Advaita Vedanta

BAB II ADVAITA VEDANTA

2.1 Pendiri Advaita Vedanta

Sistem vedanta yang terbesar adalah aliran Advaita. Kata Advaita berarti tiada dualisme. Sistem Advaita menyangkal adanya realitas atau kenyataan yang lebih dari pada satu. Sistem Advaita juga disebut dengan nama monisme, yang mengajarkan bahwa segala sesuatu dialirkan dalam suatu asas yaitu Brahman (modul, 2009: 173). Hanya Brahman yang mutlak, sedangkan semua perbedaan dan kejamakan merupakan khayalan belaka.
Tokoh pendiri Advaita Vedanta adalah Śankara yang diperkirakan hidup pada tahun 788-820 Masehi. Akan tetapi orang pertama yang secara sistematis menguraikan filsafat Advaita adalah Gaudapāda, yang merupakan Parama Guru dari Śri Śańkara. dalam Mandukya Karika-nya yang terkenal telah menguraikan ajaran inti dari Advaita Vedanta (Maswinara, 1999: 181). Śri Śańkara mengemukakan ajaran Advaita secara singkat seperti dalam separoh sloka, yaitu: “BRAHMA SATYAM JAGAN MITHYA, JĪVO BRAHMAIVA NA APARAH”, yang artinya bahwa Brahman (Yang Mutlak) sajalah yang nyata, dunia ini tidak nyata dan Jīva atau roh pribadi tidak berbeda dengan Brahman”. Inilah yang merupakan sari pati dari filsafat Advaita Vedanta. Upanisad mengungkapkan bahwa: Brahman adalah sama dengan jiwa perorangan dan sama dengan alam semesta, karena jiwa perorangan maupun alam semesta mengalir keluar dari brahman. Walaupun demikian Brahman tidak dapat disamakan dengan jiwa perorangan dan alam semesta. Ungkapan upanisad di atas
mendapat beberapa penafsiran antara lain: Menurut Bhartprapanca: Brahman adalah tunggal, tapi di dalam ketunggalannya itu mengandung keanekaragaman. Di dalam Brahman ada keanekaragaman jiwa perorangan yang tidak terbatas serta keanekaragaman alam semesta yang menjadi nyata melalui proses pengaliran ke luar (srsti).
Menurut Śańkara (Harun, hal 84-85 dalam modul pak wayan), ia tidak setuju dengan penafsiran dari Bhartprapanca. Upanisad memang mengajarkan dua gagasan yang tampaknya saling bertentangan:
1. Brahman adalah sama dengan jiwa perorangan maupun dengan alam semesta
2. Brahman adalah berbeda dengan jiwa perorangan maupun dengan alam semesta. Kedua pernyataan ini harus diakui kebenarannya, tapi tingkat kebenarannya yang berbeda. Pernyataan pertama merupakan pernyataan yang mengandung kebenaran tidak bersyarat atau kebenaran mutlak Brahman sama dengan jiwa perorangan dan Brahman juga sama dengan alam semesta.
Pernyataan kedua merupakan pernyataan yang mengandung kebenaran yang bersyarat atau tidak mutlak. Brahman berbeda dengan jiwa perorangan juga berbeda dengan alam semesta. Kebenaran bersyarat adalah kebenaran yang sejauh dapat dilihat dari kenyataan empiris atau sejauh dapat diamati, sejauh penampakannya saja. Contoh: ”Matahari” dimana matahari terbit dan terbenam adalah benar secara empiris, sejauh penampakannya saja. Pada kenyataan sesungguhnya tidaklah demikian adanya. Kebenaran bersyarat itu dalam upanisad adalah diterapkan pada kenyataan-kenyataan yang merupakan penampakkan-penampakan yang beraneka ragam. Dengan demikian keanekaragaman memiliki kebenaran bersyarat, kebenaran yang tidak mutlak atau kebenaran yang relatif. Upanisad mengajarkan bahwa realitas itu satu tidak berarti bahwa upanisad mengajarkan realitas yang monisme yang mengajarkan bahwa realitas itu hanya satu saja dari mana segala sesuatu itu dialirkan. Menurut sankara satu realitas yang dimaksudkan adalah bahwa tidak ada sesuatupun yang nyata (Sat), yang lepas dari Roh Yang Mutlak (Brahman).

2.2 Metafisika Advaita Vedanta

Dalam metafisika Advaita Vedanta ada dua pokok bahasan yaitu: tentang alam semesta dan Tuhan menurut pandangan Advaita.

2.2.1 Keberadaan Alam Semesta atau Dunia
Advaita Vedanta menyatakan dalam ajarannya hanya Brahman yang ada, yang tunggal, sedangkan jiwa perorangan adalah Brahman seutuhnya yang menampakkan diri dengan sarana tambahan (Upadhi). Alam semesta atau dunia dipandang sebagai suatu penampakkan khayal dari Brahman, oleh karena itu keadaannya tidak nyata atau semu.
Śańkara menerim teori Samkhya mengenai proses terjadinya alam semesta, yaitu: pertemuan Purusa dan Prakerti kemudian akibat pertemuan ini muncullah secara berturut- turut Budhi, Ahamkara, Manas, sepuluh indria, panca tan matra, panca mahabhuta dan gabungan dari panca maha bhuta ini akan muncullah alam semesta beserta isinya. Dalam ajaran advaita Purusa disamakan dengan Brahman dan Prakerti disamakan dengan Maya.
Hanya Brahmanlah yang disebut Sat, artinya hanya Brahmanlah yang memiliki keberadaan. Di luar Brahman keadaannya adalah a-Sat, artinya di luar Brahman tidak sesuatupun yang berada. Dunia atau alam semesta bukanlah Sat, artinya bukan keberadaan yang berada secara kekal. Namun di dalam pengalaman hidup sehari-hari dunia kelihatannya sebagai yang benar-benar nyata, yang dapat dilihat dan diamati. Bukankah itu berarti bahwa dunia ini benar-benar ada?
Menurut Śańkara dunia ini nampak kepada kita sebagai keanekaragaman, tidaklah berarti dunia ini tidak ada sama sekali, akan tetapi dunia ini hanya tidak berada secara kekal. Sebenarnya alam atau dunia yang kita lihat ini hanyalah penampakan yang sifatnya khayalan dari Brahman (SR Vol 2 hal 562). Untuk menjelaskan hal ini, Śańkara memperkenalkan ”Teori Maya” (Vivarta –Vada). Śańkara menjelaskannya dengan argumentasi yang klasik, sudah pernah ada yaitu tentang ”ular- tali”. Argumentasi ”ular-tali”: “seutas tali” dilihat disenja hari tampaknya “seperti ‘ular”. Reaksi psikologis dan emosional dari seseorang mengira bahwa ular itu riil adanya. Sesungguhnya yang benar-benar ada adalah ”seutas tali” akan tapi yang tampak bagi yang mengamatinya adalah ”seekor ular”. Sebenarnya kita tidak dapat menyatakan bahwa ular itu tidak ada (mungkin ada di tempat lain) demikian juga kita tidak dapat mengatakan bahwa ular itu ada, karena yang benar-benar ada adalah seutas tali. Seseorang di dalam kegelapan dapat keliru melihat seutas tali sebagai ular dan berlari menjauhinya karena takut (SR.Vol 2, hal 580). Analogi ini dipergunakan untuk menjelaskan tentang dunia ini, di mna kondisi kita dalm status ajñana sehingga kita berpikir bahwa dunia ini riil, padahal nyatanya tidak. Dunia ini diproyeksikan (adhyasa) dalam Brahman, di mana Brahman menyatu dengan kekuatan mayanya yang menjadi dasar dari dunia fenomena ini.
Dunia ini bukan merupakan transformasi (parinama) dari Brahman, tapi ia hanya suatu penampakan (vivarta) saja dari Brahman, sebagai dunia yang relatif dalam ruang dan waktu (SR.vol 2. 570). Hal ini dianalisis sebagai berikut:
1. Dari pernyataan di atas tidak dapat dikatakan bahwa ”ular” itu tidak ada, sebab si pengamat pada waktu itu
sangat ketakutan.
2. Kita juga tidak dapat mengatakan bahwa ”ular” itu ada, sebab yang benar-benar ada hanyalah ”seutas tali”.
3. Ternyata ”ular” yang tampak itu hanyalah suatu gejala psikis atau kejiwaan dari si pengamat yang tidak benar-
benar ada pada saat itu.
4. Jika seandainya tidak ada ”seutas tali” saat itu tentu penampakan ”ular” pun tidak akan muncul pada jiwa si
pengamat. Penampakan ”ular” tidak begitu saja muncul tanpa adanya ”seutas tali”.
5. Pernyataan nomor empat tidak dapat kita balik dengan mengatakan bahwa: penampakan ”ular” akan
menyebabkan ”tali” ada.

Dunia adalah seperti ”ular” di atas yang sebenarnya bersifat relatif, tidak berada secara mutlak, walupun mempunyai tertib kenyataan. Dunia hanyalah penampakan- penampakan yang keberadaannya tergantung dari realitas yang lebih tinggi yaitu Brahman. Jika seandainya tidak ada Brahman maka tidak akan ada dunia. Keberadaan dunia tergantung dari keberadaan Brahman, tetapi keberadaan Brahman tidak tergantung dari keberadaan dunia.
Maya merupakan kekuatan Brahman atau Tuhan yang tidak bisa dibedakan dengan Brahman itu sendiri, seperti halnya matahari dengan sinarnya. Semua yang ada di alam ini terletak pada kekuatan maya dari Brahman, yang oleh orang-orang bodoh akan dilihat benar-benar ada. Tapi bagi orang yang bijaksana semua yang ada itu hanyalah merupakan permainan sulap atau maya dari Tuhan. Dengan adanya maya Brahman itulah orang tidak mengetahui hakekat Brahman dan hakikat dirinya yang sejati, maka dari itu ia menderita. Maya dapat pula disamakan dengan avidya atau ketidaktahuan. Karena adanya maya itu, maka manusia menjadi tertipu mengenai alam semesta ini dan tertipu pula dengan hakikat Brahman itu sendiri yang merupakan sat-satunya realitas yang ada dan tunggal.

2.2.2 Pandangan Advaita Tentang Adanya Tuhan
Brahman bukanlah obyek, karena Ia bersifat Adrsta, yang mengatasi pencapaian mata. Karena itu kitab Upanisad mengatakan: ”Neti-Neti”, bukan ini, bukan itu. Hal ini bukan berarti bahwa Brahman merupakan suatu konsep negatif atau sesuatu yang tidak sungguh-sungguh ada, atau merupakan ketiadaan. Ia memenuhi segalanya, tak terbatas, tak berubah, ada dengan sendirinya, kesenangan itu sendiri, pengetahuan dan kebahagiaan itu sendiri, dan merupakan inti sari dari yang mengetahui. Ia adalah si pengamat (Drsta), transenden (Turiya), dan Saksi bisu (Sakşi). Terhadap pernyataan Upanisad yang berbeda tersebut Śańkara memberi penjelasan sebagai berikut:
Menurut Śańkara Brahman mempunyai dua wujud yaitu: Para Brahman dan Apara Brahman. Para Brahman adalah perwujudan Brahman yang absolut tanpa sifat, tanpa bentuk, tanpa perbedaan, dan tanpa pembatasan (Nirupadhi). Dalam wujud seperti ini Tuhan disebut Nirguna Brahman. Nirgunam juga disamakan dengan Sunya Niskala, Parama Śiwa yaitu suatu istilah yang digunakan untuk memahami hakekat Tuhan dalam keadaan-Nya semula.
Dalam istilah filsafat dikatakan sebagai alam transendental, yang artinya ada di luar batas jangkauan pikiran manusia. Tuhan dalam Nirgunam Brahman tidak disertai dengan Maya, tanpa sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur alam semesta. Wujud Para Brahman itu dipandang bukan dari alam manusia tetapi dari Brahman itu sendiri yang tanpa pribadi dan tanpa sifat. Apara Brahman adalah perwujudan Brahman yang relatif dalam artian Brahman memiliki sifat-sifat dan pembatasan. Apara Brahman terjadi demi untuk manusia dalam pemujaannya terhadap Tuhan. Dalam wujud Apara Brahman Tuhan dipandang sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur alam semesta beserta isinya, maka itu Tuhan dipandang sebagai Yang Maha Tahu dan Yang Maha Kuasa. Karena dunia diciptakan oleh Tuhan maka dunia dianggap benar-benar real atau nyata. Dalam keadaan seperti ini Brahman dinamakan Saguna Brahman atau Iśvara yang dipuja oleh manusia. Penggambaran Tuhan menurut alam pikiran manusia secara impiris pada hakekatnya tidak bertentangan dengan pengertian yang diberikan oleh kitab suci karena untuk kepentingan manusia. Penggambaran Tuhan sebagai yang dimaksud itu menyebabkan sifat Tuhan dibawa pada sifat-sifat manusiawi, sehingga menyebabkan timbulnya penggambaran Tuhan secara pantheistis, Tuhan sebagai manusia dengan sifat yang lebih. Tuhan dilukiskan secara abstrak sebagai Yang Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Pencipta, Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan sebagainya. Semua itu adalah sifat yang didambakan oleh manusia.

Penampakan Tuhan sebagai Īśvara memiliki aspek mencipta, memelihara, dan melebur alam semesta beserta isinya disebut Maya. Maya adalah cara kerja Brahman, yang menjadikan alam semesta beserta isinya. Maya disamakan pula artinya dengan Sakti (daya gaib), Semu dan Prakerti. Maya adalah kekuatan kreatif dari Brahman. Dunia tidak memiliki potensi yang riil, ia semata-mata penampakan dari Brahman. Brahman seperti halnya pesulap yang membuat penampakan-penampakan dari obyek fisik yang hanya ilusi belaka, tapi bagi penontonnya seperti riil adanya (Ngakan, hal 84, dalam modul wyan suwira, 88). Dari pihak manusia maya tampak sebagai kemahakuasan Tuhan yang menutupi hakekat Brahman yang sebenarnya merupakan suatu realitas tertinggi dan nyata. Penampakan seperti ini sesungguhnya adalah suatu penampakan khayal, karena pada diri- Nya Brahman adalah tunggal tanpa hubungan dengan apapun.

2.3 Epistemologi Advaita Vedanta
Dalam ajaran Advaita Vedanta dinyatakan bahwa ada enam jenis pramana yaitu: pratyaksa (pengamatan), anumana (penyimpulan), upamana (perbandingan), sabda (kesaksian), arthapati (perkiraan), dan anupalabdhi (tanpa pengamatan). Pramana yang dikemukakan oleh Śańkara sama pula jumlahnya dengan yang dikemukakan oleh Kumarila Bhatta, yaitu pratyaksa, anumana, upamana, sabda dan arthapati. Antara Śańkara dengan Kumarila Bhatta ada sedikit perbedaan pandangan mengenai Veda. Menurut Kumarila Bhatta, Veda tanpa penyususn maksudnya tidak disusun oleh manusia maupun diciptakan oleh Tuhan. Śańkara menyatakan bahwa Veda diciptakan oleh Tuhan, dan keberadaan Veda adalah kekal.
Pratyaksa menurut Advaita ada dua jenis yaitu: Nirwikalpa dan Sawikalpa. Nirwikalpa adalah pengamatan terhadap suatu obyek tanpa asosiasi, tanpa penilaian, tanpa sebutan apapun. Umpama; seseorang melihat sesuatu mereka tidak tahu apakah yang dilihat itu guci, pot panjang, atau pendek, rendah, tinggi dan sebagainya. Dalam hubungan ini seseorang hanya mengenal sesuatu sasaran pengamatan saja.
Sawikalpa adalah pengamatan terhadap suatu obyek dengan ciri-ciri, sifat-sifatnya, namanya dan penilaian tertentu. Misalnya seseorang mengamati barang yang termasuk alat dapur yaitu belanga yang berbentuk bulat, hitam, dan sebagainya. Pengetahuan ini dapat disebut benar bila coraknya benar-benar dimiliki oleh sasaran pengamatan itu sendiri.

Pratyaksa memberikan pengetahuan kepada kita dari obyek yang diamati. Hubungan ini merupakan hubungan yang realistis, karena setiap indriya memiliki sifat- sifat yang khas dengan obyek yang diamati.
Indriya-indriya kita memiliki kaitan yang sangat erat dengan Panca Maha Bhuta, sebab keberadaan tubuh kita berasal dari unsur-unsur tersebut. Maka dari itu mata dapat menangkap sinar, telinga dapat mendengar, lidah dapat merasakan dan sebagainya. Pengamatan dapat juga terjadi tanpa memerlukan bantuan indriya yang disebut dengan pengamatan transenden yang dilakukan oleh para yogi. Hal ini disebabkan karena para yogi itu memiliki kekuatan gaib yang memungkinkan dia mampu berhadapan dengan sasaran yang mengatasi indriya.
Tidak semua pengetahuan itu benar, ada kalanya timbul keragu-raguan. Sesuatu dinyatakan salah jika sesuatu yang tampak itu berlainan dengan keadaan yang sebenarnya. Umpamanya seutas tali disangka ular. Kesalahan bukan terletak pada obyek yang disajikan, yaitu seutas tali sebab obyek itu benar-benar ada. Kesalahan ada pada keterangan tambahan, yaitu disangka ular. Namun ular memang benar ada hanya saja keberadaannya di tempat lain. Dengan demikian kesalahan terletak pada perbutan memberikan corak yang sebenarnya tidak dimiliki oleh sesuatu yang diamatinya. Menurut Advaita yang dapat diamati bukan saja substansi, melainkan juga yang bersifat abhawa atau ketidakadaan. Misalnya tidak adanya warna hijau pada daun yang sebenarnya hijau.
Anumana merupakan pramana yang kedua dari Advaita, yang artinya pengetahuan yang kemudian. Pengetahuan yang didapat dengan anumana adalah dengan melihat suatu tanda (Lingga) yang selalu memiliki hubungan dengan obyek yang ditarik kesimpulannya (Sadhya). Perhubungan antara Lingga dan Sadhya disebut Wyapti. Dalam hal anumana semestinya ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu Paksa (suatu kesimpulan yang akan ditarik), Sadhya (obyek yang akan ditarik kesimpulannya), dan Lingga (tanda yang tak terpisahkan dengan benda dan kesimpulannya). Contoh di kejauhan ada asap, hal ini memberikan kesan kepada kita tentu ada api di situ. Dengan melihat keadaan yang demikian kita menarik suatu kesimpulan, tentulah ada yang terbakar di tempat itu.
Kesimpulan tersebut diambil karena adanya dalil umum yang menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara api dan asap. Dalil umum itu perlu diperkuat dengan suatu contoh yang khas, yaitu apa saja yang berasap tentu berapi. Hal ini menunjukkan bahwa dalil umum itu juga didasarkan atas pengalaman yang telah ada. Dengan demikian pengalaman seseorang tentang api di suatu tempat itu, tergantung dari pengamatannya tentang asap yang memang sudah dikenal sebagai sesuatu yang selalu menyertai api. Jelaslah bahwa pengetahuan yang diperoleh dengan penyimpulan itu memerlukan perantara atau bantuan pengetahuan lain. Penyimpulan perlu diambil adalah bertujuan untuk meyakinkan orang lain atau diri sendiri.
Pramana ketiga untuk mendapatkan pengetahuan yang benar adalah upamana (perbandingan), yaitu alat pengetahuan yang menjadikan orang tahu adanya kesamaan antara dua hal. Pandangan Advaita tentang upamana berbeda dengan pandangan Nyaya. Nyaya mengakui bahwa upamana adalah merupakan pengetahuan yang unik. Tetapi Advaita menerima upamana sebagai hal yang sangat berbeda. Menurut Advaita pengetahuan yang muncul dari upamana, bila kita tahu bahwa obyek yang diingat adalah persis dengan apa yang diterima. Contoh: pada saat melihat cerucut (tikus kecil) orang menerimanya sebagai tikus yang diketahui dahulu, kemudian dia memperoleh pengetahuan bahwa tikus yang dia ingat sama seperti tikus yang ia lihat. Pengetahuan ini yaitu tikus yang dikenalnya dulu adalah seperti cerucut ini yang ia peroleh dengan membandingkan atau dari pengetahuan tentang cerucut yang sama dengan tikus.
Mengenai sabda (kesaksian) dinyatakan oleh advaita bahwa sabda Veda adalah mengandung kebenaran yang mutlak. Apa yang dinyatakan oleh Veda adalah benar. Isi Veda tidak bertentangan dengan pramana-pramana yang lainnya, karena pramana yang lainnya itu lebih banyak berhubungan dengan dunia yang dapat diamati, sedangkan Veda berhubungan dengan dunia yang tidak dapat diamati. Veda menurut Śańkara diciptakan oleh Tuhan dan bersifat kekal. Pada waktu dunia pralaya, Veda ikut lenyap, tetapi kapan dunia ini diciptakan maka Veda akan muncul kembali untuk membimbing umat manusia ke arah kesempurnaan. Advaita juga mengakui bahwa pengetahuan yang didapat melalui sabda pramana dipandang benar bila berasal dari orang yang dapat dipercaya. Misalnya pernyataan-pernyataan para Maha Rsi tentang kebenarn adanya Tuhan dan kesucian- kesucian ajaran-Nya. Ajaran Tuhan yang ada pada kitab suci Veda menurut Advaita hendaknya dijadikan pedoman dalam hidup ini demi kesempurnaan umat manusia.
Pramana yang kelima dari Advaita adalah arthapati (persangkaan atau perkiraan). Arthapati adalah suatu bentuk perkiraan yang sangat diperlukan terhadap sesuatu yang sulit dipahami dengan melalui beberapa penjelasan yang berlawanan dengan yang lainnya.

Penjelasan ini memerlukan beberapa fakta untuk menerangkan sesuatu bentuk yang sebenarnya. Bila kita memberikan suatu penjelasan tentang sesuatu benda yang belum pernah dilihat wujudnya. Kita dapat menjelaskan benda ynag dimaksud dengan benda lain yang sudah dikenalnya, sehingga orang itu mudah dapat mengartikannya. Contoh: kita melihat seorang lelaki berbadan gemuk sedangkan ia tidak pernah dilihat makan pada siang hari, disini kita mendapat suatu kenyataan yang bertentangan antara badannya yang gemuk dengan puasa yang dilakukannya. Kita tidak dapat menemukan jalan yang mendamaikan kedua fakta ini yaitu kegemukan dan tidak makan atau puasa, kecuali kita menerima perkiraan tentulah orang laki itu makan pada waktu malam hari.
Pengetahuan yang diperoleh dari peristiwa ini bukanlah merupakan suatu kesimpulan dan bukan merupakan suatu bentuk perbandingan. Suatu pengetahuan yang dapat disebut-sebut sebagai suatu kesimpulan bila kita tidak melihat orang laki itu makan pada waktu malam hari. Tidak pula dijumpai adanya sebab yang jelas yang berhubungan erat antara kegemukan dan makan malam, demikian pula kita dapat menyatakan dimana ada orang gemuk jelas sering makan malam hari, sebagaimana halnya orang menyatakan dimana ada asap di sana ada api.
Walaupun hal yang demikian tidak merupakan peristiwa biasa, tetapi cara mendapatkan pengetahuan melalui arthapati itu sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa contoh yang dipergunakan untuk menjelaskan hal-hal itu adalah demikian; bila kita menyebutkan seorang kawan yang tidak ada di rumahnya, tetapi kita yakin bahwa ia masih hidup, kemudian kita menyatakan boleh jadi kawan kita itu ada di luar rumah. Perkiraan yang terakhir itu kita dasarkan kepada suatu dalil bagaimana mungkin seseorang dapat hidup tanpa ada rumah sebagai tempat tinggal yang lainnya.
Cara perkiraan itu mungkin dapat diperluas dalam bidang penggunaan bahasa. Bila kita menghilangkan beberapa kata dalam suatu kalimat, jelas kata-kata itu tidak ada dalam kalimat tersebut yang kemudian menyebabkan arti kalimat itu tidak dapat dijelaskan. Cara lain lagi yaitu, bila kita membaca dalam suatu bacaan atau mendengar suatu kalimat yang berbunyi tutuplah, kita menambahkan dengan bibirmu, karena tanpa tambahan kata itu arti kalimat tersebut tidaklah lengkap. Contoh lagi dalam sebuah kalimat: ”industri itu merupakan kunci daripada kesuksesan” perkiraan kita tentulah arti kunci di sana tidak sama dengan arti kunci yang sebenarnya (yang biasa dipakai untuk pintu).

Mimamsa membedakan antara dua jenis perkiraan (arthapati) dari penjelasan mengenai kegemukan seorang laki-laki yang puasa di siang hari dan menggunakan kata- kata yang didengar (sutararthapati) dalam suatu kalimat sebagai yang tersebut di atas.
Arthapati dapat disamakan artinya dengan hipotesa dalam pikiran barat, tetapi coraknya berbeda. Cara memperoleh pengetahuan melalui arthapati tidaklah sesederhana pikiran dalam hipotesa, tetapi merupakan suatu keyakinan di dalam menjelaskan tentang sesuatu. Melalui arthapati muncul penjelasan yang diinginkan berdasarkan alasan tentang sesuatu dan hal ini berbeda dengan kesimpulan yang menjelaskan sesuatu yang berdasarkan fakta. Tanpa fakta penjelasan dalam kesimpulan tidak dapat dilakukan. Maka itu dapat dikatakan bahwa arthapati adalah sesuatu pencarian untuk suatu alasan, sedangkan kesimpulan adalah sesuatu pencarian untuk sesuatu sebagai akibat.
Pramana yang terakhir dari Advaita adalah anupalabdhi atau tanpa pengamatan, karena bendanya memang tidak ada. Anupalabdhi adalah cara untuk mendapatkan pengetahuan mengenai tidak adanya pengamatan terhadap suatu obyek dikarenakan memang bendanya tidak ada. Misalnya, ada pertanyaan dari seseorang, bagaimana saya tahu tentang ketidakadaan itu, lihatlah dan katakan apakah ada pot bunga di atas meja ini. Saya tidak dapat mengatakan hal tersebut, karena benda itu memang tidak ada. Terhadap hal ini oleh Advaita dikatakan bahwa ketidakadaan pot di atas meja itu diketahui karena tidak adanya pot di atas meja, maka dari itu ia tidak dapat dipahami.
Kita tidak dapat berkata bahwa ketidakadaan pot di atas meja itu merupakan suatu kesimpulan dari tidak adanya pengamatan. Untuk menarik suatu kesimpulan dimungkinkan bila kita telah memiliki pengetahuan yang bersifat universal tentang hubungan antara benda dan tanda yang dimiliki oleh benda itu. Maka itulah kita tahu bahwa bila suatu obyek tidak dapat dipahami disebabkan oleh karena bendanya memang tidak ada. Demikian pula tentang pengetahuan tidak adanya pot di atas meja kita akui sebagai tidak adanya pengamatan, sehingga benda itu tidak dapat dipahami dengan sebaik-baiknya.
Śańkara menggunakan Nyaya Darsana untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Ketika Adi Śańkara pada saat mendekati kepergiannya, para muridnya memohon kepadanya untuk memberi pesan-pesan terakhirnya. Hasilnya sang Ācārya memberi mereka pesan dalam 5 sloka, yang dikenal sebagai Upadeśa Pañcakam atau Sopana Pañcakam atau Sādhanā Pañcakam. Salah satu bagiannya terbaca sebagai berikut: ”Dustarkāt suviramyatām śrutimatastarkonusandhīyatam” yang artinya:”hindarilah dari perbantahan kata-kata saja dan hanya menerima makna yang menghormati Veda, hasil perasan dari pemikiran dan didasarkan pada suatu titik pangkal suara tersebut”. Dan makna atau peralatan yang dipergunakan untuk menegakkan dalil- dalil Veda tersebut disebut Nyāya.
Pandangan filsafat Nyāya menyatakan bahwa dunia di luar manusia ini, terlepas dari pikiran. Kita dapat memiliki pengetahuan tentang ”dunia” ini dengan melalui pikiran yang dibantu oleh indra. Oleh karena itu sistem filsafat Nyāya ini dapat disebut sebagai sistem yang realistis (nyata). Pengetahuan itu dapat disebut ”benar” atau ”salah”, tergantung dari pada alat-alat yang dipergunakan untuk mendapatkan pengetahuan tersebut, di mana secara sistematik semua pengetahuan menyatakan 4 keadaan, yaitu: (1) subyek atau si pengamat (pramātā), (2) obyek yang diamati (prameya), (3) keadaan hasil dari pengamatan (pramīti), dan (4) cara untuk mengama Jadi proses pengamatan tergantung kepada keempat keadaan ini. Sedangkan obyek (prameya) yang diamati ada 12 banyaknya, yaitu: 1) Roh (Ātman), 2) Badan (śarīra), 3) Indriya, 4) Obyek indriya (artha), 5) Kecerdasan (buddhi), 6)pikiran (manas), 7)kegiatan, 8) kesalahan (dosa), 9 perpindahan, 10) buah atau hasil (phala), 11) penderitaan (duhkha), dan 12) pembebasan.

Mengenai pengetahuan oleh Advaita dinyatakan ada dua jenis pengetahuan yaitu: Para Vidya dan Apara Vidya. Para Vidya adalah pengetahuan yang lebih tinggi yang di dalamnya terkandung segala macam kebenaran, meliputi segala sesuatu dan mewujudkan kesatuan yang universal, yaitu Brahman. Oleh karena itu pengetahuan ini juga disebut Brahma Vidya atau Atma Vidya, yaitu pengetahuan tentang Brahman dan pengetahuan tentang Atman. Apara Vidya adalah pengetahuan yang lebih rendah yaitu pengetahuan yang bersifat keduniaan yang sebenarnya adalah ilusi atau maya. Oleh Advaita Apara Vidya ini dinyatakan bukanlah pengetahuan melainkan suatu bentuk avidya.

2.4 Etika Advaita Vedanta

Tujuan hidup tertinggi menurut Advaita adalah untuk mengetahui dan merealisasikan bahwa Ātman adalah Brahman. Barang siapa saja yang dapat mengetahui sang diri sejati itu maka ia mencapai kelepasan yaitu bersatu dengan Brahman. Ātman menurut pandangan Advaita adalah Brahman seutuhnya yang menampakan diri disertai dengan sarana tambahan atau upadhi yang membatasi wujud-Nya yang sejati. Adapun sarana tambahan itu adalah buddhi, ahamkara, manas, dan pembantu-pembantunya yaitu Jnanendriya dan Karmendriya.
Pernyataan Upanisad yang mengatakan bahwa: Brahman sama dengan Ātman atau jiwa perorangan, tapi dilain pihak Brahman berbeda dari jiwa perorangan. Śańkara menjelaskannya sebagai berilut: hubungan Brahman dengan jiwa perorangan tidak dapat disamakan dengan hubungan antara Brahman dengan Dunia. Jiwa peroragan tidak bisa dipandang sebagai penampakan khayalan belaka dari Brahman, sebab jiwa adalah Brahman seutuhnya yang tidak terbagi-bagi. Cuma saja Brahman di sini menampakkan dirinya dengan sarana tambahan (upadhi) yang konsekuensinya Brahman dibatasi oleh sarananya itu sendiri.
Hubungan antara Brahman dengan Jiwa digambarkan sebagai ”Kerang Perak” yang dilihat dengan mempergunakan ”Kaca Kuning”. Kerang yang pada dasarnya berwarna perak itu, tampaknya kuning karena dilihat dengan sarana tambahan berupa ”Kaca Kuning”. ”Kerang berwarna Kuning” bukanlah penampakan khayalan dari ”Kerang berwarna Perak”. Yang tampak sama-sama kerangnya, cuma saja warnanya yang berbeda pada penampakan adalah ”Kerang berwarna Kuning” sedangkan pada kenyataannya ”Kerang berwarna Perak”. ”Kerang Kuning” atau Jiwa perorangan bukanlah penampakan khayalan dari ”Kerang Perak” atau Brahman seperti halnya penampakan alam semesta. Ada unsur-unsur yang identik antara Jiwa dengan Brahman, hanya saja Brahman memiliki keadaan yang membatasi unsur-unsur yang identik itu. Keadaan yang membatasi itu adalah alat batin atau Antah Karana (Upadhi).
Disamping Antah Karana, ada lagi sarana tambahan yang lain yaitu berupa hasil perbuatan sepanjang hidup manusia yang disebut karma wasana. Karma wasana ini ada pada tubuh halus yang kemudian menentukan kehidupan manusia selanjutnya. Dengan adanya sarana tambahan yang berlapis-lapis itu menyebabkan pengertian ”Aku” menjadi manusia yang sangat unik dan ruwet sekali, karena terdiri dari campuran Atman dan bukan Atman. Karena adanya avidya keduanya disamakan yang akibatnya menimbulkan penderitaan.
Ātman (Jiwa pribadi) adalah Brahman seutuhnya sehingga Jiwa pribadipun mempunyai sifat-sifat yang sama dengan Brahman, yaitu berada di mana-mana, tanpa terikat oleh ruang dan waktu, Maha Tahu, tidak berbuat dan tidak menikmati. Dalam kehidupan sehari-hari ada keanekaragaman perorangan yang disebabkan oleh Avidya.

Dalam keadaan avidya manusia tidak dapat membedakan dirinya yang sebenarnya dengan sarana-sarana tambahan (upadhi). Avidya atau ketidaktahuan mengakibatkan manusia mengalami segala macam penderitaan.
Filsafat Advaita menyatakan bahwa Brahman adalah The True Self sebagai satu- satunya yang ada akan tetapi tampaknya seperti banyak. Pluralitas jiwa-jiwa yang jelas kelihatan pada pengalaman sehari-hari kita adalah upadi-upadi yaitu tambahan pembatas. Ada dua terori yang menjelaskan mengapa Brahman menjadi banyak:
1) Sang Diri tampak banyak karena upadi-upadi seperti halnya badan fisik dan badan halus yang tak terbatas jumlahnya. Sebagai contoh ”akasa atau ruang”, ia meliputi segalanya dan satu. Ketika akasa itu dikondisikan oleh berbagai priuk dan pot serta kotak-kotak maka kita cendrung menyebutnya sebagai akasa-akasa yang lain yang jumlahnya sangat banyak, yang berbeda dengan akasa yang satu itu. Dengan cara yang sama dapat dijelaskan bahwa eksistensi hanyalah Sang Diri yang satu itu yaitu Atma. Ketika ia dikondisikan oleh organ-organ internal seperti buddhi, manas dan ahamkara yang berbeda maka mereka tampak sebagai jiwa-jiwa yang lain. Teori ini disebut sebagai teori Apacheda-Vada pencetusnya Vacaspati Misra dalam kitab Bhamati.
2) Teori Bimba-pratibimba-Vada atau teori refleksi. Teori ini dijelaskan dengan mempergunakan analogi yaitu bulan yang menyinari riak gelombang. Bulan yang pada dasarnya adalah satu, ketika sinarnya sampai pada permukaan air maka sinar bulan itu direfleksikan oleh permukaan air sehingga tampak banyak sekali bayangan bulan di air. Begitu pula dengan Sang Diri yang tampak banyak karena direflesikan oleh internal organ atau upadi yang jumlahnya sangat banyak. Teori ini dielaborasi oleh Prakasatma yang mengarang Vivarana.
Kesimpulan yang dapat ditarik yaitu bahwa: hubungan antara Brahman dengan Dunia dan hubungan Brahman dengan Jiwa menunjukkan bahwa satu-satunya realitas itu adalah Brahman. Brahman tampak sebagai dunia yang obyektif sekaligus Brahman juga tampak sebagai Brahman yang dibatasi oleh sarana tambahan atau upadhi.
.

Persiapan yang diperlukan untuk mengertikan ajaran Śańkara ada empat jenis, yaitu: 1) Mampu membedakan hal-hal yang bersifat kekal dan tidak kekal, 2) Mampu mengatasi keinginan yang berlebihan akan kenikmatan terhadap obyek-obyek keduniaan pada waktu sekarang dan selanjutnya, 3) Mampu mengembangkan dan mengawasi pemikiran-pemikiran yang luhur, seperti kesabaran, cinta kasih, dan kekuatan berkonsentrasi, dan 4) Mengarahkan kemauan dan keinginan untuk menuju kepada kelepasan.
Setiap persiapan sebagai yang tersebut di atas, hendaklah ditunjang oleh kecerdasan pikiran, keyakinan dan kemauan yang luhur sehingga seseorang akan mampu mempelajari Vedanta dari guru yang telah dapat merealisasikan Brahman dalam dirinya. Hendaklah seseorang dalam proses belajar itu mengikuti tiga petunjuk guru yaitu: 1) Mendengar perintah guru dengan sebaik-baiknya, 2) Mengartikan perintah-perintah itu melalui pertimbangan-pertimbangan yang dalam sehingga semua bentuk keragu-raguan lenyap, dan 3) Melakukan meditasi berulang-ulang dan kebenaran yang diajarkan oleh Sang Guru.
Kebenaran yang diajarkan oleh Guru Advaita adalah tentang tujuan hidup. Tujuan hidup manusia adalah untuk mengetahui dan merealisasikan kebenaran, untuk mengetahui dan merealisasikan bahwa Ātman adalah Brahman. Barang siapa yang mencapai tujuan itu, ia akan berubah pikirannya, baik mengenai dirinya maupun yang mengenai dunia. Perubahan ini menghasilkan kelepasan yaitu kembali kepada asal-Nya, Brahman.
Sarana untuk mencapai itu menurut Advaita ialah melalui: 1) Wairagya, yaitu melaksanakan disiplin yang praktis dan tidak terikat kepada sesuatu yang ada di sekitarnya, 2) Berusaha mendapatkan pengetahuan yang tertinggi (Jñana) dan mengubah pengetahuan ini menjadi pengalaman langsung yaitu dengan belajar kepada guru mengenai Advaita, sehingga mengetahui benar-benar bahwa Ātman adalah Brahman seutuhnya, dan 3) Berusaha memancarkan pengetahuan ini dalam hidup sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA
Donder, I. K. 2005. Brahmavidya. Paramita: Surabaya.
Donder, I.K. 2009. Teologi Memasuki Gerbang Ilmu Pengetahuan Ilmiah tentang Tuhan Paradigma Sanatana Dharma. Paramita: Surabaya.
Maswinara, I Wayan. 1999. Sistem Filsafat Hindu (Sarva DarsanaSamgraha). Paramita: Surabaya.
Rama, Svami.2009. Hidup dengan para Rsi, Yogi Himalaya. Paramita: Surabaya. Sivananda, Svami, 2003. Intisari Ajaran Hindu. Paramita: Surabaya.
Suamba, I.B Putu. 2003. Dasar-Dasar Filsafat India. PT Mabhakti: Denpasar
Suwira, Wayan. 2008. Buku Ajar Sejarah Filsafat India. Departemen Filsafat Universitas Indonesia.
Tim penyususn. 2009. Modul Materi Pokok Darsana. Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu: Departemen Agama RI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *