MODUL SAMKHYA DARSANA

BAB V
SAMKHYA DARSANA

5.1 Pendiri Ajaran Samkhya
Samkhya termasuk salah satu di antara sistem-sistem filsafat India yang terkuno (Modul depag, 102). Sistem Samhkya adalah dualistik dan sistem ini percaya bahwa kesadaran Purusa dan ketidaksadaran Prakrti adalah terpisah, hidup berdampingan, dan saling tergantung satu sama lainnya. Acuan-acuan Samkhya dapat ditemukan di dalam beberapa teks seperti upanisad, yaitu Chandogya, Prasna, Katha, dan khususnya Svetasvatara upanisad. Di samping itu acuan dapat dilihat pada bagian santi parva di dalam mahabharata, Bhagavadgita (Bab II, III, dan V), dan di dalam kitab vedanta sutra karya Badrayana. Pendiri dari sistem ini adalah Sri Kapila Muni, yang dikatakan sebagai putra Brahma dan Avatara dari Visnu. Samkhya mengakui kewenangan Veda, oleh karena itu ajarannya cenderung kepada konsep-konsep kitab-kitab keagamaan yang terkuno seperti Sruti, Smerti dan Purana. Maha Rsi Kapila menulis tentang sistem ajaran samkhya pada sebuah buku yang bernama samkhya sutra, dan kitab ini juga disebut samkhya-pravacana sutra, sehingga filsafat samkhya juga dikenal dengan nama Samkhya pravacana. Sistem filsafat samkhya juga dinamakan atheistik samkhya atau Nir Isvara Samkhya, karena samkhya dalam ajarannya Sutra Sāṁkhyapravacana menyatakan bahwa tidak ada tempat filosofis bagi Tuhan penciptaan dalam sistem ini, dan bahwa keberadaan Ishvara tidak bisa dibuktikan dan karenanya tidak dapat diterima ada. Akan tetapi samkhya mengakui adanya Purusa sebagai suatu asas yang tertinggi. Dan disebut theistic samkhya karena yoga menambahkan satu aspek dalam ajarannya yaitu Tuhan yang disebut Isvara.
Banyak penulis-penulis lain setelah Kapila Muni yang menulis filsafat Samkhya. Kapila dikatakan memiliki seorang murid yang bernama Asuri, dan Asuri memiliki seorang murid yang bernama Pancasikha. Pancasikha menulis beberapa buah buku yang bertujuan memberikan penjelasan terperinci dari sistem filsafat Samkhya, akan tetapi hasil karyanya telah tiada karena lamanya waktu sehingga kita tidak memiliki keterangan tentang isinya. Adapun penulis-penulis Samkhya yang hasil karyanya sampai kepada kita yaitu: Isvarakrsna yang menulis Samkhya karika, inilah karya tulis ajaran Samkhya yang tertua yang sampai kepada kita, Gaudapada menulis samkhya-karikabhasya, Vacaspati Misra menulis Tattvakaumudi, Vijnanabhiksu menulis samkhya-pravacana-bhasya dan samkhya-sara, Aniruddha menulis samkhya pravacana-sutra-vrtti, dan Matharavrti karya Mathara.
Pada mulanya perkataan samkhya dihubungkan dengan hal-hal yang bersifat gaib. Perkataan samkhya terdiri dari dua kata yaitu ”sam” yang berarti bersama-sama atau dengan, dan ”khya” berarti bilangan. Jadi samkhya berarti susunan yang berukuran bilangan. Perkataan samkhya juga berarti pengetahuan yang sempurna (sayag-jnana) yang dimaksud disini adalah filsafat tentang sesuatu.
Samkhya juga berarti ”jumlah” dan sistem ini memberikan sejumlah prinsip-prinsip alam semesta yang banyaknya 25 buah. Istilah samkhya juga dipergunakan dalam pengertian ”Vicara” atau ”perenungan filosofis”. Seperti ajaran filsafat India yang lain, ajaran samkhya bertujuan membebaskan seseorang dari penderitaan di dunia ini.

5.2 Pokok Ajaran Samkhya
Ajaran samkhya bersifat dualistis karena mengakui adanya dua realitas asasi sebagai asal mula dari segala sesuatu yaitu Purusa dan prakerti. Sistem samkhya juga disebut realistis karena mengakui adanya realitas dunia atau alam semesta yang berbeda dengan Purusa. Samkhya mengakui bahwa Purusa itu banyak sehingga disebut menganut sistem pluralistis. Filsafat samkhya menyangkal bahwa suatu benda dapat dihasilkan dari ketiadaaan. Samkhya menganggap purusa dan prakriti adalah suatu kenyataan, purusa adalah ”sang diri yang mengetahui” dan prakriti adalah ”objek yang diketahui”. Purusa dan prakriti adalah tanpa awal dan tanpa akhir (anadi-ananta). Ketidak berbedaan (penyatuan) antara keduanya merupakan penyebab kelahiran dan kematian. Pembedaan (pemisahan) antara purusa dan prakriti memberikan pembebasan (mukti). Baik purusa maupun prakriti adalah nyata (zat). Purusa tidak terikat (asangga), ia merupakan kesadaran, sedangkan prakriti adalah si pelaku dan sipengikat (sangga).
Ajaran pokok samkhya adalah adanya dua realitas yaitu Purusa dan Prakerti yaitu asas kejiwaan dan kebendaan yang merupakan asal mula dari segala sesuatu. Purusa dan Prakerti bersifat kekal dan tidak dapat dihayati. Purusa berjumlah banyak dan tidak terhitung hal ini berbeda dengan pernyataan upanisad yang mengakui satu purusa yang beersifat universal. Sedangkan Prakerti atau asas kebendaan yang merupakan sebab adanya alam semesta pada hakekatnya juga tidak dapat diamati, namun nyata-nyata ada. Samkhya berupaya untuk menjelaskan evolusi dunia di kedua tingkat kosmologis dan individu. Menurut filsafat samkhya tidak ada suatu hasil (wujud) yang berasal dari ketiadaan, hasil dari apa yang sebelumnya tidak ada kemungkinan besar tidak mungkin. Yang tidak ada tidak dapat diadakan oleh sesuatu. Dalam filsafat samkhya penyebab dipandang sebagai suatu substansi, di dalam penyebab itulah segalanya tersimpan. Menurut Samkhya, ada dua realitas utama: purusa (monads kesadaran), saksi pasif murni (saksin), dan Prakrti (dunia fenomenal). Purusa adalah sumber pengalaman sadar dan Prakrti adalah bidang pengalaman sebagai purusa terwujud untuk masing-masing. Segala sesuatu yang bisa dialami adalah manifestasi dari Prakrti (http://www.britannica.com).

5.3 Metafisika Samkhya
Pembicaraan dalam metafisika adalah Prakerti, Purusa, tri Guna, Penciptaan Dunia, dan pandangan Samkhya tentang Tuhan.
5.3.1 Prakerti
Pokok ajaran samkhya ialah tentang Purusa dan Prakerti yaitu asas rohani dan kebendaan, dan dari kedua asas inilah tercipta alam semesta beserta isinya. Prakriti adalah penyebab pertama dari-alam semesta. Semua objek pikiran ini baik badan, pikiran, perasaan adalah terbatas dan merupakan saling ketergantungan satu dengan yang lainnya. Semua peristiwa fisik dianggap manifestasi dari evolusi Prakriti. Prakrti adalah prinsip pertama, akar penyebab, dari mana dunia pengalaman kita berkembang (http://www.britannica.com). Prakriti merupakan sipelaku dan sipenikmat, yang tersusun dari asas materi dan rohani. Prakriti artinya ”yang mula-mula”, yang mendahului apa yang dibuat dan berasal dari kata ’Pra’ (sebelum), dan ’Kri’ (membuat yang mirip dengan Maya dari vedanta). Prakriti merupakan sumber dari alam semesta dan ia juga disebut sebagai Pradhana (pokok), karena semua akibat ditemukan padanya dan ia juga merupakan sumber dari segala benda. Ia tidak memiliki sebab, tetapi merupakan penyebab dari semua akibat.
Prakriti adalah sumber alam semesta, yang merupakan penyebab material dan efisien dari alam semesta. Menurut filsafat samkhya penciptaan berasal dari prakriti yang ada dengan sendirinya dan tak ada sangkut pautnya dengan purusa tertentu yang menjadikannya. Oleh sebab itu menurut filsafat samkhya menyatakan bahwa tidak perlu adanya Pencipta yang cerdas atau bahkan satu kekuatan yang mengatasinya. Filsafat ini identik dengan filsafat materialisme yang melihat segalanya sebagai materi yang dapat dinikmati oleh indriya. Prakriti dalam filsafat samkhya merupakan ketidak-adaan kecerdasan, prakriti hanyalah benda mati (materi) yang dilengkapi dengan kemampuan teertentu yang disebabkan oleh guna (sifat). Prakriti hanya menciptakan sesuatu bila ia bergabung dengan purusa. Prakriti yang merupakan sebab pertama dari alam semesta bersifat kekal abadi, hal tersebut dapat diketahui dari:
a. Tiap hal yang ada di dunia ini bersifat terbatas, dan yang bersifat terbatas tergantung pada sesuatu yang tidak terbatas, yaitu prakriti.
b. Benda-benda di dunia ini mempunyai sifat-sifat umum tertentu, yang menyebabkan pemilik-pemiliknya dapat menjadi senang, susah, dan netral, dan semuanya ini mempunyai sumber yang sama, yaitu bersumber pada prakriti.
c. Semua sebab itu mengalir dari semua aktivitas, dari semua sebab yang mengandung potensi di dalamnya, yaitu prakriti.
d. Suatu akibat tidak mungkin menjadi sebabnya sendiri, oleh karena itu tentu ada sebab asasi, dan sebab asasi itu adalah prakriti.
e. Alam semesta ini mewujudkan suatu kesatuan, dan adanya suatu kesatuan menunjukkan adanya suatu sebab yang menyatukannya yaitu prakriti (Modul Depag, 2009:106).
Dari prakriti muncullah buddhi kosmik atau mahat, dari mahat timbullah ahamkara kosmis atau prinsip keakuan, dari keakuan muncul 10 indriya dan pikiran pada sisi subyektifnya, dan 5 tanmatra halus dari: suara, bau, rasa, warna, dan sentuhan pada sisi objektifnya. Dari tanmatra ini timbul 5 unsur kasar (panca maha bhuta); tanah, api, air, udara, dan ether. Menurut filsafat samkhya prakriti tersusun atas tiga guna atau kekuatan sifat, yaitu: (1) sattvam (kemurnian, keselarasan, keseimbangan), (2) rajas (nafsu, kegiatan, gerak, aktivitas), (3) tamas (lamban, kegelapan, kemalasan, tanpa kegiatan). Guna artinya ”tali” yang membelenggu roh dengan 3 pintal ikatan. Tiga guna itu tidak pernah terpisah dan saling menunjang satu sama lainnya serta saling bercampur. Ada dua bentuk perubahan tri guna yaitu swarupa parinama dan wirupa parinama. Swarupa parinama ialah perubahan yang terjadi pada saat pralaya, dimana masing-masing guna berubah pada dirinya sendiri tanpa mengganggu yang lain, sedangkan wirupa parinama ialah bila guna yang satu menguasai guna yang lainnya sehingga terjadilah penciptaan. Keeratan hubungannya seperti nyala api dan minyak pada lampu. Ketiga guna itu bukanlah sifat-sifat atau kualitas-kualitas, mereka merupakan tiga elemen substansial yang membentuk prakriti, seperti tiga utas benang membentuk seutas tali. Semua benda tersusun atas tiga guna yang saling berpengaruh satu sama lainnya, sehingga timbullah evolusi atau perwujudan. Penghancuran materi hanyalah ketiadaan wujud, atau penghancuran hanyalah tak terlihatnya wujud atau bentuk dari sesuatu yang telah hancur, namun ia tetap ada. Uraian filsafat Samkhya di atas mirip dengan teori kekekalan massa dan kekekalan energi dalam ilmu fisika, yakni; massa suatu unsur atau zat selalu tetap (kekal), jika ia hancur lebur hingga menjadi bagian yang tidak mungkin diamati maka ia akan berubah wujud menjadi energi. Di dalam energi itulah seluruh massa tersembunyi. Hal ini relevan dengan bunyi sloka Bhagavadgita, II.16; ”na sato vidyate bhavo na bhavo vidyate satah, ubhayor api dristo ’nats tv anayos tattvadarsibhih” artinya apa yang tidak ada tak akan pernah ada (dan) apa yang ada tidak pernah berhenti ada, kedua hal ini telah dimengerti oleh para filosof”.
Karakter suatu mahluk ditentukan oleh tri guna. Sattva adalah keseimbangan, bila sattva guna yang menang maka terjadi kedamaian atau ketenangan. Rajas guna adalah aktivitas yang menyebabkan munculnya perasaan suka dan tidak suka, cinta dan benci, menarik dan jijik. Tamas guna adalah yang membelenggu sesuatu sehingga muncul kelesuan, kemalasan, penyebab khayalan. Bila sattva yang lebih berpengaruh maka ia akan mengatasi rajas dan tamas, demikian sebaliknya. Pada setiap manusia terdapat tiga guna tersebut. Jika sifat sattva yang lebih berkuasa pada dirinya, sehingga ia menjadi tenang, merenung, dan bermeditasi. Bila sifat rajas yang menguasai dirinya sehingga ia mampu melakukan berbagai jenis kegiatan duniawi, penuh semangat, dan bernafsu. Namun bila sifat tamas yang berkuasa, ia menjadi pemalas, masa bodoh, bodoh, lalai, serta menimbulkan khayalan. Salah satu guna ini biasanya lebih berpengaruh pada orang yang berbeda-beda, sehingga menimbulkan karakter orang yang berbeda-beda pula.
5.3.2 Purusa
Jenis kebenaran yang tertinggi yang kedua dalam ajaran samkhya ialah purusa. Menurut ajaran samkhya ia adalah jiva yang sangat berbeda dengan indriya, tubuh, pikiran, dan akal, dan ia adalah kesadaran yang selalu menjadi subjek pengetahuan dan tidak pernah menjadi objek pengetahuan. Purusa adalah kesadaran yang abadi yang tidak mengalami perubahan, tanpa sebab, meresapi segala namun bebas dari segala ikatan dan pengaruh dunia ini. Purusa atau sang diri mengatasi prakriti, keberadaan keduanya terpisah secara abadi. Purusa tanpa awal dan tanpa akhir, ia sangat halus dan berada di mana-mana, dan mengatasi pikiran, intelek, indriya-indriya, mengatasi ruang dan waktu, serta penyebab. Purusa merupakan pengamat abadi, yang sempurna dan tidak dapat diubah, kesadaran murni (cidrupa), bukan pelaku melainkan saksi. Ia ibarat kristal bening tanpa warna, ia menjadi beerwarna jika ada benda berwarna di depannya.
Keberadaan purusa dinyatakan oleh samkhya sebagai berikut:
a. Susunan alam semesta teerdiri dari banyak bagian, menunjukkan bahwa beradanya alam semesta ini bukanlah untuk kepentingan diri sendiri, melainkan demi kepentingan sesuatu yang berbeda dengan alam semesta itu sendiri. Contoh sebuah tempat tidur terdiri dari banyak bagian, namun bukan untuk kepentingan dirinya sendiri tetapi untuk kepentingan yang akan menidurinya. Demikianlah kebeeradaan dunia bukan untuk dunia itu sendiri melainkan untuk kepentingan purusa atau roh.
b. Semua manusia berusaha mendapatkan kelepasan, hal ini berarti tentu ada yang dapat dicapai untuk mendapatkan kelepasan. Yang mendapat kelepasan adalah purusa.
c. Semua objek di dunia ini termasuk pikiran dan kecerdasan harus diawasi agar ia dapat mencapai tujuannya. Karena itu harus ada yang mengarahkan objek dunia ini, dan itu adalah purusa.
d. Semua objek di dunia memberikan rasa senang, susah dan netral. Semua rasa itu hanya ada artinya bila ada sesuatu yang mengalaminya. Yang mengalami itulah purusa.
Menurut samkhya purusa atau roh jumlahnya tak terbatas, dan roh-roh tersebut satu sama lain berbeda secara abadi. Masing-masing roh berhubungan dengan satu badan. Adanya purusa yang banyak didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
a. Dalam kehidupan di dunia ini ada perbedaan hidup dan mati. Kelahiran dan kematian seseorang tidak berarti kelahiran atau kematian orang lain.
b. Jika seandainya ada satu roh untuk semua mahluk, maka aktivitas seseorang haruslah menyebabkan yang lain aktif.
c. Orang laki dan perempuan berbeda satu dengan yang lainnya, demikian pula burung berbeda dengan binatang buas. Perbedaan ini akan hilang seandainya hanya ada satu roh.
Setiap roh merupakan saksi dari kegiatan ciptaan yang terpisah, tanpa ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Purusa merupakan si pengamat yang menyatukan dirinya dengan prakriti tanpa kecerdasan. Purusa merupakan saksi (sāksi), penonton (drasta), penengah (madhyastha), satu-satunya (kaivalya), pasif dan netral (udāsina), sedangkan prakriti dengan hasil-hasilnya merupakan objek-objek kenikmatan. Purusa yang tak teerhitung jumlahnya mengusahakan daya-daya mekanik pada prakriti yang mengganggu keseimbangan prakriti dan akhirnya menghasilkan gerakan, kemudian evolusi alam di mulai.
Perbedaan sifat purusa dan prakriti antara lain: 1) purusa adalah kesadaran, sedangkan prakriti bukan kesadaran, 2) purusa sifatnya pasif (akarta), prakriti sifatnya aktif (karta), 3) purusa tak memiliki guna, prakriti memiliki tri guna, 4) purusa tak berubah, prakriti berubah, 5) purusa yang mengetahui, prakriti yang diketahui, 6) purusa adalah unsur halus, prkriti adalah unsur kasar.
5.3.3 Penciptaan Alam Semesta
Evolusi dunia bermula dari bertemunya purusa dengan prakriti, yang mengganggu keseimbangan asal prakriti dan menggerakannya menjadi aktivitas. Evolusi alam semesta tidak akan terjadi karena hanya purusa, karena ia bersifat pasif, namun tanpa purusa evolusi juga tidak terjadi karena prakriti tanpa kesadaran. Hubungan purusa dengan prakriti adalah seperti kerja sama orang buta dengan orang lumpuh untuk mencapai tujuan. Hubungan antara purusa dengan prakriti menyebabkan terganggunya keseimbangan dalam tri guna.
Samkhya menerima teori pengembangan dan penyusutan, dimana sebab dan akibat merupakan keadaan yang belum berkembang dan pengembangan dari satu substansi yang sama. Dalam sistem ini tidak ada penghancuran total, karena dalam penghancuran, akibat terbawa menjadi penyebab. Samkhya memberikan suatu uraian katagori-katagori yang didasarkan pada ketepatan produktif masing-masing, yaitu: 1) produktif (prakrti), 2) produktif dan hasil (prakrti-vikrti), 3) hasil (vikrti) dan 4) bukan produktif maupun hasil (anubhayarupa). Prakrti atau pradhana (pokok) merupakan produktif murni dan sumber dari semuanya. Tujuh prinsip berikutnya yaitu, kecerdasan (buddhi), keakuan (ahamkara), dan 5 tanmatra dasar halus) adalah hasil dan produktif. Buddhi merupakan produktif, karena keakuan (ahamkara) berasal dari pengembangannya, tetapi ia juga dihasilkan dari pengembangan prakrti. Ahamkara disamping merupakan hasil, ia juga produktif, karena menjadi sumber dari 5 dasar halus atau tanmatra. Ke 16 prinsip berikutnya, yaitu 10 organ (persepsi dan gerak), pikiran dan 5 unsur (Bhuta), hanya merupakan hasil yang tak dapat menghasilkan substansi pokok lain yang berbeda dengan dirinya.
Purusa atau roh bukanlah hasil atau produk, karena purusa tanpa atribut. Jadi keseluruhan tattva atau prinsip itu adalah: purusa, prakrti, Buddhi, ahamkara, manas, 5 tanmatra, 10 organ persepsi dan gerak, 5 unsur (bhuta).
Adapun proses evolusi adalah sebagai berikut: dari pertemuan purusa dan prakrti timbullah Mahat (yang agung), yang merupakan benih alam semesta, dimana segi psikologisnya disebut sebagai Buddhi, yang memiliki sifat-sifat kebajikan, pengetahuan, tidak beernafsu. Perbedaan antara Mahat Buddhi adalah sebagai berikut: Mahat merupakan asas kosmis sedangkan Buddhi merupakan asas kejiwaan, yaitu zat halus dari segala proses kecakapan mental untuk mempertimbangkan serta memutuskan segala hal yang diajukan oleh peralatan yang lebih rendah, sehingga Buddhi merupakan unsur ke-Jiva-an yang tertinggi atau instansi terakhir bagi segala perbuatan moril dan intelektual.
Dari Buddhi timbullah Ahamkara, yang merupakan asas individuasi atau keakuan, yang menyebabkan segala sesuatunya memiliki latar belakang sendiri-sendiri (kepribadian), yang merupakan segi jivani dari ahamkara tersebut, sedangkan segi kosmisnya merupakan subjek dan objek yang masing-masing berdiri sendiri. Dengan ahamkara sang diri merasakan dirinya bertindak, yang berkeinginan dan yang memiliki.
Perkembangan kejivaan pertama setelah ahamkara adalah manas yang merupakan pusat indra yang bekerja sama dengan indra-indra lain mengamati kenyataan di luar badan manusia. Tugas manas adalah untuk mengkoordinir rangsangan-rangsangan indra, dan mengaturnya sehingga menjadi petunjuk dan meneruskannya kepada ahamkara dan Buddhi. Sebaliknya manas juga bertugas untuk meneruskan putusan kehendak Buddhi kepada peralatan indra yang lebih rendah. Buddhi, ahamkara dan manas secara bersama-sama disebut sebagai peralatan bathin atau antahkarana.
Perkembangan kejivaan yang kedua adalah Panca Indra persepsi (budhendriya atau jnanendriya), yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Selanjutnya pekembangan kejiwaan yang ketiga disebut sebagai Karmendriya atau 5 organ penggerak yaitu: daya untuk berbicara, daya untuk memegang, daya untuk berjalan, daya untuk membuang kotoran, dan daya untuk mengeluarkan benih, yaitu sperma dan ovum. Kesepuluh indra ini tak dapat diamati tetapi berada di dalam alat-alat tubuh yang tampak dan harus dibedakan dengan alat-alat itu sendiri. Hanya dengan perantara alat yang tampak itulah orang dapat mengamati serta mengenal objek-objek di luar diri manusia itu sendiri.
Perkembngan fisik menghasilkan asas dunia luar, yang disebut 5 unsur dan perkembangannya melalui dua tahapan, yaitu: pada tahapan pertama berbentuk unsur halus (panca tanmatra), yaitu: sari suara, sari raba, sari warna, sari rasa, dan sari bau. Pada tahapan ke dua terjadi kombinasi dari unsur-unsur halus yang menimbulkan unsur-unsur kasar yang disebut panca mahabhuta, yaitu:
a. unsur suara menimbulkan akasa (ether, ruang)
b. unsur suara + raba menimbulkan vayu (udara)
c. unsur suara + raba + warna menimbulkan agni (tejah, panas)
d. unsur suara + raba + warna + rasa menimbulkan apah (air)
e. unsur suara + raba + warna + rasa + bau menimbulkan prthivi (tanah)
Akhirnya dari unsur kasar ini berkembanglah alam semesta raya ini dengan segala isinya, bumi dengan gunung-gunung, sungai, pepohonan serta mahluk-mahluk hidup lainnya, yang kesemuanya merupakan perubahan dari prakriti. Akan tetapi perkembangan yang terakhir ini berbeda dengan perkembangan yang pertama, yaitu Mahat sampai dengan unsur kasar, sebab perkembangan terakhir ini tidak menimbulkan asas-asas baru seperti yang terjadi pada mahat, ahamkara, manas dan seterusnya. Unsur kasar tetap berada dalam segala sesuatu yang dihasilkan dan hanya terjadi bermacam-macam perubahan yang senantiasa bergantian dalam suatu masa, misalnya sebatang pohon yang tumbuh lalu mati dan diuraikan serta dikembalikan ke dalam unsur-unsur pembentuknya, yaitu panca mahabhuta. Akan tetapi perkembangan yang pertama, mulai Mahat sampai unsur kasarnya tetap ada di sepanjang perputaran masa dan hanya diuraikan pada akhir perputaran masa atau Kalpa tersebut. Jadi selama proses peleburan alam semesta, hasil-hasil itu kembali dengan pergerakan yang berlawanan dengan gerakan pada tahap pengembangan yang mendahuluinya dan akhirnya masuk ke dalam prakrti dan inilah yang disebut sebagai proses penyusutan atau penguncupan. Siklus evolusi dan penyusutan tidak memiliki awal maupun akhir sehingga tidak ada akhir bagi samsara atau permainan dari prakrti.
Segala sesuatu yang dikuasai oleh tamas kebanyakan berupa alam material, diantaranya sebagian yang termasuk bagian badan kita, tetapi yang didominasi oleh sifat sattvam juga bersifat fisik, sebab semuanya berasal dari prakrti. Tetapi karena kodratnya yang lebih halus, maka segala yang didomonasi oleh Sattvam ini membantu purusa dalam menyatakan objek-objek yang ada di luar diri manusia, sebab purusa bersifat pasif dan pada dirinya sendiri tidak mampu untuk mendekati dan mengerti sesuatu. Seluruh peralatan yang terdiri dari alat-alat bathin (antahkarana) dengan segala alat bantunya yang bermacam-macam (10 indriya dan 5 tanmatra) itu bersifat fisik dan menjadi syarat mutlak bagi purusa untuk memperoleh pengalaman. Semuanya ini bersifat khusus pada setiap orang dan menyertainya dalam seluruh kehidupan di dunia ini (samsara), dan disebut tubuh halus (lingga sarira/suksma sarira). Tubuh ini tidak akan terpisah dari seseorang walaupun badan kasarnya mati dan hanya dapat dipisahkan setelah seseorang mendapatkan pembebasan atau moksa. Badan yang tampak ini disebut sebagai badan kasar atau Sthula sarira, yang tersusun atas ke 5 unsur panca mahabhuta, sehingga akan selalu berubah.

5.3.4 Pandangan Samkhya terhadap Tuhan
Terhadap masalah Tuhan kita temukan kecendrungan utama samkhya jauh dari keyakinan Tuhan. Menurut sistem ini, eksistensi Tuhan tidak dapat dibuktikan dengan jalan apapun. Samkhya tidak menerima Tuhan untuk menjelaskan dunia ini, karena prakrti adalah penyebab yang cukup terjadinya dunia secara keseluruhan. Tuhan sebagai spirit eternal dan tak berubah tidak dapat menjadi pencipta dunia; karena untuk menghasilkan suatu efek, penyebabnya harus berubah dan mentransformasikan dirinya menjadi suatu efek. Beberapa pembahas dan penulis samkhya belakangan mencoba memperlihatkan bahwa sistem ini menerima eksistensi Tuhan sebagai Yang Tertinggi yang bertindak sebagai saksi, tetapi bukan sebagai pencipta dunia.
Sikap samkhya mengenai ketidak yakinannya terhadap Tuhan, karena Tuhan tidak dapat dibuktikan dalam hidup ini, sangat bertentangan dengan tradisi yang ada dalam masyarakat India. Sikap seperti itu tidak dapat diterima oleh masyarakat India yang theis. Walaupun samkhya tidak menyebut-nyebut nama Tuhan dalam ajarannya, tetapi samkhya mengakui adanya kewenangan Veda dan mempercayai adanya kehidupan di akhirat. Alasan samkhya menolak keberadaan Tuhan adalah:
a. Alam semesta ini merupakan suatu sistem sebab-akibat yang tidak dapat diragukan lagi, tetapi Tuhan bukanlah sebab adanya alam ini. Tuhan yang kekal abadi tidak mungkin dapat menciptakan sesuatu. Dijelaskan bahwa yang menjadi alam semesta ini adalah sesuatu yang abadi tetapi dapat berubah, yaitu Prakrti atau asas kebendaan.
b. Prakrti adalah suatu asas kebendaan yang tiada memiliki kesadaran yang dalam perkembangannya menjadi alam semesta tentulah diawasi dan dibimbing oleh sesuatu yang memiliki kesadaran. Oleh karena itu hendaklah diakui adanya sesuatu Yang Maha Kuasa yaitu Tuhan yang langsung mengawasi dan membimbing prakrti ke arah itu. Walaupun Tuhan bersifat kekal dan abadi serta tidak aktif dalam dirinya, tetapi atas kemahakekuasaan-Nya, Ia dapat mengawasi dan membimbing prakrti dalam mengadakan dunia ini. Maka timbul pertanyaan: jika Tuhan yang mengawasi dan membimbing Prakrti untuk mengadakan alam semesta ini, tentulah segala yang ada di dunia sempurna, karena diadakan oleh yang sempurna, tetapi kenyataannya dinia ini penuh dengan penderitaan.
c. Kepercayaan terhadap Tuhan yang kekal abadi tidak ada hubungannya dengan jiva atau roh perorangan, jika roh itu bagian dari Tuhan, mestinya ia memiliki kekuatan yang menyamai Tuhan, tetapi kenyataannya tidak demikian.
Kesimpulan dari semuanya adalah bahwa Tuhan itu tidak ada.

5.4 Epistemologi Samkhya
Menurut ajaran smkhya ada tiga sumber pengetahuan yang benar, yaitu pratyaksa, anumana, dan sabda pramana. Pengetahuan itu dipandang benar bila pengenalan akan objek itu pasti dan benar melalui buddhi. Dalam pengetahuan yang benar itu ada tiga unsur, yaitu: subjek, objek dan sumber pengetahuan itu. Subjek adalah asas kesadaran yang tidak lain adalah Roh atau purusa.
Pengetahuan pengenalan langsung pada objek dengan perantara indriya. Bila ada sebuah objek misal meja di wilayah pandangan mata, itu berarti ada hubungan antara meja dengan indriya mata. Ada dua macam pengamatan yaitu nirvikalpa dan savikalpa. Demikianlah pengetahuan yang diperoleh didasarkan pengamatan langsung atau pratyaksa pramana.
Pengetahuan yang didapat dengan anumana ialah pengetahuan yang didapat atas dasar kesimpulan. Dalam hal ini apa yang diamati akan mengantarkan seseorang pada yang tidak diamati langsung melalui hubungan universal untuk kedua pengetahuan itu, yaitu pengetahuan yang didapat dengan pengamatan langsung dan tidak langsung. Bila orang melihat asap maka dapat disimpulkan di sana ada api. Orang mengetahui ada api hanya karena hubungan asap dengan api.
Pengetahuan yang terakhir adalah pengetahuan yang diperoleh atas sabda, ialah pernyataan dari yang kuasa dan memberikan pengetahuan akan suatu objek yang tidak dapat diketahui atas dasar pengetahuan dan penarikan kesimpulan. Pengetahuan atas sabda dapat dibagi dua, yaitu: 1) kesaksian yang diberikan oleh orang yang dapat dipercaya, yang dinyatakan di dalam kata-katanya (laukika), 2) kesaksian Veda atau Vaidika. Kitab Veda dipandang sebagai kebenaran yang sempurna sehingga tidak pernah salah, sedangkan kesaksian manusia tidaklah demikian. Kesaksian manusia dianggap benar, jika yang menyaksikan adalah orang yang dapat dipercaya.

5.5 Etika Samkhya
Samkhya tidak membedakan seseorang atas golongannya untuk mempelajari kitab suci Veda. Semua orang dapat mempelajari kita suci Veda, karena pada hakekatnya Veda adalah untuk semua orang. Dalam hubungan antar manusia, samkhya menganjurkan agar seseorang dapat mengendalikan pikiran yang jahat dan mengarahkan kepada pikiran-pikiran yang baik.
5.5.1 Pandangan Samkhya Terhadap Jiva
Dalam ajaran samkhya pribadi itu sesungguhnya tidak ada. Perasaan adanya pribdi itu merupakan perpaduan dari beberapa faktor yang pada hakekatnya tidak lain dari suatu rangkaian proses yang tidak pantang berhenti yang disebut badan jasmani. Badan jasmani tidak kekal, sehingga pada akhirnya ia akan lenyap. Semua yang ada di dunia ini tidak kekal, karena semua mempunyai masa kelahiran, berkembang, dan masa pengakhiran.
Samkhya juga mengajarkan bahwa pada hakekatnya tidak ada punyaku, semua ini adalah di luar punyaku biarlah ia pergi. Yang dimaksud dalam hal ini adalah badan kita yang terdiri dari panca mahabhuta, yang pada akhirnya akan hancur. Namun berbeda dengan roh yang bersifat kekal, asas kesadaran ang bebas dari ruang , waktu, sebab-akibat. Ia mengetahui dunia objek, pikiran, perasaan, dan rasa aku. Semua perubahan, aktivitas, pikiran, perasaan senang dan susah tergolong badan pikiran. Roh berbeda dengan pikiran, ia berada di luar kesenangan dan kesusahan. Pikiranlah yang merasakan senang dan susah.
Roh saksi peubahan mental dan badan. Roh terbelenggu dalam badan jasmani karena kebodohannya tidak dapat membedakan dirinya dengan pikiran dan memandang sebagai bagian dari dirinya sendiri, sehingga akhirnya ia menjadi sesuatu dengan sebutan seperti pribadi yang sosial, pribadi yang lapar, dan sebagainya.
5.5.2 Belenggu dan Kaivalya (kebahagiaan terakhir)
Kehidupan di dunia mengalami penderitaan. Tak seorangpun bebas dari penderitaan, walaupun demikian penderitaan dapat disingkirkan. Ada tiga jenis penderitaan: 1) adhyatmika, yaitu penderitaan disebabkan oleh penyebab-penyebab psiko-fisika intra organik dan mencakup semua penderitaan mental dan tubuh, misalnya demam, 2) adhibhautika yaitu yang di luar diri manusia atau mahluk lain, seperti sengatan kalajengking, gigitan ular dan sebagainya (penderitaan yang disebabkan penyebab-penyebab alam ekstra organik, seperti manusia, burung, binatang dan sebagainya), 3) adhidaivika, bersifat surgawi atau di luar kekuasaan manusia, seperti panas, banjir dan lain-lain (penderitaan yang disebabkan oleh penyebab-penyebab super natural seperti planet-planet, hantu dan lain-lain). Di mana saja ada guna, maka di sana ada penderitaan, bahkan kenikmatan di surga tidak lepas dari pengaruh guna.
Tujuan akhir manusia adalah agar bisa lepas dari penderitaan. Moksa berarti penghentian total semua jenis penderitaan yang merupakan sumsum bonum, tujuan tertinggi kehidupan manusia di dunia, dan samkhya mengistilahkan dengan Kaivalya. Walaupun jiva sendiri adalah bebas dan abadi, namun adalah pengaruh avidya yang membingungkan jiva dengan tubuh, indriya, dan pikiran (manas). Purusa selalu bebas, hanya ego, produk prakriti yang terikat, oleh karena itu hanya ego yang dibebaskan. Begitu kita menyadari perbedaan antara jiva dan bukan jiva termasuk tubuh, indriya, pikiran, dan ego (vivekajnana), maka jiva kita berhenti dipengaruhi oleh kegembiraan dan kesedihan. Jiva menjadi tenang, sebagai saksi atas segala peristiwa hidup, inilah keadaan pembebasan jiva dari segala penderitaan yang disebut dengan mukti, apavarga, dan kaivalya.
Setiap makhluk hidup adalah purusa, dan tak terbatas dan tidak dibatasi oleh tubuh fisik. Samsara atau perbudakan muncul ketika purusa tidak memiliki pengetahuan diskriminasi dan karenanya disesatkan untuk identitasnya sendiri, membingungkan dirinya dengan tubuh fisik, yang sebenarnya sebuah evolute dari Prakriti adalah The. Semangat dibebaskan ketika pengetahuan membedakan perbedaan antara Purusha dan Prakriti sadar sadar direalisasikan.
Jiva harus merealisasikan dirinya sebagai purusa yang murni melalui diskriminasi antara purusa dan prakrti. Mukti dapat dicapai semasih kita hidup di dunia ini (jivan mukti) atau setelah meninggal dunia (videha mukti). Pengetahuan intelek semata tidak akan membantu untuk merealisasikan kebebasan ini, untuk itu dibutuhkan latihan spiritual, meditasi menuju kebenaran, penyucian diri dengan pengabdian yang ikhlas.

DAFTAR PUSTAKA
Donder, I. K. 2005. Brahmavidya. Paramita: Surabaya.
Donder, I.K. 2009. Teologi Memasuki Gerbang Ilmu Pengetahuan Ilmiah tentang Tuhan Paradigma Sanatana Dharma. Paramita: Surabaya.
Maswinara, I Wayan. 1999. Sistem Filsafat Hindu (Sarva DarsanaSamgraha). Paramita: Surabaya.
Rama, Svami.2009. Hidup dengan para Rsi, Yogi Himalaya. Paramita: Surabaya.
Sivananda, Svami, 2003. Intisari Ajaran Hindu. Paramita: Surabaya.
Suamba, I.B Putu. 2003. Dasar-Dasar Filsafat India. PT Mabhakti: Denpasar
Suwira, Wayan. 2008. Buku Ajar Sejarah Filsafat India. Departemen Filsafat Universitas Indonesia.
Tim penyususn. 2009. Modul Materi Pokok Darsana. Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu: Departemen Agama RI.
http://www.britannica.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *