMSA

BAB IV
PURVA MIMAMSA DARSANA

4.1 Pendiri Purva Mimamsa Darsana
Pendiri dari Purva Mimamsa adalah Rsi Jaimini (400 SM) yang merupakan murid dari Maha Rsi Vyasa. Beliau menulis kitab mimamsa sutra yang menjadi sumber pokok ajaran mimamsa. Dalam perkembangannya muncullah kitab komentar terhadap mimamsa sutra yang ditulis oleh Sabaraswamin. Komentar ini diterangkan dengan cara berbeda oleh Kumarila Batta dan Prabhakara, sehingga muncullah dua aliran yaitu pengikut aliran Kumarila Batta dan pengikut Prabhakara, dimana pokok ajaran mereka pada prinsipnya tidak berbeda. Mimamsa dibedakan menjadi dua, yaitu purva Mimamsa dan uttara Mimamsa yang juga disebut dengan vedanta. Purva Mimamsa atau Karma Mimamsa adalah penyelidikan ke dalam bagian yang lebih awal dari kitab suci Veda, suatu pencarian ke dalam ritual-ritual Veda atau bagian Veda yang hanya berurusan dengan masalah mantra dan Brahmana saja. Disebut purva Mimamsa karena ia lebih awal (purva) dari pada uttara Mimamsa (vedanta), dalam pengertian logika, dan tidak demikian banyak dalam pengertian kronologis.
Sistem filsafat Mimamsa merupakan sistem filsafat India yang secara langsung berkaitan dengan Veda. Kata ’mimamsa’ berarti menganalisa dan memahami seluruhnya.

4.2 Pokok-Pokok Ajaran Mimamsa Darsana
Sistem filsafat mimamsa termasuk dalam kelompok astika yang ajarannya didasarkan sepenuhnya pada kitab suci Veda. Mimamsa mengakui kewenangan Veda sebagai kitab suci yang mengandung kebenaran sejati. Sebagai filsafat, mimamsa mencoba menegakkan keyakinan keagamaan veda. Kesetiaan atau kejujuran yang mendasari keyakinan keagamaan veda terdiri dari bermacam-macam unsur, yaitu: 1) percaya dengan adanya roh yang menyelamatkan dari kematian dan menikmati hasil dari ritual di sorga, 2) percaya tentang adanya kekuatan atau potensi yang melestarikan dampak dari ritual yang dilaksanakan, dan 3) percaya bahwa dunia adalah suatu kenyataan dan semua tindakan yang kita lakukan dalam hidup ini bukanlah suatu ilusi. Pengikut Buddha tidak mengakui adanya roh dan kenyataan dunia.
Pokok pembicaraan pada sistem mimamsa ialah pengukuhan kewibawaan Veda bagian Brahmana yang menekankan pada upacara keagamaan, maka dari itu mimamsa juga disebut dengan karma mimamsa atau dharma mimamsa, karena kitab Brahmana merupakan karma kanda dari Veda. Pembicaraan mengenai upacara keagamaan sudah ada pada jaman Brahmana dan sebagai hasilnya sudah termuat dalam kitab Kalpasutra. Mimamsa juga membahas ilmu tentang suara dan mantra, tetapi perhatian pokok Mimamsa adalah penggunaan meditasi dengan ritual. Ajaran mimamsa adalah ajaran yang bersifat pluralistik dan realistik dalam artian jiwa itu berjumlah banyak atau jamak, sedangkan alam semesta adalah nyata dan berbeda dengan jiwa.
Tujuan utama sistem filsafat mimamsa adalah untuk mempertahankan dan memberikan landasan filsafat ritualisme bagi kitab suci Veda. Dukungan diberikan dalam dua cara, yaitu (1) dengan memberikan sebuah metodologi interpretasi agar ajaran-ajaran Veda yang rumit mengenai ritual-ritual bisa dipahami, diharmoniskan dan diikuti tanpa suatu kesulitan, dan (2) dengan menyediakan suatu justifikasi filsafat ritualisme. Dukungan ini dikembangkan berdasarkan nalar untuk memperkuat posisi Veda sebagai kitab suci sabda Tuhan. Selain itu tujuan mimamsa adalah menyusun aturan-aturan cara menerangkan isi Veda yang sebenarnya atau untuk menegakkan dharma.

4.3 Metafisika Mimamsa
4.3.1 Pandangan Umum
Ajaran mimamsa bersifat pluralistis dan realitis, artinya sistem filsafat ini menerima adanya kejamakan jiwa dan pengadaan asas benda yang menyelami alam semesta ini, serta mengetahui bahwa objek-objek pengamatan adalah nyata. Mimamsa menolak pandangan Buddha dan Advaita yang menyatakan bahwa dunia ini maya. Mimamsa juga percaya dengan adanya jiwa, sorga, neraka dan para dewa yang semuanya ini dapat dicapai dengan melalui upacara yang tepat menurut kitab suci Veda. Jiva dan unsur-unsur materi pembentukan dunia ini menurut mimamsa bersifat permanen atau kekal. Semua benda yang ada di dunia ini ditentukan oleh hukum karma.
Di dunia ini ada tiga komposisi yaitu:
a) Kehidupan jasmani sebagai tempat jiwa untuk menikmati akibat perbuatannya dari masa-masa kehidupan yang silam (bhogayatana)
b) Indriya yang dipergunakan sebagai alat oleh jiwa untuk menikmati adanya rasa suka dan duhka dalam hidup ini (bhoga sadana)
c) Objek-objek yang merupakan buah dari suka dan duka (bhogya sadana).
Mimamsa tidak mengakui adanya Tuhan, sedangkan mengenai teori tentang atom sama dengan yang dikemukakan oleh Vaisesika, akan tetapi berbeda mengenai pengaturan atom-atom tersebut. Menurut mimamsa atom-atom tidak membutuhkan pengaturan dari Tuhan, melainkan diatur oleh hukum karma. Tidak ada penciptaan dan penghancuran dunia ini, karena keberadaan dunia ini adalah kekal.
Metafisika mimamsa bersifat pluralistis dan realistis, artinya percaya adanya jumlah jiwa yang tak terhitung dan dunia yang nyata, tetapi keduanya berbeda. Mimamsa percaya dengan hanya realitas seperti kenyataan adanya energi, moral, sorga, neraka dan sebagainya yang tidak dapat diketahui melalui pengalaman indriya.
4.3.2 Teori dari Kekuatan Sakti dan Apurva
Menurut mimamsa bahwa setiap benda di dunia ini memiliki suatu kekuatan tertentu yang ada di dalamnya. Kekuatan itu disebut sakti, yang tidak dapat dilihat dengan mata. Contohnya; sebuah benih (kacang hijau) yang memiliki suatu kekuatan di dalamnya sehingga benih tersebut dapat tumbuh kecambah. Kecambah tersebut tidak dapat tumbuh apabila ada yang mengganggu biji tersebut sehingga rusak. Ini berarti ada hubungan erat antara benda (biji kacang hijau) dengan kekuatan atau sakti. Selain pada benih, kekuatan yang tidak tampak itu juga dapat kita lihat pada api dengan kekuatan sinar membakarnya, dan kekuatan yang ada pada air.
Dharma secara umum menurut Mimamsa adalah upacara-upacara keagamaan yang bersumber dari Veda atau kebajikan-kebajikan yang bersifat keagamaan yang mengandung tuntunan-tuntunan kesusilaan yang mutlak. Dharma tidak akan mendatangkan pahalanya secara langsung melainkan dengan perantaraan, artinya walaupun seseorang telah melakukan upacara keagamaan dengan benar dan berdasarkan kemurnian kesusilaan, ia tidak akan secara langsung memetik buah dari perbuatannya itu. Sebab semua tindakan mengenai upacara hanya bersifat sementara, tidak abadi. Oleh karena itu upacara tidak mungkin mempunyai hubungan langsung dengan hasilnya. Pelaksanaan upacara adalah suatu kelompok tindakan yang akan berakhir bila tindakan telah selesai dilakukan, sehingga pahala tidak akan diperoleh setelah upacara itu dikerjakan, melainkan harus menunggu beberapa waktu. Terlebih untuk mencapai sorga, sebab sorga akan diperoleh bila orang itu telh meninggal dunia.
Timbul pertanyaan apa yang dapat mengantarkan pahala tersebut sehingga tepat sasaran? Mimamsa mengemukakan suatu ajaran yang disebut Apurva. Kata apurva berati ’tenanga yang tidak tampak. Suatu upacara yang telah dilakukan seseorang akan melahirkan tenaga atau daya yang tidak tampak di dalam jiva orang yang melakukan ritual tersebut. Tenaga atau daya ini akan terus bertahan, sehingga pahala yang sesuai dengan perbutan itu menjadi masak. Dengan demikian dapat dikatakan apurva adalah suatu jembatan yang menghubungkan ritual dan buahnya. Pahala tersebut dapat dinikmati dalam hidup di dunia ini dan juga di alam akhirat.
Dharma menurut ajaran Veda ada dua jenis, yaitu: tindakan yang diwajibkan dan tindakan yang tidak diwajibkan. Tindakan yang diwajibkan meliputi ritual yang berlaku setiap hari dan berkala. Sedangkan tindakan yang tidak diwajibkan adalah ritual yang dilakukan secara fakultatif.
4.3.3 Pandangan Mimamsa tentang Jiva
Dalam ajaran mimamsa dinyatakan ada 4 katagori, yaitu: substansi, kualitas, aktivitas dan sifat umum. Ada 9 substansi yaitu: tanah, air, api, udara, akasa, akal, waktu, ruang dan jiva. Kumarila Bhatta menambahkan 2 substansi lagi yaitu: tamas atau kegelapan dan sabda atau suara. Substansi dalam ajaran mimamsa dapat diamati, umpamanya debu yang tampak di dalam sinar matahari.
Substansi, kualitas, sifat umum, dan sifat khusus tidak boleh dibeda-bedakan secara mutlak, karena jika katagori ini dapat dibedakan secara mutlak tentulah yang satu dapat dipisahkan dari yang lain. Umpama kita hendak memisahkan mawar dengan merahnya tentulah merupakan suatu pekerjaan yang mustahil.
Sesungguhnya katagori-katagori tidak dapat dipisah-pisahkan. Dapat dikatakan bahwa semuanya mewujudkan kesamaan di dalam perbedaan atau benda-benda. Adanya kesamaan kualitas dengan substansi, maka kita dapat menyebutkan kualitas dari substansi itu, misal: bunga mawar adalah merah. Bila direnungkan tentulah substansi tidak sama secara mutlak, umpama bunga mawar tidak sama dengan merah, akan tetapi tidak benar juga bahwa substansi berbeda mutlak dengan kualitas, umpama mawar tidak dapat dibedakan secara mutlak dengan merahnya. Keduanya secara bersama-sama mewujudkan suatu satu-kesatuan, yaitu di mana ada mawar disana ada merah.
Menurut mimamsa jiva berbeda dengan tubuh, indriya dan budhi. Jiva jumlahnya sangat banyak dan tak terhitung, tiap tubuh ada satu jiva. Semua jiva memiliki kesadaran bersifat kekal, berada di mana-mana dan meliputi segala sesuatu. Disamping menjadi subjek pengetahuan, jiva juga menjadi objek pengetahuan, artinya; kesadaran akan adanya objek mengandung di dalamnya kesadaran akan adanya pribadi. Pribadi itu segera dinyatakan oleh objek yang dikenal, umpamanya di dalam ucapan ’Akumelihat sebuah meja’. Ucapan ini bermaksud menyatakan adanya sebuah ’meja’ dan sekaligus menyatakan adanya ’Aku’. Demikianlah pribadi sekaligus menjadi subjek dan objek pengetahuan, hal ini disebabkan karena dalam pribadi ada dua unsur yaitu: unsur substansi dan unsur kesadaran.
Yang dimaksud unsur substansi adalah pribadi yang menjadi objek pengetahuan, sedangkan unsur kesadaran ialah pribadi yang menjadi subjek pengetahuan. Menurut mimamsa yang mengemudikan tubuh adalah jiva. Pada mulanya tujuan hidup manusia menurut mimamsa adalah mencapai sorga, akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya mimamsa menyatakan bahwa tujuan hidup manusia yang tertinggi adalah kelepasan.
Veda menurut mimamsa tanpa memiliki penyusun, baik manusia maupun Tuhan. Mimamsa tidak memberikan tempat kepada Tuhan di dalam sistemnya. Dunia bukan diciptakan oleh Tuhan, sebab dunia tidak berawal dan berakhir. Tidak ada penciptaan dan peleburan, alasannya adalah seandainya dunia ini diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Pengasih, maka tidak mungkin di dunia ini ada penderitaan. Namun mimamsa bukan bersifat atheis, karena mimamsa percaya dengan adanya Veda yang bersifat kekal yang di dalamnya terdapat deva-deva sebagai manifestasi Tuhan.

4.4 Epistemologi Mimamsa
Dalam usaha membuktikan kewenangan Weda, Mimamsa membahas secara berhati-hati tentang alam dari ilmu pengetahuan, dunia, dan kriteria dari kebenaran dan kesalahan, dan sumber ilmu pengetahuan yang dapat dipercaya. Tujuan mimamsa tentang sumber, alam dan keterbatasan dari ilmu pengetahuan terkait dengan beberapa hal atau masalah yang sangat menarik akan dibahas di bawah ini!
4.4.1 Alam dan sumber dari Ilmu Pengetahuan
Sistem mimamsa seperti sistem filsafat India lainnya menerima dua jenis pengetahuan, yaitu: immediate dan mediate. Immediate ialah pengetahuan yang terjadi tiba-tiba, langsung dan tak terpisahkan, sedangkan mediate ialah pengetahuan yang diperoleh melalui perantara atau media. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang lain dan tidak dipengaruhi oleh keadaan yang salah.
Objek pengetahuan immediate haruslah sesuatu yang ada atau zat, bila objek pengetahuan itu dikaitkan dengan indriya-indriya kita, maka dalam jiva kita akan meuncul pengetahuan kita, maka dalam jiva kita muncul pengetahuan immediate tentang hal tersebut. Bila objek ini dikaitkan dengan indriya, mula-mula muncul kesadaran tentang objek itu. Yang kita ketahui bahwa objek itu sendiri adalah benda, seperti apa adanya, tetapi belum dapat dimengerti.
Pengetahuan yang berdasarkan apa yang tidak dapat ditentukan terlebih dahulu serta datangnya secara tiba-tiba disebut Nirvikalpa pratyaksa atau alocana-jnana. Bila pada tingkatan berikutnya kita menginterpretasikan arti dari objek itu berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki sebelumnya, sampai kita mengerti benar mengenai benda itu, itulah persepsi yang sudah kita tentukan yang dinyatakan dengan pertimbangan-pertimbangan, pengetahuan semacam ini disebut savikalpa pratyaksa.
Pengetahuan yang didapat dari indriya adalah pengetahuan yang sebenarnya tentang dunia yang dibentuk oleh bermacam-macam benda. Walaupun tahap pertama tidak dikenal secara tegas, yang kemudian pada tahap kedua dikenal secara lengkap walaupun masih dalam tahap awal. Dalam tahapan kedua, pikiran hanya memperkirakan dengan mempergunakan bantuan pengalaman sebelumnya, apa yang muncul, tapi bukan berasal dari khayalan. Selanjutnya hendaklah diakui bahwa semua bentuk penglihatan berisi interpretasi pikiran di dalamnya dan tidak diperlukan suatu khayal atau ilusi terhadap apa yang dilihat. Demikian pula dengan objek dunia yang bervariasi ini memiliki sifat yang berbeda- beda yang telah memberikan gerak pertama kepada pikiran bila kita menyadarinya.
4.4.2 Sumber Pengetahuan yang tidak berasal dari Pengenalan Indriya
Kumarila Bhatta mengajarkan hanya enam alat pengetahuan untuk mendapatkan pengetahuan (pramana), sedangkan Prabhakara hanya mengakui lima. Enam alat pengetahuan itu adalah: pratyaksa (pengamatan), anumana (penyimpulan), upamana (perbandingan), sabda (kesaksian), arthapatti (perkiraan tanpa bukti), dan anupalabdhi (tanpa persepsi). Anupalabdhi hanya diakui oleh Kumarila Bhatta. Pengamatan dan penyimpulan dalam mimamsa sama dengan yang dikemukakan oleh Nyaya.
a. Upamana (perbandingan)
Pandangan mimamsa mengenai perbandingan berbeda dengan pandangan Nyaya. Nyaya mengakui perbandingan adalah sumber pengetahuan yang unik, tetapi mimamsa selain menerima perbandingan sebagai sumber yang berdiri sendiri, menerima pula perbandingan sebagai perasaan atau hal yang sangat berbeda. Menurut mimamsa, pengetahuan muncul dari perbandingan bila kita tahu bahwa objek yang diingat adalah persis seperti yang diterima. Pengetahuan seperti ini tidak dapat diklasifikasikan dalam persepsi, karena objek yang dikenal sama. Sabaraswanin mendefinisikan upamana sebagai pengetahuan tentang suatu objek yang tidak diteerima sama dengan objek lain yang dikenalnya.
b. Sabda (kesaksian)
bagi mimamsa alat pengetahuan yang terpenting adalah kesaksian atau sabda, yaitu sabda kitab suci Veda. Veda dipandang bukan sebagai hasil karya manusia dan juga hasil karya Tuhan, karena Veda tidak disusun oleh manusia dan juga oleh Tuhan. Veda adalah kekal.
Aliran mimamsa memberikan perhatian yang besar kepada sabda sebagai sumber pengetahuan, karena sabda harus membuktikan kekuasaan dari Veda, yaitu:
1) yang bersifat pribadi dan
2) yang tidak bersifat pribadi.
Yang pertama terdapat dalam bentuk tertulis atau lisan dari seseorang, sedangkan yang kedua menyatakan kekuatan dari pada Veda itu sendiri. Kekuatan atau kekuasaan memberikan informasi tentang adanya suatu objek (siddharta-wakya) atau memberikan arah untuk penampilan suatu perbuatan (widhayaka-wakya). Mimamsa tertarik pada kekuatan Veda yang tidak bersifat pribadi, karena Veda memberikan arah untuk melakukan upacara keagamaan. Veda dipandang sebagai kitab yang mengandung perintah untuk melakukan kewajiban dan bersifat kekal.
Kata-kata yang ada di dalam Veda bukan disusun oleh manusia, dan Tuhan, karena susunan kata-kata itu bersifat khas dan tetap. Inilah yang membedakan Veda dengan hasil tulisan manusia. Veda menyatakan dirinya sendiri dan memiliki kebenaran di dalam dirinya sendiri, oleh karena itu apa yang dikatakan Veda adalah benar. Veda juga tidak bertentangan dengan alat-alat pengetahuan yang lain. Alat-alat pengetahuan yang lain berhubungan dengan dunia yang dapat diamati, sedangkan Veda berhubungan dengan dunia yang tidak dapat diamati.
c. Arthapatti (perkiraan tanpa bukti)
arthapatti adalah suatu bentuk perkiraan yang sangat diperlukan terhadap sesuatu yang sulit dipahami melalui beberapa penjelasan yang berlawanan satu dengan yang lainnya. Bila kita memberikan penjelasan tentang suatu benda yang belum pernah dilihat wujudnya kepada seseorang, hendaklah kita menjelaskan benda yang dimaksud itu dengan benda lain yang sudah dikenal, sehingga orang itu mudah dapat mengarikannya. Pengetahuan yang diperoleh dari peristiwa ini bukanlah merupakan suatu kesimpulan dan bukan pula merupakan suatu bentuk perbandingan.
d. Anupalabdhi (tanpa persepsi)
Anupalabdhi adalah cara untuk mendapatkan pengetahauan mengenai tidak adanya pengamatan terhadap suatu objek dikarenakan bendanya memang tidak ada. Misalnya ada orang yang bertanya ’bagaimana saya tahu tentang ketidakadaan itu, maka jawabannya adalah cobalah lihat dan katakan apakah ada meja di kamar itu’. Orang itupun tidak dapat mengatakan tentang hal itu karena benda itu memang tidak ada. Oleh mimamsa dikatakan bahwa ketidakadaan meja di kamar itu diketahui karena tidak adanya pengamatan terhadap benda itu, sehingga ia tidak dapat memahami mengenai benda tersebut.

4.5 Etika Mimamsa
4.5.1 Kedudukan Veda di dalam Agama
Mimamsa tidak percaya dengan adanya penciptaan atas dunia ini. Mimamsa tidak percaya adanya Tuhan yang kekuasaannya berada di atas atau minimal setara dengan Veda. Menurut mimamsa Veda itu sendiri mendasari kebenaran yang abadi atau hukum-hukum tentang adanya perintah Veda. Veda itu sendiri menyiapkan ciptaan dari apa yang baik dan apa yang salah. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang mengabdi kepada kesetiaan terhadap perintah-perintah Veda.
4.5.2 Kewajiban yang Mendasar
Ritual atau upacara yadnya harus dilaksanakan karena berkaitan dengan veda, bukan dengan tujuan-tujuan yang lain. Pengorbanan yang dilakukan jaman Veda dikalkulasi untuk menyenangkan Dewi Matahari, Dewa Hujan dan dewa-dewa yang lain, atau untuk memenangkan perang dan mengusir penyakit. Mimamsa merupakan kelanjutan dari pada sistem keagamaan yang bersumber dari Veda, maka itu upacara keagamaan secara detail lebih mendapat tempat dari pada dewa-dewa itu sendiri, yang secara perlahan-lahan menjauh dan menghilang ke dalam atau menjadi objek dari struktur. Dewa itu penting hanya sebagai sesuatu, yang namanya harus diberikan, dimana dilakukan upacara. Tetapi tujuan dasar dari pada melakukan upacara yadnya itu adalah bukan persembahan untuk menyenangkan dewa apapun.
Ritual juga bukan untuk menyucikan jiwa atau memperbaiki moral. Upacara keagamaan dilaksanakan hanya karena Veda memerintahkan demikian atau untuk kewajiban. Beberapa dari upacara ini diperuntukkan menikmati sorga atau memperoleh keuntungan-keuntungan duniawi, seperti air hujan. Mimamsa mencapai puncaknya yang tertinggi yaitu antara lain melaksanakan kewajiban demi untuk kewajiban itu sendiri.
Mimamsa percaya bahwa perbuatan yang wajib untuk dilakukan bukan untuk memberikan keuntungan kepada pelakunya tetapi karena kita harus melakukan. Mimamsa percaya suatu kewajiban tidak harus dilakukan dengan tujuan yang menarik, tetapi alamlah yang menganjurkan agar seseorang melakukan tugasnya. Seorang filsuf barat yang bernama Kant menganggap benar adanya Tuhan, dan menurut kant pemujaan kepada Tuhan adalah kewajiban yang tertinggi, sedangkan menurut mimamsa kewajiban adalah kekuasaan Veda secara pribadi yang berkaitan dengan tugas.
4.5.3 Kebaikan yang Tertinggi
Pada awalnya kebaikan menurut mimamsa adalah pencapaian sorga atau suatu keadaan di mana ditemukannya kebahagiaan sejati. Sorga dianggap sebagai akhir dari suatu upacara keagamaan, akan tetapi pada akhirnya mimamsa menerima kelepasan sebagai tujuan tertinggi setelah penulis-penulis mimamsa mendapat pengaruh dari pemikir-pemikir dari sistem filsafat India lainnya.
Mereka menyadari bahwa perbuatan baik dan buruk itu ditentukan oleh keinginan, yang akibatnya akan menimbulkan kelahiran yang berulang-ulang. Apabila seseorang memahami bahwa kehidupan duniawi hanya permainan pikiran dan indriya yang menjadikan manusia menderita, maka seseorang akan mengontrol pikiran dan indriyanya supaya tidak melakukan perbuatan yang terlarang, sehingga kesempatan untuk lahir kembali menjadi lenyap. Dengan melakukan kewajiban yang diperintahkan oleh Veda seseorang akan terbebas dari kelahiran. Menurut sistem mimamsa jalan untuk mendapatkan kelepasan adalah pelaksanaan upacara keagamaan seperti yang diajarkan oleeh Kitab Veda, yaitu tindakan-tindakan yang diwajibkan dan menjauhkan diri dari perbuatan yang terlarang.
Kebebasan adalah keadaan yang tidak disadari, bebas dari kesenangan dan rasa sakit. Menurut mimamsa keadaan mental dan kesadaran tidak ada pada jiva, muncul kesadaran dan keadaan mental itu, bila jiva dikaitkan dengan objek melalui tubuh dan bagian-bagian tubuh yang lain. Kebebasan berarti lenyapnya hubungan jiwa dengan tubuh dan kembali kepada keadaan yang semula, yang bersifat kekal, berada di mana-mana dan meliputi segala sesuatu.

DAFTAR PUSTAKA
Donder, I. K. 2005. Brahmavidya. Paramita: Surabaya.
Donder, I.K. 2009. Teologi Memasuki Gerbang Ilmu Pengetahuan Ilmiah tentang Tuhan Paradigma Sanatana Dharma. Paramita: Surabaya.
Maswinara, I Wayan. 1999. Sistem Filsafat Hindu (Sarva DarsanaSamgraha). Paramita: Surabaya.
Rama, Svami.2009. Hidup dengan para Rsi, Yogi Himalaya. Paramita: Surabaya.
Sivananda, Svami, 2003. Intisari Ajaran Hindu. Paramita: Surabaya.
Suamba, I.B Putu. 2003. Dasar-Dasar Filsafat India. PT Mabhakti: Denpasar
Suwira, Wayan. 2008. Buku Ajar Sejarah Filsafat India. Departemen Filsafat Universitas Indonesia.
Tim penyususn. 2009. Modul Materi Pokok Darsana. Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu: Departemen Agama RI.
http://www.britannica.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *