MODUL VAISESIKA DARSANA

BAB III
VAISESIKA DARSANA

3.1 Pendiri Vaisesika Darsana
System filsafat Vaisesika dipelopori oleh Maha Rsi Kanada, beliau juga dikenal dengan nama Kanabhuk, Uluka, dan Kasyapa. Filsafat Vaisesika dikenal dengan sebutan system Kadana atau Aulukya. Sumber pokok ajaran Vaisesika adalah kitab Vaisesika Sutra, buah karya Maha Rsi Kanada. Kitab ini terdiri dari sepuluh adhyaya atau jilid dan setiap jilid terdiri dari dua ahnikas atau bab. Dalam perkembangan selanjutnya muncullah beberapa kitab komentar dari Vaisesika Sutra yang ditulis oleh para tokoh yaitu: Prasastapada yang menulis kitab Padarta-dharma-sangraha yang juga dikenal dengan nama Bhasya, Sankara menulis kitab Sariraka Bhasya, Wyomasiwa menulis kitab Wyomawati, Udayana menulis kitab Kirawana dan Sridhara menulis kitab Nyaya-Kandali.
Sistem filsafat Vaisesika mengambil nama dari kata Visesa yang artinya kekhususan, yang merupakan ciri-ciri pembeda dari benda-benda. Filsafat Vaisesika bersifat realisme pluralistik bahwa kebhinekaan merupakan jiva alam semesta. Katagori (vaisesa) dibahas secara mendalam di dalam sistem ini dan dipandang sebagai esensi dari semua benda. Karakter ini sekaligus membawa Vaisesika sebagai sistem yang menonjol di dalam membahas alam semesta universal secara riil dan pluralistik. Karena penekanannya pada analisis universal alam semesta, Vaisesika sutra sering disebut dengan Padartha-dharma-sangraha (kumpulan karakteristik kategori).
Vaisesika Darsanamuncul pada abad ke 4 Sebelum Masehi, yang mula-mula sebagai sistem filsafat yang berdiri sendiri, akan tetapi kemudian sistem ini menjadi satu dengan Nyaya. Pada abad ke sebelas masehi kedua sistem ini berfungsi secara sempurna sehingga kedua sistem ini disebut Nyaya-Vaisesika. Vaisesika dan Nyaya bersesuaian dalam prinsip pokok seperti sifat dan hakekat sang Diri dan teori atom alam semesta, dan dikatakan pula bahwa Vaisesika merupakan tambahan dari Nyaya darsana, yang memiliki analisa pengalaman sebagai obyektif utamanya. Diawali dengan susunan pengamatan atas katagori-katagori (padartha), yaitu perhitungan atau perumusan tentang sifat-sifat umum tertentu yang dapat dikenakan pada benda-benda yang ada di alam semesta ini, serta merumuskan konsep-konsep umum yang berlaku pada benda-benda yang dikenal, baik melalui indra ataupun melalui penyimpulan, perbandingan dan otoritas tertinggi.
Secara jelas kemiripan dan perbedaan Nyaya dengan Vaisesika Darsanaadalah sebagai berikut, kemiripan: a) keduanya menerima tujuan akhir dari roh individual adalah kebebasan, b) memandang bahwa kebodohan adalah merupakan sumber dari kesengsaraan dan penderitaan, dan c) pembebasan hanya dapat dicapai lewat pengetahuan yang benar tentang realitas. Adapun perbedaannya adalah: a) Nyaya menerima empat sumber pengetahuan yang benar, yaitu persepsi, penyimpulan, perbandingan, kesaksian; sedangkan Vaisesika hanya menerima dua saja, yaitu: persepsi dan penyimpulan, b) Nyaya berpendapat bahwa realitas ini terbentuk oleh 16 katagori (padartha), sedangkan Vaisesika hanya mengenal tujuh buah katagori.
Adapun tujuan pokok dari Vaisesika Darsanaadalah bersifat metafisik, dimana isi pokok ajarannya menerangkan tentang dharma, yaitu apa yang memberikan kesejahteraan di dunia ini dan memberikan kelepasan yang menentukan.

3.2 Pokok-Pokok Ajaran Vaisesika Darsana
Buku Vaisesika sutra terdiri dari 10 bab, dan Rsi Kanada menguraikan berbagai permasalahannya pada setiap bab sebagai berikut:
• Pada bab I berisi keseluruhan kelompok Padartha atau katagori-katagori yang dapat dinyatakan,
• Pad bab II penetapan tentang benda-benda,
• Bab III berisi uraian tentang jiva dan indra dalam,
• Bab IV uraian tentang badan dan bahan penyusunnya,
• Bab V uraian tentang karma atau kegiatan,
• Bab VI berisi uraian tentang dharma atau kebajikan menurut kitab suci,
• Bab VII berisi uraian tentang sifat-sifat atau Samavaya (ketepaduan; saling hubungan),
• Bab VIII berisi wujud pengetahuan, sumber dst,
• Bab IX berisi tentang pemahaman tertentu atau yang konkrit,
• Bab X uraian tentang perbedaan sifat dari jiva.
Darsanaini terutama dimaksudkan untuk menetapkan tentang padartha, tetapi Rsi Kanada membuka pokok permasalahan dengan sebuah pengamatan tentang inti sari dari Dharma, yang merupakan sumber dari pengetahuan inti padartha. Sutra pertama berbunyi: ”yato bhyudayanihsreyasa siddhih sa dharmah”, artinya dharma adalah yang memuliakan dan memberikan kebaikan tertinggi atau moksa.
Padartha, secara harfiah artinya adalah: arti dari sebuah kata; tetapi disini padartha adalah suatu permasalahan benda dalam filsafat. Sebuah padartha merupakan suatu obyek yang dapat dipikirkan (artha) dan diberi nama (pada). Semua hal yang ada, yang dapat diamati dan dinamai, yaitu semua obyek pengalaman adalah padartha. Padartha pada Vaisesika darsana, sebenarnya hanya 6 buah katagori, namun satu katagori ditambahkan oleh penulis-penulis berikutnya sehingga menjadi 7 katagori (padartha), yaitu: dravya (substansi), guna (sifat-sifat), karma (kegiatan), samanya (keumuman), visesa (kekhususan), samavaya (keterpaduan), dan abhava (ketiadaan dari suatu obyek). Menurut Vaisesika Darsanasemua obyek-obyek itu dinyatakan dengan kata-kata yang secara keseluruhan dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu sesuatu yang eksis dan sesuatu yang tidak eksis. Enam dari tujuh katagori adalah kelompok yang eksis, dan hanya satu katagori yang merupakan kelompok non eksis. Gautama menekankan pada pemahaman dan metode-metodenya, sementara kanada menekankan obyek-obyek pemahaman tersebut.

3.3 Metafisika Vaisesika
Dalam ajaran Vaisesika ada tujuh katagori, yaitu: dravya (substansi), guna (kualitas), karma (aktivitas), samanya (sifat umum), visesa (kekhususan), samavaya (keterpaduan), dan abhava (ketidakadaan). Ketujuh katagori ini ada pada semua obyek di alam semesta ini. Ketiga katagori yang pertama dari benda-benda, sifat dan kegiatan, memiliki keberadaan obyektif yang nyata, sedangkan ketiga katagori berikutnya yaitu keumuman, kekhususan, dan keterpaduan merupakan keberadaan logika yang merupakan hasil dari pembedaan kecerdasan.
1) Dravya
Dravya adalah katagori yang bebas dan tidak tergantung kepada katagori yang lain, bahkan dravya mendasari katagori-katagori yang lain. Dravya juga disebut sebagai kekuatan dan kegiatan zat-zat yang terdapat pada lapisan alam yang paling bawah. Ada 9 jenis dravya yaitu: tanah (prthivi), air (apah), api (tajah), udara (vayu), ether (akasa), waktu (kala), ruang (dis), roh (jiva), dan pikiran (manas). Lima bagian pertama merupakan unsur-unsur kebendaan pancabhuta yang dapat menimbulkan bau, rasa, warna, sentuhan dan suara. Kesembilan dravya ini bersama-sama membentuk alam semesta baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Empat yang pertama dan yang terakhir dianggap berwujud atom-atom; dan empat yang pertama tadi bersifat abadi dan juga tidak abadi. Ia adalah indria internal yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan semua fungsi-fungsi fisik seperti kognisi, perasaan dan kehendak. Pikiran karena bersifat atomis kita tidak dapat memiliki lebih dari satu pengalaman pada satu waktu. Jiva adalah substan internal dan meresapi semuanya yang merupakan substratum semua fenomena kesadaran. Jiva individu diketahui secara internal melalui pikiran (manas) individu, seperti seseorang mengatakan, ”saya bahagia”, ”saya sakit”, dan sebagainya. Pada 9 substansi tersebut terdapat 17 sifat yang terpadu di dalamnya, yaitu: warna (rupa), rasa (rasa), bau (gandha), sentuhan (sparsa), jumlah (sankhya), ukuran (parimani), keterpisahan atau kepribadian (prthaktvam), persekutuan dan tanpa peersekutuan (samyoga-wibhagam), prioritas dan keturunan (paratva-aparatva), pemahaman (buddhayah), kesenangan dan penderitaan (sukha-duhkha), keinginan dan kebencian (iccha-dvesa), dan kehendak (prayatnah). Tujuh lainnya dikatakan termasuk di dalamnya, yaitu: bobot, keenceran, kekentalan, kecakapan, jasa, cacat dan suara membuatnya menjadi berjumlah 24. Enam belas sifat-sifat ini merupakan milik dari substansi material, sedang 8 sifat lainnya yaitu: pemahaman, kehendak, keinginan, kebencian, kesenangan, penderitaan, jasa, dan cacad merupakan milik dari roh.
Dravya sebagai bahan jasmani yaitu: tanah, air, api, udara, waktu, akasa, dan ruang, sedangkan yang termasuk bahan rohani adalah jiwa dan pikiran. Semua benda-benda di alam ini terdiri dari atom-atom. Akasa, waktu dan ruang adalah substansi yang memiliki ciri yang khas bersifat tidak terbatas dan meliputi segala sesuatu. Dengan demikian dalam tingkatan yang terakhir dari alam semesta ini terdiri dari atom-atom yang tidak terbatas jumlahnya.
Atom-atom dari catur bhuta memiliki kualitas yang berbeda, sehingga dengan adanya perbedaan kualitas, maka atom-atom juga dengan mudah dibedakan. Perbedaan diantara atom yang satu dengan yang lainnya disebabkan oleh adanya sifat-sifat individualitas masing-masing dari atom-atom itu. Atom tidak dapat dilihat dan besarnya tidak dapat diukur, akan tetapi atom-atom dapat mewujudkan kekuatan yang nyata di dunia ini. Gabungan dari atom-atom catur bhuta inilah yang menyebabkan terwujudnya benda-benda dia alam semesta ini.
Jiva dan pikiran adalah substansi rohani yang menjadi asas hidup kejiwaan. Agar jiva menampakkan corak kehidupan hendaknya ia berhubungan dengan pikiran. Gabungan kedua substansi ini membentuk pribadi, akan tetapi pikiran tidak bersifat rohani, karena ia terdiri dari atom-atom. Manas adalah suatu perasaan yang dalam (antar indria) yang langsung atau tidak langsung merasakan segala macam perasaan dan keinginan. Manas terdiri dari atom-atom yang menjadi lapisan dari segala bentuk kesadara. Jiva menggunakan manas dan indra untuk mengetahui sesuatu yang ada di luar diri atau apa yang ada di dunia maya ini. Dengan demikian pribadi manusia sesungguhnya dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu: yang berpribadi dan yang tanpa pribadi.
2) Guna
Di dalam substansi terdapat guna, guna tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya substansi, akan tetapi dravya dapat berada tanpa kualitas. Pada 9 substansi tersebut terdapat 17 sifat yang terpadu di dalamnya, yaitu: warna (rupa), rasa (rasa), bau (gandha), sentuhan (sparsa), jumlah (sankhya), ukuran (parimani), keterpisahan atau kepribadian (prthaktvam), persekutuan dan tanpa persekutuan (samyoga-wibhagam), prioritas dan keturunan (paratva-aparatva), pemahaman (buddhayah), kesenangan dan penderitaan (sukha-duhkha), keinginan dan kebencian (iccha-dvesa), dan kehendak (prayatnah). Tujuh lainnya dikatakan termasuk di dalamnya, yaitu: bobot, keenceran, kekentalan, kecakapan, jasa, cacat dan suara membuatnya menjadi berjumlah 24. Enam belas sifat-sifat ini merupakan milik dari substansi material, sedang 8 sifat lainnya yaitu: pemahaman, kehendak, keinginan, kebencian, kesenangan, penderitaan, jasa, dan cacad merupakan milik dari roh.
Guna tersebut dibagi lagi menjadi beberapa jenis, seperti: 1) terdapat enam warna, yaitu: putih, hitam, merah, biru, kuning, hijau; 2) terdapat enam rasa: manis, pahit, asam, keras, pedas, dan asin; 3) bau ada dua katagori, yaitu baik dan buruk; 4) sentuhan ada tiga katagori: panas, dingin, bukan panas bukan dingin, dan 5) suara ada dua jenis: dhvani (suara yang tidak jelas) dan varna (suara yang jelas); 6) angka (sankhya), biasanya mulai dari satu dan bisa mengembang menjadi tak terhingga; 7) jarak / ukuran merupakan kualitas suatu benda yang dinyatakan dengan kata besar, kecil, amat kecil dan amat besar; kepribadian (prthaktva) adalah kualitas yang dipergunakan untuk membedakan suatu benda dengan benda lainnya, misal: sebuah kendi berbeda dengan gambar; 8) samyoga adalah persatuan antara dua atau lebih dari benda-benda tertentu yang keberadaannya berpasangan misalnya sebuah buku di atas meja; 9) wibhaga (tak terbagi) adalah kualitas suatu benda yang keberadaannya berdiri sendiri dan tidak dapat dibagi lagi, misal seekor burung terbang dari pohon; 10) tipis/sedikit (paratva) ada dua jenis yaitu menyatakan keadaan suatu benda sedikit lebih lama dan sedikit lebih muda atau baru; 11) aparatva (dekat) dibagi menjadi dua jenis: suatu benda yang keberadaannya lebih jauh dan lebih dekat; 12) prayatna ada tiga jenis: prawerti, niwerti dan jivanayoni. Prawerti adalah usaha menuju ke arah sesuatu, nirwerti ialah usaha yang meninggalkan sesuatu sedangkan jivanayoni ialah fungsi yang sangat utama; 13) gurutva (sesuatu yang memberatkan) adalah sumber dari keruntuhan dan penyebab jatuhnya suatu benda; 14) drvatva atau cairan adalah penyebab mengalirnya suatu substansi, seperti air susu; 15) sneha adalah penyebab menyatunya berbagai partikel dari suatu benda yang kemudian membentuk suatu bulatan seperti bola; 16) samskara atau kecendrungan ada tiga macam yaitu: vega, bhavana, dan sthitisthapakatva. Vega adalah kualitas yang membuat benda-benda itu bergerak, bhavana adalah kualitas yang membuat kita ingat dan mengenal benda-benda, dan sthitisthapaktva adalah kenyataan yang menyababkan benda-benda cendrung mengkerut dan mengembang, misal karet; 17) dharma dan adharma berarti kebaikan dan kejahatan.
1) Karma atau aktivitas
Karma adalah suatu gerakan dari badan, dan karma tidak dapat berdiri sendiri tanpa substansi. Perbuatan bersifat dinamis, guna bersifat statis. Perbuatan bersifat transitif yang dapat membawa seseorang kepada suatu tujuan tertentu, guna bersifat fasif, sehingga antara karma dan guna tidak memiliki saling ketergantungan melainkan sama-sama berdiri sendiri.
Substansi yang dapat bergerak adalah substansi yang terdiri dari atom-atom. Dalam vaisesika ada lima macam gerakan: 1) gerakan melempar ke atas (utksepana), 2) gerakan yang melempar ke bawah (avaksepana), 3) gerakan yang menimbulkan goncangan (akuncana), 4) gerakan yang menimbulkan perluasan (prasarana), dan 5) bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain (gamana). Semua jenis perbuatan tidak dapat dipahami, dilihat, dan dirasakan. Perbuatan dari pikiran atau manas tidak menampilkan suatu persepsi yang biasa, tetapi gerakan yang muncul dari catur bhuta dapat dirasakan oleh indriya seperti rasa dan sentuhan. Menurut Vaisesika gerak itu senantiasa dimulai dari sesuatu yang memiliki kesadaran.
2) Samanya (sifat umum)
Suatu benda dalam kelompok tertentu memiliki hubungan yang erat antara nama, wujud dan alam tempat mereka berada. Menurut Vaisesika sifat umum itu adalah kekal dan nyata, tetapi di dalamnya terdapat saling keterikatan diantara individu-individu yang ada. Setiap kelompok individu dalam suatu kelompok memiliki satu sifat umum. sifat-sifat umum ini merupakan dasar dari suatu perkiraan yang menyebabkan kita memiliki suatu pandangan tertentu terhadap individu-individu tertentu yang ada dalam suatu kelompoknya. Satu hakekat yang ada dalam sifat-sifat umum dari kelompok yang berbeda-beda itu adalah adanya pemikiran yang murni yang mengakui keberadaan setiap individu. Ada tiga jenis sifat umum, yaitu: para (tinggi), apara (rendah) dan para-para (sedang). Adanya sifat atau ciri-ciri umum maka semua benda dapat dibedakan dalam kelompok tersendiri yaitu sebagai kelompok atom tanah, air, sinar, udara dan sebagainya.
3) Visesa (kekhususan)
Visesa adalah landasan pembedaan akhir benda-benda. Secara lumrah, kita membedakan satu benda dari yang lainnya dengan kekhususan bagian-bagiannya dan sifat-sifat lainnya. Visesa merupakan milik dari 9 substansi abadi yang kesemuanya memiliki perbedaan akhir yang kekal, yang membedakan yang satu dengan yang lainnya.
4) Samavaya (keterpaduan)
Inherensi adalah hubungan eternal atau permanen dengan mana sebuah keseluruhan ada dalam bagian-bagian, sifat atau sebuah tindakan ada dalam sebuah substan, universal ada dalam yang khusus. Kain sebagai satu kesatuan selalu eksis dalam benang-benang pembentuknya, sifat-sifat seperti hijau, manis dan wangi dan gerakan-gerakan dari berbagai jenis terikat dalam substan tertentu. ke-sapi-an sebagai sebuah universal ada dalam semua sapi. Hubungan permanen ini antara keseluruhan dan bagian-bagiannya, antara universal dan individu-individu, dan antara sifat-sifat atau aksi dan substan-substanya dikenal dengan inherensi.
7) Abhava (ketidakadaan)
Non eksistensi berarti semua fakta negatif. Abhava ada 4 macam, yaitu: 1) pragabhava, yaitu ketidak adaan dari suatu benda sebelumnya; contoh ketidak adaan periuk sebelum dibuat oleh pengrajin priuk, 2) dhvamsabhava, yaitu non eksistensi suatu benda setelah destruksinya, misalnya periuk yang dipecahkan, di mana dalam pecahan periuk itu tak ada periuk, 3) atyantabhava atau ketiadaan timbal balik, seperti misalnya udara yang dari dulu tidak pernah berwarna ataupun berbentuk, 4) anyonyabhava atau ketidak adaan mutlak, di mana antara benda yang satu sama sekali tidak ada persamaannya dengan yang lain, seperti sebuah periuk yang tidak sama dengan sepotong pakaian, demikian pula sebaliknya. Tiga dari empat macam abhava tersebut dikelompokkan ke dalam samsargabhava.
3.3.1 Pandangan Terhadap Tuhan
Vaisesika percaya dengan adanya otoritas Veda dan hukum karma. Hukum karma adalah hukum moral alam semesta. Dalam konsep Tuhan pada prinsipnya tidak jauh berbeda dari konsep serupa dalam sistem filsafat Nyaya. Kanada percaya dengan kehidupan spiritual dan membuat alam semesta fisik tunduk kepada hukum moral semesta. Veda adalah kata-kata Tuhan dan karenanya Veda otoratif. Tuhan Maha Tahu, Maha Kuasa dan Maha Sempurna, dan di dalam Vaisesika DarsanaTuhan disebut dengan nama Siva. Ia adalah penyebab efisien (Nimitta) alam sedangkan atom-atom eternal (permanen) merupakan penyebab materialnya (Upadana). Atom-atom dan jiva-jiva hadir dan abadi bersama-sama dengan Tuhan. Ia tidak dapat menciptakan mereka, Ia hanya semata-mata memberikan mosi kepada atom-atom dan mempersiapkan roda agar berputar. Ia bertanggung jawab bagi dorongan pertama, benih pertama dan kemudian atom-atom mengadakan kombinasi-kombinasi sehingga penciptaan dunia terjadi. Atom-atom yang tak terpikirkan tidak memiliki daya dan kecerdasan untuk menjalankan alam semesta ini secara teratur.
Rsi Kanada tidak secara terbuka menunjukkan Tuhan dalam sutra-Nya. Kepercayaannya adalah bahwa formasi atau susunan alam ini merupakan hasil dari adrsta yaitu kekuatan yang tak terlihat dari karma atau kegiatan. Atom-atom yang tak terpikirkan tidak memiliki daya dan kecerdasan untuk menjalankan alam semesta ini secara teratur. Semua aktivitas atom-atom diatur oleh Tuhan. Kesimpulan dan kitab suci mengharuskan kita untuk mengakui adanya Tuhan. Kecerdasan yang membuat Adrsta dapat bekerja adalah kecerdasan Tuhan, sedangkan lima unsur (panca mahabhuta) hanya merupakan akibat. Roh-roh dalam keadaan penghancuran kurang memiliki kecerdasan sehingga mereka tak dapat mengendalikan atom-atom dan di dalam atom-atom itu sendiri tak ada sumber pergerakan, dan sebagai penggerak awal dari atom-atom itu adalah si pencipta atau Tuhan.
3.2 Keberadaan Alam Semesta
Pada Vaisesika darsana, susunan alam semesta ini diduga dipengaruhi oleh pengumpulan atom-atom, yang tak terhitung jumlahnya dan kekal. Secara kekal mereka mengumpul, bercerai berai dan hancur kembali oleh daya dari Adrsta. Sebuah atom didefinisikan sebagai ”sesuatu keberadaan, tanpa penyebab dan kekal”. Ia lebih kecil dari yang terkecil, tak terlihat, tak terbagi, tak dapat dirubah dan tak dapat diamati dengan indriya. Setiap atom memiliki visesa atau inti kekalnya sendiri. Kombinasi dari atom-atom ini mula-mula menjadi berjumlah dua, lalu tiga darinya kembali berkombinasi menjadi sebuah partikel yang disebut trasarenu (Triad).
Semua objek fisik dibentuk oleh kombinasi atom-atom, oleh karena itu penciptaan berarti kombinasi atom-atom dalam proporsi yang beerbeda-beda dan detruksi berarti penghancuran kombinasi-kombinasi atom-atom tersebut. Ada empat jenis paramānu: tanah, air, api, dan udara. Gabungan dari atom-atom catur bhuta tersebut ditambah dengan lima substansi yang bersifat universal seperti akasa, waktu, ruang, jiva dan manas maka terjadilah alam semesta. Lima substansi universal tidak memiliki atom-atom sehingga ia tidak dapat memproduksi sesuatu di dunia ini.

3.4 Epistemologi Vaisesika
Vaisesika Darsanayang memiliki kesamaan dengan Nyaya hanya mengakui dua jenis pramana, yaitu: pratyaksa dan anumana pramana. Vaisesika menolak adanya upamana dan sabda pramana karena dianggap memberikan kebenaran yang meragukan.
Pratyaksa pramana memberikan pengetahuan kepada kita mengenai sasaran yang dapat diamati menurut ketentuan dari sasaran itu masing-masing. Misalnya kita melihat bola itu bulat dan batu itu padat. Pengetahuan yang demikian itu didapat karena adanya kontak indria dengan obyek yang diamati. Hubungan ini merupakan hubungan yang realistis, sebab setiap indria memiliki sifat-sifat khas dengan obyek yang diamati.
Panca indra manusia mempunyai kaitan yang sangat erat dengan panca mahabhuta, karena keberadaan tubuh termasuk indra berasal dari unsur-unsur tersebut. Oleh karena itu indra menangkap sinar untuk melihat, telinga menangkap suara yang berasal dari udara. Pengamatan juga dapat terjadi tanpa memerlukan indra, yang disebut dengan pengamatan transenden yang dilakukan oleh para yogi.
Pratyaksa dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu nirvikalpa dan savikalpa. Nirvikalpa adalah pengamatan terhadap sesuatu sebatas obyek belaka tanpa adanya penilaian. Savikalpa adalah pengamatan yang ditentukan sehingga seseorang dapat mengenal obyek yang diamati dengan semua ciri-ciri, sifat-sifat serta namanya.
Tidak semua pengetahuan itu benar, ada kalanya timbul khayalan atau keragu-raguan. Sesuatu dinyatakan salah jika sesuatu itu nampak secara berlainan dengan keadaan yang sebenarnya, umpama seutas tali disangka ular. Kesalahan ada pada keterangan tambahan yaitu disangka ular. Menurut Vaisesika darsana, yang dapat diamati tidak hanya substansi, melainkan juga sifat-sifatnya, kelompoknya bahkan juga hal yang bersifat abhava. Misalnya, daun dapat diamati substansi daunnya, tulang daunnya, sifat daunnya berwarna hijau, terutama daun yang kuat dan sebagainya. Mengenai ketidakadaan dapat diamati dan diterangkan yaitu; daun yang tidak hijau yang sebenarnya hijau, menunjukka bahwa warna hijau tidak ada padanya, dengan demikian seseorang mengamati tidak adanya warna hijau pada daun tersebut (mungkin disebabkan oleh karena musim kemarau atau daun itu sudah tua sehingga warnanya berubah).
Anumana berarti ”pengetahuan yang kemudian”. Pengetahuan yang didapat dengan anumana adalah dengan melihat suatu tanda (lingga) yang selalu memiliki hubungan dengan obyek yang ditarik kesimpulannya (sadhya). Perhubungan antara lingga dan sadhya disebut wyapi. Dalam anumana menurut ajaran Vaisesika harus memenuhi tiga syarat, yaitu paksa ialah kesimpulan yang akan ditarik, sadhya ialah obyek yang ditarik kesimpulannya, dan lingga. Contoh; dikejauhan kita melihat adanya asap. Hal ini memberikan kesan bahwa tentu ada benda yang mengeluarkan asap. Benda yang mengeluarkan asap tidak lain adalah api (sadhya). Dengan melihat keadaan itu kita menarik suatu kesimpulan, tentulah ada sesuatu yang terbakar di tempat yang jauh itu (paksa).
Pengetahuan yang diperoleh dengan anumana berdasarkan fakta di atas adalah memerlukan bantuan pengetahuan lain. Pengetahuan lain yang dimaksud adalah dalil yang bersifat umum, yaitu bahwa api senantiasa disertai oleh asap. Bantuan pengetahuan lain sangat diperlukan dalam mengambil suatu kesimpulan dengan tujuan untuk meyakinkan orang lain.

3.5 Etika Vaisesika Darsana
3.5.1 Pandangan Terhadap Jiva
Atman merupakan unsur lain yang sangat berbeda dengan unsur manas, indriya dan tubuh. Keberadaan atman hanya dapat dibuktikan melalui tubuh dan manas yang dimiliki oleh setiap orang. Hal ini dapat dibandingkan dengan aliran listrik, bahwa kita baru dapat membuktikan adanya aliran listrik bila kita memegang kawat yang dialiri aliran listrik. Seseorang dapat hidup berpikir, berbicara dan sebagainya membuktikan adanya atman.
Dalam Vaisesika Darsanaatman dikatakan berjumlah banyak dan merupakan bagian daripada Brahman, sehingga atman pada dasarnya adalah suci. Setelah atman bersatu dengan badan kasar maka terjadilah beraneka kebahagiaan, kegembiraan, penderitaan, dan kesengsaraan. Adanya perasaan sukha dan duhka sesungguhnya disebabkan oleh pikiran (manas) melalui indriya yang dirasakan kepedihannya oleh badan.
Badan pada waktu pralaya adalah halus, dan pada waktu penciptaan menjadi kasar. Waktu, tempat dan keadaan kelahiran, keluarga dan kehidupan semuanya ditentukan oleh adrsta. Roh-roh pribadi sifatnya abadi, bemacam-macam dan secara kekal terpisah satu dengan yang lainnya, berbeda dengan badan, indriya dan pikiran, namun tanggap terhadap pengertian, kehendak, keinginan, kebencian, kesenangan, penderitaan, dan kekurangan. Sifatnya tak terbatas, ada di mana-mana dan terpancar di alam semesta. Roh dan pikiran bukanlah obyek pengamatan. Kerja sama dari roh dengan badan, indriya dan kehidupan yang dihasilkan oleh dharma dan adharma, disebut kelahiran dan pemisahan dari badan dan pikiran yang dihasilkan darinya disebut kematian.
a) Belenggu
Kesenangan dan penderitaan adalah hasil kontak roh, indriya, pikiran dan benda-benda. Dari kesenangan muncul keinginan. Dari kesenangan yang diperoleh melalui kenikmatan akan untaian bunga, adonan cendana, wanita dan obyek-obyek lainnya, timbullah keinginan untuk memperolehnya yang disebut sebagai Rāga atau keterikatan. Dari penderitaan yang disebabkan gigitan ular, kalajengking, duri dan sejenisnya, muncullah rasa benci mengingat penderitaan semacam itu atau mengingat akan sumber penderitaan itu.
Suatu kesan yang sangat kuat dihasilkan oleh pengalaman yang tetap dari benda-benda melalui pengaruh pikiran, seorang pecinta yang malang yang tidak mendapatkan kekasihnya melihat yang dicintai pada setiap benda. Mereka yang pernah dipatuk seekor ular memandang ular ada di mana-mana, disebabkan oleh kesan yang kuat dari pengingatan hal tersebut.
b) Kesalahan-kesalahan penyebab Belenggu
Kesalahan-kesalahan (dosa) yang dilakukan yang dapat menyebabkan belenggu adalah sebagai berikut: keinginan (rāga), kebencian (dvesa), dan kegila-gilaan (moha), karena semua ini merupakan perangsang kegiatan yang membantu untuk membelenggu si pelaku pada alam semesta ini.
Sesungguhnya atman itu suci, namun ia tampak menjadi pelaku atau sumber kesedihan (klesa) yang ada di dalam manas setiap orang. Adapun klesa-klesa yang muncul dalam pikiran itu adalah 1) avidya yaitu suatu pengetahuan yang salah terhadap kebenaran, 2) asmita yaitu pandangan yang keliru yang menganggap bahwa atman itu sama dengan budi, dan manas, 3) raga yaitu keinginan yang didorong oleh hawa nafsu yang berlebihan untuk memuaskan indriya-indriya, 4) dvesa yaitu rasa kebencian, dan 5) abhinevesa yaitu ketakutan menghadapi penderitaan dan kematian. Kelima klesa ini disebut mithya jñana (pengetahuan palsu) yang memaksa badan untuk bekerja dengan segala konsekuensinya.
3.5.2 Aksiologi: Pandangan Terhadap Pembebasan
Moksa atau pembebasan adalah penghilangan absolut semua jenis penderitaan, di mana jiva dipisahkan dari belenggu pikiran dan tubuh dan menyadari hakekat murninya. Moksa terjadi dalam ketidakberadaan dari kerja sama dengan badan, apabila pada saat yang sama tidak ada kemungkinan keberadaan badan dan akibatnya tidak ada kelahiran kembali. Pembebasan (moksa) dicapai karena pengetahuan, di mana hanya dengan meraih pengetahuan sempurna tentang katagori-katagori alam semesta seseorang dapat mencapai moksa. Jiva karena kebodohannya melaksanakan kerja, di mana kerja mengantarkan kepada akibat perbuatan baik (punya) dan akibat perbuatan buruk (papa). Jika kerja sesuai dengan ajaran-ajaran Veda, maka kerja-kerja tersebut mengantarkan kepada punya, namun jika kerja-kerja tersebut dilarang oleh Veda, maka kerja-kerja tersebut mengantarkan kepada papa. Sepanjang jiva terus menerus melaksanakan kerja-kerja, maka ia akan terikat, oleh karena itu untuk dapat lepas dari cengkraman belenggu ini, maka roh-roh harus menghentikan kerja.
Moksa muncul karena pengetahuan. Ketika kerja dihentikan, punya dan papa baru tidak dapat diakumulasi dan punya dan papa tua juga secara perlahan-lahan hilang. Di dalam moksa sifat-sifat jiva seperti kebahagiaan tidak ada lagi, karena sifat-sifat itu sifatnya aksidental. Moksa adalah keadaan yang tanpa sifat, merupakan hakekat murni roh individu sebagai substan murni yang bebas dari semua sifat. Dalam keadaan moksa jiva indidvidu tidak merasakan, tidak memikirkan, dan tidak melaksanakan apa-apa.
a) Pengetahuan yang memberikan pembebasan
pengetahuan intuitif tentang sang diri, menghancurkan pengetahuan palsu, akibatnya daya tarik, kebencian, kebodohan atau moha dan kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh kegiatan tidak berlangsung dan penderitaan yang berhubungan dengan kelahiran juga lenyap.
Jalan yang ditunjuk oleh Vaisesika mencapai kelepasan adalah melalui tattva jñana, sravana, manana dan meditasi. Melalui tattva jñana hendaknya seseorang memahami bahwa atman itu berbeda dengan badan, indriya dan pikiran. Sravana adalah senang mendengarkan kata-kata yang ada pada kitab suci yang disampaikan oleh guru kerohanian. Manana adalah melaksanakan apa yang didengar, dibaca dari kitab-kitab suci di masyarakat melalui pikiran, perkataan dan perbuatan yang dilandasi oleh cinta kasih terhadap sesama. Sedangkan meditasi adalah melakukan pemusatan pikiran terhadap Tuhan dengan tujuan menenangkan pikiran dan merealisasikan sang diri sejati, dengan melakukan cara-cara praktek yoga.
Atman adalah bagian dari Brahman yang pada hakekatnya adalah suci. Tuhan menentukan kehidupan semua mahluk dan Beliau juga menuntun untuk mendapatkan kesempurnaan. Akan tetapi semua itu tidaklah terlepas dari kumpulan pahala perbuatan baik dan buruk dari kehidupan seseorang pada beberapa fase kehidupan yang lalu. Oleh karena Tuhan adalah merupakan asal dan berakhirnya segala sesuatu maka oleh Vaisesika setiap orang dianjurkan untuk memuja dan mengikuti ajaran-Nya. Dengan melakukan jalan yang ditunjuk oleh Vaisesika secara bersungguh-sungguh dengan penuh keyakinan seseorang mendapatkan kebebasan yang sejati.

DAFTAR PUSTAKA
Donder, I. K. 2005. Brahmavidya. Paramita: Surabaya.
Donder, I.K. 2009. Teologi Memasuki Gerbang Ilmu Pengetahuan Ilmiah tentang Tuhan Paradigma Sanatana Dharma. Paramita: Surabaya.
Maswinara, I Wayan. 1999. Sistem Filsafat Hindu (Sarva DarsanaSamgraha). Paramita: Surabaya.
Rama, Svami.2009. Hidup dengan para Rsi, Yogi Himalaya. Paramita: Surabaya.
Sivananda, Svami, 2003. Intisari Ajaran Hindu. Paramita: Surabaya.
Suamba, I.B Putu. 2003. Dasar-Dasar Filsafat India. PT Mabhakti: Denpasar
Suwira, Wayan. 2008. Buku Ajar Sejarah Filsafat India. Departemen Filsafat Universitas Indonesia.
Tim penyususn. 2009. Modul Materi Pokok Darsana. Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu: Departemen Agama RI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *