Yoga Darsana

BAB VI YOGA DARSANA

6.1 Pendiri Yoga Darsana

Sistem yoga termasuk salah satu dari enam sistem filsafat Veda. Pendiri dari Yoga Darsana adalah Maharsi Patanjali. Karyanya dikenal dengan nama Patanjali Yoga Sutra. Ia menyususn teks singkat yang mudah dihafal, menyarikan dan mengaitkan dengan beberapa teknik meditasi yoga. Yoga ini juga disebut Astangga Yoga yaitu yoga yang dibagi menjadi delapan tahapan, yang mirip dengan filsafat Samkhya. Ada berbagai sekolah yoga, antara lain Bhakti Yoga, Jnana Yoga, dan Kundalini Yoga.
Yoga merupakan sistem yang paling praktis dalam filsafat India. Hampir seluruh sistem meneima sistem ini dalam aspek prakteknya dengan penekanan yang berbeda-beda. Buku-buku komentar yang muncul kemudian seperti: Yoga Bhasya atau Vyasabhasya yang ditulis oleh Vyasa dan Bhojaraja yang menulis Yoga Maniprabha. Ajaran Yoga sudah sangat tua umurnya, hal ini dinyatakan oleh kitab-kitab Upanisad, Smrti dan Purana yang di dalamnya sudah ada ajaran Yoga. Kata ’yoga’ berasal dari akar kata ’yuj’ yang berarti ’bersatu’, ’menghubungkan’. Namun dalam pengertian Patanjali di dalam Yoga Sutra, yoga bukanlah berarti penyatuan tetapi upaya spiritual untuk mencapai kesempurnaan melalui pengendalian tubuh, indra dan pikiran, dan melalui diskriminasi yang benar antara Purusa dan Prakrti. Sistem ini memberikan metodologi bagaimana mengembangkan kesadaran individu menuju Kesadaran Universal, oleh karena itu yoga merupakan pembudayaan manusia seutuhnya.

6.2 Pokok-Pokok Ajaran Yoga

Ajaran yoga merupakan anugerah yang luar biasa dari Rsi Patanjali kepada setiap umat yang melakukan hidup kerohanian. Ajaran ini merupakan tuntunan bagi mereka yang ingin menginsyafkan kenyataan adanya roh sebagai asas bebas, bebas dari tubuh, indriya, dan pikiran (Modul depag, 134). Kitab Yoga-Sutra karya Rsi patanjali dibagi atas
4 (empat) bagian 194 sutra. Adapun keempat bagian itu adalah:

a) Bagian pertama disebut Samadhi Pada. Isinya tentang sifat tujuan dan bentuk ajaran yoga. Dalam bagian
ini pula diterangkan tentang perubahan-perubahan pikiran dan cara pelaksanaan ajaran yoga.
b) Bagian kedua disebut Sadhana Pada. Isinya tentang pelaksanaan ajaran yoga seperti cara mencapai
samadhi, tentang kedudukan dan tentang karma phala.
c) Bagian ketiga disebut Vibhuti Pada yang mengajarkan tentang segi bathiniah ajaran yoga dan juga
tentang ajaran gaib yang terdapat karena melaksanakan praktek yoga.
d) Bagian keempat disebut Kaivalya Pada, melukiskan tentang alam kelepasan dan kenyataan roh yang mengatasi alam
duniawi.

Sering kali filsafat Yoga disebut bersama-sama dengan filsafat Samkhya dengan nama Samkhya-Yoga. Antara ajaran Samkhya dan Yoga terdapat hubungan erat. Ajaran yoga adalah pelaksanaan ajaran Samkhya dalam kehidupan nyata. Yoga menerima ajaran dari pramananya Samkhya, demikian juga 25 tattvanya, namun menerima juga eksistensi
Tuhan.

Pelaksanaan ajaran yoga yang terpenting adalah sebagai jalan untuk memperoleh vivekajnana yaitu pengetahuan untuk membedakan antara yang salah dengan yang benar sebagai kondisi kelepasan. Untuk dapat mengerti dan menghayati ajaran filsafat dan agama, pikiran harus bersih dan tenang, karena hanya pikiran yang demikianlah yang dapat mewujudkan kebenaran ajaran agama, dan hal ini dapat diwujudkan dengan pelaksanaan ajaran yoga. Yoga mengajarkan bahwa kelepasan itu dapat dicapai melalui pengetahuan langsung tentang perbedaan roh dan dunia jasmani ini termasuk badan, pikiran dan sifat aku. Hal ini dapat diwujudkan melalui pengendalian fungsi badan, indriya, pikiran, rasa aku dan sebagainya. Dan menyadari adanya roh yang mengatasi segalanya. Roh itu kekal dan abadi, bebas dari penderitaan dan kematian.
Yoga mempunyai daya tarik tersendiri bagi murid yang memiliki tempramen mistis dan perenung. Yoganya maharsi Patanjali merupakan Astangga-Yoga atau Yoga dengan delapan anggota, yang mengandung disiplin pikiran dan tenaga fisik. Hatha Yoga membahas tentang cara-cara mengendalikan badan dan pengaturan pernafasan, yang memuncak Raja-Yoga, melalui sadhana yang progresif dalam Hatha Yoga, sehingga Hatha Yoga merupakan tangga untuk mendaki menuju tahapan Raja-Yoga. Bila gerakan nafas dihentikan dengan cara Kumbhaka, pikiran menjadi tak tertopang dan pemurnian badan melalui sat-karma (6 kegiatan pemurnian badan), yaitu: 1) Dhauti (pembersihan perut), 2) Basti (bentuk alami pembersihan usus), 3) Neti (pembersihan lubang hidung), 4) Trataka (penatapan tanpa kedip terhadap suatu objek), 5) Nauli (pengadukan isi perut), dan 6) Kapalabhati (pelepasan lendir melalui semacam pranayama), serta pengendalian pernafasan merupakan tujuan langsung dari Hatha Yoga. Badan akan diberikan kesehatan, kemudaan, kekuatan dan kemantapan dengan melaksanakan Asana, Bandha, dan Mudra.

6.3 Metafisika Yoga

6.3.1 Penciptaan Alam Semesta menurut Ajaran Yoga

Sistem filsafat yoga didasarkan pada sistem filsafat Samkhya, maka ajaran Yoga sebagian besar diambil dari ajaran Samkhya. Penciptaan alam semesta menurut ajaran yoga sama dengan ajaran Samkhya yaitu secara evolusi dimana citta dipandang sebagai hasil pertama dari perkembangan Prakrti. Yang dimaksud dengan Citta adalah gabungan budhi, ahamkara dan manas. Citta memantulkan kesadaran dari Purusa sehingga dengan demikian citta menjadi sadar dan berfungsi dengan bermacam-macam cara.
Tiap purusa berhubungan dengan suatu citta yang disebut karana citta. Karana citta dapat berkembang dan mengecil sesuai dengan tubuh atau tempat yang ditempatinya. Karana citta mengecil dalam tubuh binatang tetapi mengembang dalam tubuh manusia. Karana citta yang berhubungan dengan suatu tubuh, disebut karya citta. Tujuan sistem yoga adalah mengendalikan citta dalam keadaan yang semula, yang murni tanpa perubahan sehingga dengan demikian purusa dibebaskan dari penderitaan. Di dalam hidup sehari-hari citta menyamakan diri dengan yang disebut vretti, yaitu bentuk perubahan citta dalam menyesuaikan diri dengan objek pengamatan.

Citta dan Vrtti
Patanjali yoga juga dikenal dengan nama Raja-Yoga. Yoga didefinisikan sebagai penghilangan total modifikasi citta (sutra 1), yang dilakukan melalui meditasi atau konsentrasi yang juga disebut Yoga. Menurut sistem ini yoga terdiri dari penghentian fungsi-fungsi mental (cittavrttinirodha). Citta berarti tiga organ internal Samkhya, yaitu buddi atau intelek, ahamkara, dan manas atau pikiran. Citta sama dengan antahkarana, adalah mahat atau buddhi yang mencakup ahamkara dan manas. Citta adalah evolut pertama dari Prakrti dan mempunyai dominasi sattva. Ia tidak berkesadaran, tetapi karena sangat halus dan terdekat dengan Purusa, maka ia mempunyai kekuatan untuk merefleksikan Purusa dan oleh karena itu nampak seolah-olah sadar. Ketika ia berhubungan dengan suatu objek, ia mengasumsi ’bentuk’ objek. Bentuk ini disebut vrrti atau modifikasi. Terdapat lima tingkatan fungsi mental (cittabumi), yaitu: 1) ksipa atau kondisi menghambur dimana pikiran terseret diantara objek-objek, 2) mudha viksipta dalam kondisi-kondisi serupa, 3) viksipta atau kondisi secara relatif ditenangkan, 4) ekagra suatu keadaan konsentrasi pikiran atas objek kontemplasi, dan 5) niruddha yaitu penghentian aktivitas pikiran. Dua tingkatan terakhir pikiran merupakan kondisi kondusif bagi yoga. Terdapat dua jenis yoga, yaitu samprajnata adalah yoga dalam bentuk konsentrasi sempurna dari pikiran atas objek kontemplasi, oleh karena itu melibatkan aprehensi yang jelas atas objek itu, dan asamprajnata adalah seluruh ketidak hadiran semua pengetahuan termasuk pada objek yang dikontemplasikan.
Dengan memulai aktivitas citta, purusa tampak seolah-olah berbahagia dan menderita. Aktivitas citta dipengaruhi oleh tarikan tri guna, sehingga manusia terlibat dalam samsara. Kecendrungan manusia mengalami penderitaan karena disebabkan oleh klesa yang ada dalam dirinya, yaitu 1) avidya (ketidaktahuan), 2) asmita (menyamakan purusa dengan tubuh, pikiran dan perasaan diri pribadi, 3) raga (terikat kepada nafsu), dvesa (kebencian), dan abhinevesa (keinginan hidup yang panjang).
Agar purusa dapat dibebaskan dari ikatan Prakrti, seseorang hendaknya dapat menindas vrtti, yaitu dengan meniadakan klesa tersebut, sebab klesa mewujudkan suatu fungsi yang menjadi suatu dasar pembentukan karma, yang menimbulkan avidya. Tujuan ajaran yoga adalah memberhentikan perputaran yang tiada putusnya dengan cara bertahap meniadakan semua klesa dan vrtti, dengan cara ini manusia dapat membedakan antara pribadi dan yang bukan pribadi.

6.3.2 Pandangan Filsafat Yoga terhadap Tuhan

Berbeda dengan pandangan Samkhya, yoga mengakui adanya Tuhan. Adanya Tuhan dipandang lebih bernilai praktis daripada teori yang merupakan tujuan akhir dari yoga. Menurut Patanjali, keberadaan Tuhan dapat dibuktikan dengan adanya alam semesta beserta isinya, oleh karena itu sistem yoga bersifat teori dan praktek terhadap keberadaan Tuhan tersebut.
Tuhan dalam ajaran yoga dipandang sebagai jiwa Yang Maha Agung yang mengatasi jiwa perorangan dan bebas dari semua penderitaan. Dia adalah maha sempurna, kekal abadi, maha kuasa, dan maha mengetahui. Sedangkan jiwa perorangan diliputi oleh klesa-klesa. Manusia dalam hidupnya melakukan berbagai pekerjaan yang baik, buruk dan campuran keduanya, yang semua ini merupakan karma dan karma wasana dapat mempengaruhi kehidupan di dunia. Buah perbuatan akan selalu dinikmati baik dalam kehidupan ini maupun sesudahnya, yang semuanya ini merupakan kesengsaraan. Manusia dapat membebaskan diri dari pengaruh ini bila ia telah mencapai kelepasan yaitu mengetahui realitas diri sejati.
Keberadaan Tuhan dalam ajaran yoga dikemukakan dengan beberapa alasan sebagai berikut:
a. Pernyataan kitab suci Veda, upanisad dan kitab suci lainnya dalam agama Hindu yang menyertakan bahwa Tuhan
sebagai jiwa Yang Maha Agung, Realitas Utama serta merupakan tujuan yang terakhir dari segala yang ada di dunia
ini.
b. Pada manusia terdapat perbedaan dalam tingkatan pengetahuan, kekuasaan dan lain sebagainya. Keadaan yang
demikian mengharuskan adanya sesuatu yang memiliki segala kecakapan dalam bentuknya yang tertinggi. Sesuatu itu
adalah yang disebut Tuhan.
c. Keberadaan alam semesta beserta isinya berasal dari penyatuan purusa dan prakrti.

Purusa dan prakrti adalah dua pokok asas yang berbeda, penyatuan kedua asas ini tidaklah mungkin tanpa adanya sesuatu yang menuntunnya. Tuhan yang menyatukan purusa dan prakrtri tersebut.
Tuhan adalah Roh yang abadi yang tidak tersentuh oleh duka cita, dan maha tahu. Ia adalah penguasa tertinggi di dunia ini dan memiliki pengetahuan yang tak terbatas yang membedakan ia dari pribadi-pribadi yang lain. Bhakti kepada Tuhan tidak hanya merupakan praktek yoga, tetapi juga merupakan sarana pemusatan pikiran dan samadhi. Tuhan akan memberikan karunia kepada seseorang yang bhakti kepada-Nya berupa kesucian dan penerangan bathin. Tuhan melenyapkan semua rintangan jalan orang-orang yang berbhakti kepada-Nya, seperti duka cita, dan kita harus siap menerima rahmat Tuhan tersebut.

6.4 Epistemologi Yoga

Ajaran yoga mengenal tiga pengamatan yang benar yaitu: pratyaksa, anumana, dan sabda pramana. Ketiga pengamatan ini sama juga dengan pengamatan yang terdapat dalam ajaran Samkhya. Baik dalam ajaran Samkhya maupun dalam ajaran Yoga dinyatakan bahwa Roh dipandang sebagai kekuatan hidup yang bebas dan bersatu dengan badan. Sifat roh adalah kesadaran murni, bebas dari batas-batas jasmani dan kegoncangan dalam pikiran, tetapi karena kebodohan, roh menyamakan dirinya dengan alam pikiran, dan di dalam ajaran yoga alam pikiran disebut citta.
Citta merupakan hasil pertama dari prakrti, yang pada dirinya sattvamlah yang lebih berkuasa daripada rajas dan tamas. Bila citta berhubungan dengan suatu objek dunia melalui manah ia memiliki kesadaran dan kecakapan. Roh mengenal objek melalui perubahan-perubahan citta yang bersesuaian dengan bentuk objek tersebut. Perubahan-perubahan citta banyak jumlahnya dan bermacam-macam pula jenisnya, dan dapat diklasifikasikan menjadi lima macam, yaitu:
a. Pramana yaitu pengamatan yang benar.
b. Wiparyaya yaitu pengamatan yang salah.
c. Wikalpa yaitu pengamatan hanya dalam kata-kata.
d. Nidra yaitu tidur.
e. Smrti yaitu ingatan.

Bila citta diubah ke dalam suatu jenis Vrtti atau keadaan mental yang mengamati, maka roh dipantulkan dalam keadaan itu atau dan mungkin menyatakan keadaannya sendiri. Ia memandang dirinya mengalami kelahiran, kematian, tidur, jaga, berbuat salah, dan benar. Sesungguhnya roh itu mengatasi segala hal ini. Ia nampak menjadi pelaku lima klesa, yaitu:
1) avidya (ketidaktahuan atau pengetahuan yang salah), 2) asmita (pandangan yang salah yang memandang roh sama dengan budhi, ahamkara dan manas), 3) raga (nafsu keinginan dan alat-alat pemuasnya), dvesa (kebencian), dan abhinevesa (keinginan hidup yang panjang, dan rasa takut pada kematian).
Selama roh menyamakan dirinya dengan tubuh ini maka selama itu pula roh mengalami susah dan senang sesuai dengan citta. Bila seseorang ingin melepaskan diri dari ikatan itu maka ia harus dapat menguasai aktivitas indriyanya dan pikirannya, dengan demikian perubahan dan kegoncangan pada citta akan berhenti, selanjutnya roh akan menyadari dirinya sebagai diri yang sejati, berbeda dengan pikiran, ahamkara, manas dan indriya.
Seperti Samkhya, yoga juga mengakui adanya dua pengamatan, yaitu nirvikalpa dan savikalpa. Nirvikalpa adalah pengamatan yang tidak ditentukan, sedangkan savikalpa adalah pengamatan yang ditentukan. Keterangan atau penjelasan yang diberikan oleh kedua pengamatan itu berbeda.

Dalam ajaran yoga terjadinya proses pengamatan ialah sebagai berikut: pertama indriya-indriya menerima objek-objek di luar tanpa menentukan wujudnya, dan menyampaikan pengamatan-pengamatan kepada manas. Selanjutnya manaslah yang menyusun pengamatan-pengamatan itu hingga menjadi suatu sintesis dan kemudian menentukan sifat-sifat pengamatan itu. Demikianlah proses terjadinya pengamatan dalam yoga.

6.5 Etika Yoga

Ada lima tingkatan mental atau keadaan pikiran yang ditentukan oleh itensitas sattvam, rajas dan tamas, yaitu:
a) Ksipa, pada tingkatan ini pikiran mengembara di antara berbagai objek duniawi dan pikiran dipenuhi dengan sifat
rajas (aktif-kreatif)
b) Mudha, pada tingkatan ini pikiran berada dalam keadaan tertidur dan tak berdaya disebabkan sifat tamas
c) Viksipa, keadaan pada level ini adalah pada saat sifat sattva (terkendali), keadaan ini dapat melampaui pikiran
yang goyang akibat pertentangan antara meditasi dan objektivitas. Selanjutnya sinar pikiran secara perlahan
berkumpul dan bergabung
d) Ekarga, pada saat pikiran terpusatkan dan terjadi meditasi yang mendalam. Pada level ini sifat sattva terbebas
dari sifat rajas dan tamas
e) Nirudha, pada level ini pikiran di bawah pengendalian yang sempurna dan semua vrtti atau gejolak pikiran
dilenyapkan.
Bila semua vrtti dihentikan, maka pikiran berada dalam keadaan seimbang (samapatti). Ekagra dan Nirudha merupakan persiapan dan bantuan untuk mencapai tujuan akhir yaitu kelepasan. Ekagra bila dapat brlangsung terus-menerus disebut samprajnata yoga atau meditasi yang dalam, adanya perenungan kesadaran akan suatu objek yang terang. Tingkatan Nirudha juga disebut asamprajnata yoga, karena semua perubahan dan goncangan pikiran berhenti, tiada satupun diketahui lagi oleh pikiran.

Ajaran Samkhya dan Yoga mengatakan bahwa kelepasan dapat dicapai melalui pandangan spiritual pada kebenaran roh sebagai suatu daya hidup yang kekal yang berbeda dengan badan dan pikiran. Pandangan spiritual tersebut hanya dapat dimiliki bila pikiran bersih, tenang tidak tergoyahkan oleh suatu apapun. Untuk meningkatkan kebersihan pikiran Yoga mengajarkan adanya delapan tahap jalan yang disebut astanggayoga, yaitu:
a. Yama, yaitu pengendalian diri:

1. Ahimsa artinya tidak membunuh, tidak menyakiti mahluk hidup, tidak melakukan kekerasan, tidak melukai mahluk
lain melalui pikiran, perkataan dan perbuatan.
2. satya, kebenaran dalam berkata-kata, peerbuatan maupun pikiran.
3. asteya, pantang menginginkan milik orang lain.
4. brahmacarya, pantang menikmati seksual atau pengendalian nafsu asmara.
5. Aparigraha, pantang kemewahan yang melebihi apa yang diperlukan.

Kelima pantangan ini merupakan mahāvrata atau sumpah luar biasa yang harus dipatuhi, tanpa alasan pengelakan berdasarkan Jati (kedudukan pribadi), desa (tempat kediaman), kāla (waktu dan usia), dan samāyā(keadaan). Patanjali mengatakan bahwa ketaatan kepada yama itu diwajibkan serta dipertahankan dalam tiap keadaan dan merupakan kode etik universal (sarvabhauma mahavrata) yang tak dapat diselewengkan dengan bermacam-macam dalih.
b. Niyama, pengendalian diri lebih lanjut:

1. Sauca, suci lahir bathin dan menganjurkan kebajikan seperti Sattva Suddhi (pembersihan kecerdasan untuk
membedakan), Saumanasya (hati riang), Ekagraha (pemusatan buddhi), Indriyajaya (pengendalian nafsu) dan
Atmadarsana (realisasi diri).
2. Santosa, kepuasan untuk memantapkan mental, puas dengan apa yang datang dengan wajar.
3. Tapa, tahan uji terhadap gangguan-gangguan.
4. Svadhyaya, mempelajari nashak-naskah suci.
5. Isvarapranidhana, penyerahan diri kepada Tuhan.

c. Asana merupakan sikap badan yang mantap dan nyaman, yang merupakan bantuan secara fisik dalam berkonsentrasi, dan ada 18 sikap asana, yaitu: 1) sarwangan asana (sikap beerdiri di atas bahu), 2) hala (sikap bajak), 3) bujangga (sikap ular kobra), 4) danuh (sikap busur), 5) salabha (sikap belalang), 6) pascimottana (sikap melurus kemuka), 7) padahasta (berdiri membungkuk ke muka), 8) ardha-matyendra (sikap berputar), 9) wajra (sikap tabah), 10) supta wajra asana (sikap panggul), 11) dhanuh wajra asana (sikap busur tabah), 12) Mayura (sikap merak), 13) padma (sikap teratai),14) matsya (sikap ikan), 15) badha padma asana (sikap teratai guru), 16) kukkuta (sikap ayam), 17) uttana kurmaka (sikap penyu), 18) sirsa (sikap badan terbalik).

d. Pranayama artinya pengaturan nafas, akan memberikan ketenangan, kemantapan pikiran dan kesehatan yang
baik. Pranayama ini terdiri dari puraka (penarikan nafas), kumbhaka (menahan nafas), dan recaka (mengeluarkan
nafas).

e. Pratyahara, pemusatan pikiran dengan cara penarikan indra-indra dari segala objek luar.
Indra-indra yang ditarik dan penempatannya di bawah pengawasan pikiran. Alat-alat indriya cenderung untuk
mengejar nafsunya (wisaya); mata mengejar keindahan warna dan bentuk, telinga mengejar bunyi dan nada, lidah
ingin menikmati rasa lezat, hidung mencari bau yang harum semerbak, dan peraba ingin memegang yang halus. Tiap
alat indriya memiliki tugasnya masing-masing, tetapi semua merindukan kenikmatannya yang khas. Patanjali
mengatakan sebagai berikut ”swa wiyasa-asamprayoga-cittayasa swarupa anukara, iwa indrayanam pratyaharah tatah
parana wasyata indriyanam” artinya ”pratyahara (alat penyaluran) terdiri dari pelepasan alat-alat indriya dan
nafsunya masing-masing, dan dari penyesuaian alat-alat indriya dalam bentuk citta atau buddhi yang murni.
f. Dharana merupakan pemusatan pikiran secara mantap pada suatu objek tertentu.

g. Dhyana merupakan pemusatan terus-menerus tanpa henti dari pikiran terhadap objek atau sering disebut meditasi,
yang menyebabkan orang memiliki gambaran yang jelas tentang bagian-bagian objek renungannya. Patanjali
dalam Yogasutra III.2 mengartikan dhyana sebagai berikut: ”tatra pradyana ekatanata dhyanam”, artinya arus
budhi yang tak putus-putusnya menuju prtaya atau tujuan, itulah renungan atau dhyana. Seperti sungai mengalir
terus ke laut, maka segenap kesadaran diri mulai mengalir terus-menerus ke arah Tuhan. Dalam hubungannya dengan
dhyana dikemukakan oleh Sankara garis-garis yang sangat indah, yang dikatakan berasal dari Yajnawalkya
sebagai berikut:”pranayamir dahed dosan dharanbhisca kilbisan, prataharasca sansargan dhyananena amswaan
gunan”, artinya ”dengan pranayama terbuanglah kotoran badan, kekotoran budhi, dengan pratyahara
terbuanglah kekotoran ikatan, dengan dhyana dihilangkan segala apa yang berada di antara manusia dan Tuhan”.

h. Samādhi adalah pemusatan pikiran terhadap objek dengan intensitas konsentrasi sedemikian rupa sehingga menjadi
objek itu sendiri, di mana pikiran sepenuhnya bergabung dalam penyatuan dengan objek yang dimeditasikan. Samadhi
juga disebut keadaan supra sadar transenden. Samyama atau konsentrasi , meditasi dan samadhi merupakan hal yang
sama dan satu, yang memberikan pengetahuan dari objek supra alami, sedangkan siddhi merupakan hasil sampingan
dari konsentrasi, yang sesungguhnya merupakan halangan terhadap pelaksanaan Samadhi atau kebebasan, yang
merupakan tujuan dari disiplin Yoga. Dalam samadhi pikiran telah lebur menyatu pada objek renungan dan tidak ada
kesadaran akan dirinya sendiri. Dalam dhyana antara gerak pikiran dengan objek renungan masih terpisah, namun
dalam samadhi hal itu sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah objek renungan yang bercahaya dalam pemikiran dan
seseorang sudah tidak menyadari lagi adanya proses pikiran.
Dalam samadhi seorang Yogi memasuki ketenangan tertinggi yang tak tersentuh oleh suara-suara yang tak henti-
hentinya, yang berasal dari luar, dan pikiran kehilangan fungsinya, dimana indra-indra terserap ke dalam
pihttp://www.sudianieducation.com/wp-admin/edit.php?post_type=pagekiran. Apabila semua perubahan pikiran
terkendalikan, sipengamat atau Purusa, terhenti dalam dirinya sendiri yang di dalam Yoga Sutranya
patanjali disebut sebagai Svarupa Avasthanam (kedudukan dalam diri seseorang yang sesungguhnya).

Ada 2 jenis tingkatan konsentrasi atau Samadhi, yaitu: a) Samprajñata Samadhi atau konsentrasi sadar, pada tingkatan ini ada objek konsentrasi yang pasti, dan pikiran tetap sadar terhadap objek tersebut. Ada kesadaran yang jernih tentang objek yang dimeditasikan, yang berada dalam subjek. Ada beberapa bentuk-bentuk Samprajñata yaitu: 1) Savitarka (dengan pertimbangan), 2) Nirvitarka (tanpa pertimbangan), 3) Savicara (dengan renungan), 4) Nirvicara (tanpa renungan), 5) Sananda (dengan kegembiraan), dan 6) sasmita (dengan arti kepribadian); b) Asamprajñata Samadhi (supra sadar), pada tingkatan ini semua bentuk Samprajñata Samadhi lenyap dan menjadi transenden (terlampaui). Atau dapat dikatakan di mana perbedaan antara objek yang dimeditasikan dan subjek menjadi lenyap dan terlampaui atau transenden.
Yoga sesungguhnya menghantarkan manusia untuk mencapai damai yang sejati. Keberhasilan dalam mencapai kedamaian terletak pada pengendalian pikiran. Pikiran yang tidak damai akan menyebarkan kegelisahan, bahkan perangpun dilahirkan dari pikiran manusia. Kedamaian dan sebaliknya tergantung pada pikiran, oleh sebab itu yoga memiliki objek studi pada masalah pikiran. Kata orang bijak ”apa yang dipikirkan maka itulah jadinya”.
Tujuan kehidupan adalah keterpisahan mutlak dari Purusa dengan Prakerti. Kebebasan dalam Yoga merupakan Kaivalya atau kebebasan mutlak tersebut, di mana roh terbebas dari belenggu Prakrti dan Purusa berada dalam wujud yang sebenarnya atau Svarupa. Sang roh telah melepaskan Avidya melalui pengetahuan pembedaan (vivekakhyati) dan 5 klesa terbakar oleh apinya ilmu pengetahuan. Sang Diri tak terjamah oleh kondisi Citta, di mana Guna seluruhnya terhenti dan sang diri berdiam pada intisari Ilahinya sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Donder, I. K. 2005. Brahmavidya. Paramita: Surabaya.
Donder, I.K. 2009. Teologi Memasuki Gerbang Ilmu Pengetahuan Ilmiah tentang Tuhan Paradigma Sanatana Dharma. Paramita: Surabaya.
Maswinara, I Wayan. 1999. Sistem Filsafat Hindu (Sarva DarsanaSamgraha). Paramita: Surabaya.
Rama, Svami.2009. Hidup dengan para Rsi, Yogi Himalaya. Paramita: Surabaya. Sivananda, Svami, 2003. Intisari Ajaran Hindu. Paramita: Surabaya.
Suamba, I.B Putu. 2003. Dasar-Dasar Filsafat India. PT Mabhakti: Denpasar
Suwira, Wayan. 2008. Buku Ajar Sejarah Filsafat India. Departemen Filsafat Universitas Indonesia.
Tim penyususn. 2009. Modul Materi Pokok Darsana. Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu: Departemen Agama RI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *