Modul Dvaita Vedanta

DVAITA VEDANTA

4.1 Riwayat Maha Rsi Madhva

Tokoh pendiri sistem Dvaita Vedanta ialah Maha Rsi Madhva yang diperkirakan lahir pada akhir abad ke dua belas antara tahun 119-1278 Masehi. Beliau lahir di desa Udipi distrik Kanara Selatan. Sistem Dvaita menganggap dirinya sama tuanya dengan kitab-kitab Upanisad. Mula-mula sistem ini hanya berpengaruh di Bagian Barat India, akan tetapi pengaruhnya menjalar ke bagian yang lebih luas di wilayah India dan lainnya. Madhva 0leh orang tuanya diberi nama Vasudeva, tetapi ia meninggalkan ikatan keduniawian dan menjadi Sanyasin kemudian ia dikenal dengan sebutan Purna Prajña, artinya orang yang telah mendapatkan pencerahan yang sempurna. Madhva juga disebut dengan nama Ananda Trirtha dalam semua buku karangannya. Buah tulisan Beliau ialah buku-buku komentar dari kitab-kita Upanisad. Bhagavadgita dan Vedanta Sutra, serta banyak lagi hasil karya tulisannya. Sebagai seorang Sanyasin, Madhva memiliki siswa yang bernama Jaya Tirtha dan Wyasa Tirtha.  Kedua orang ini menulis kitab-kitab komentar atas ajaran Dvaita (Penyusun, 2009).

Sistem filsafat Vedanta yang dianjurkan oleh Madhva disebut Dvaita atau dualisme sebab pokok ajaran filsafatnya adalah perbedaan (Bheda). Sistem ini juga disebut realistis karena mengakui bahwa alam semesta ini adalah nyata.  Sistem ini bersifat theistis, karena menerima adanya Tuhan yang berpribadi sebagai suatu kenyataan tertinggi. Segala sesuatu yang ada dianggap sebagai bergantung seluruh kepada Tuhan, yang dalam ajaran Dvaita dinamakan Visnu (Penyusun, 2009).

Śri Madhvācārya mengembangkan sistem filsafat yang bersumber dari Prasthana Traya, yaitu Upanisad, Bhagavad Gita dan Brahma Sūtra, yang merupakan sistem filsafat Dvaita atau dualis tak terbatas. Madhva membuat perbedaan mutlak antara Tuhan, obyek- obyek yang bergerak maupun yang tidak bergerak, dan hanya Tuhan saja yang merupakan Realitas yang merdeka (Maswinara, 1999).

Doktrin  utama  Dvaita  Vedanta  dapat  disimpulkan  dalam  9  butir  seperti  yang ditulis oleh Vyasatirtha, antara lain:

1)  Harih paratarah: Dari semua pemujaan-pemujaan Visnu adalah yang tertinggi.

2)  Satyam jagat: Seluruh alam semesta benar dan riil.

3)  …vato-bhedah: Lima perbedaan yang fundamental.

4)  Jiva-ganah harer: Roh-roh berbadan tergantung dari Visnu.

5)  Jiva…ucca-bhavam gatah: Roh-roh berbadan secara inheren dirangking lebih

     tinggi lebih rendah.

6)  Muktir naija-sakhanubhutih: Kebebasan sedang dinikmati bentuk asli dari

     seseorang.

7)  Amala bhakthis ca tat sadhanam: Tujuan pembebasan murni adalah bhakti yang

     murni pada Visnu.

8)  Aksadi tritayam pramanam: Pengetahuan yang valid adalah 3 yaitu; pencipta, penyimpulan, dan

     kesaksian verbal.

9)  Akhilam nayaika vedho harih: Visnu sendiri diketahui pada keseluruhan kitab-kitab suci.

Ontologi Madhva dicirikan oleh dua ide yaitu Realitas dan Kebebasan. Realitas dikaitkan dengan dunia materiil dan roh, sementara kebebasan merupakan ciri dari Tuhan itu sendiri. Eksistensi adalah sebuah test tentang realitas. Menurut Madhva satyam adalah suatu eksistensi pada tempat waktu tertentu dan tidak setiap waktu dan tempat. Eksistensi yang aktual untuk waktu dan tempat tertentu mencukupi untuk membedakan mana yang riil dan tidak riil. Dualisme Madhva disamping setuju dengan dua realitas yang mutually irreducible sebagai keseluruhan realitas hanya Tuhan sebagai satu-satunya realitas yang bebas (svatantra) dan yang lain adalah realitas yang terbatas seperti prakerti, purusa, waktu (kala), karma, svabhava sebagai yang tidak bebas (paratantra) (Suwira, 2008).

Mahluk-mahluk yang bergantung ada dua varietas, yaitu yang positif dan yang negatif. Roh-roh sadar (cetana) dan kesatuan-kesatuan yang tidak sadar seperti materi dan waktu (acetana), merupakan dua variasi yang positif. Kesatuan-kesatuan yang tidak sadar, baik yang abadi seperti Veda atau pun yang abadi dan tidak abadi seperti Prakerti, waktu dan ruang atau pun yang tidak abadi seperti hasil-hasil dari prakerti merupakan variasi yang negatif (Maswinara, 1999).

4.2 Metafisika Dvaita Vedanta

Dalam pandangan metafisika Dvaita Vedanta ini akan ditampilkan dua pokok bahasan yaitu tentang pandangan Dvaita terhadap Tuhan dan benda.

4.2.1 Pandangan Dvaita Vedanta Mengenai Tuhan

Pokok ajaran dari sistem Dvaita Vedanta adalah perbedaan (Bheda) yang bersifat theistis, karena menerima adanya Tuhan yang berpribadi sebagai satu-satunya realitas tertinggi.  Dalam  ajaran  Dvaita  dikemukakan  adanya  kenyataan  yang  jamak.  Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini beraneka ragam adanya dan memiliki sifat yang bervariasi. Perbedaan dalam sistem Dvaita adalah merupakan hakekat dari segala sesuatu. Tiada hal yang ada berada secara khas dan ciri kekhasan inilah yang mewujudkan perbedaan antara hal yang satu dengan semua hal yang lainnya. Umpanya Si A berbeda dengan Si B, menyebut Si A dengan sendirinya menunjuk perbedaannya dengan Si B, demikian sebaliknya. Oleh karena itu orang tidak perlu mengetahui dua hal sekaligus untuk mengetahui perbedaan keduanya itu. Orang yang menyebut A sudah tahu mengenai perbedaan Si A dengan Si B. Jika seseorang menyebut perbedaan antara dua hal atau lebih, semua itu bermaksud untuk menyatakan bahwa masing-masing dari dua atau tiga hal itu berdiri sendiri-sendiri (Penyusun, 2009). Madhva membuat perbedaan yang mutlak antara Tuhan, obyek-obyek yang bergerak maupun yang tidak bergerak, dan hanya Tuhan saja yang merupakan Realitas yang merdeka. Obyek-obyek yang bergerak dan  yang  tidak  bergerak  merupakan  realitas  yang  tidak  bebas.  Vedanta-nya  Madhva merupakan   ajaran   perbedaan   mutlak,   yaitu   suatu   Atyanta-bheda-darsana   yang menegaskan lima perbedaan besar (Maswinara, 1999).

Dalam sistem Dvaita dikemukakan ada lima perbedaan yaitu:

1)  Perbedaan antara Tuhan dengan jiwa

2)  Perbedaan antara jiwa dengan jiwa

3)  Perbedaan Tuhan dengan benda

4)  Perbedaan jiwa dengan benda

5)  Perbedaan benda yang satu dengan benda yang lainnya.

Setiap pengikut aliran filsafat Madhva harus memiliki keyakinan yang mantap pada  kelima  perbedaan  yang  dikenal  sebagai  Pañca-Bheda (Maswinara, 1999). Semua itu berbeda mutlak, walaupun perbedaan itu tidak berarti bahwa dari semua itu tidak saling bergantungan. Misalnya tubuh bergantung kepada jiwa, walupun keduanya berbeda sekali. Hanya satu hal yang tidak bergantung kepada yang lain yaitu Tuhan.

Tuhan, jiwa dan benda ketiganya sama-sama kekal adanya, walaupun demikian Tuhan tidak bergantung kepada jiwa dan benda. Tuhan dalam ajaran Dvaita dipandang sebagai   suatu realitas tertinggi dan memiliki sifat-sifat yang banyak sekali. Walupun Tuhan dapat dipahami akan tetapi Beliau tidak dapat dikenal secara menyeluruh dan sempurna. Tuhan berhakikatkan pengetahuan dan kebahagiaan itu memiliki kepribadian yang mutlak, kekuasaan, cinta kasih yang tiada terbatas dan banyak lagi sifat-sifat luhur lainnya. Tuhanlah yang menjadi sebab adanya alam semesta. Ia sebagai pencipta, pemelihara dan pengembali. Segala sesuatu berada karena karunia-Nya, tanpa berkenan Beliau semua ini akan lenyap. Tuhan memanifestasikan diri-Nya dalam berbagai wujud, bahkan Beliau menjelma sebagai Awatara untuk menegakkan dharma di dunia ini. Tuhan dalam ajaran Dvaita dinyatakan ada pada patung-patung yang telah disucikan dan dipergunakan sebagai sarana pemujaan umat manusia. Tuhan dalam sistem Dvaita disebut dengan nama Hari, Narayana dan Visnu (Penyusun, 2009). Pemujaan Visnu terdiri atas 1) Ańkana, yaitu menandai badan dengan simbol-simbol-Nya, 2) Namakarana, pemberian nama Tuhan pada anak-anak, 3) Bhajana, yaitu menyanyikan kemuliaan-Nya, dan 4) Smarana, yaitu melakukan pengingatan nama-nama Tuhan secara terus-menerus (Maswinara, 1999).

Visesa   diperkenalkan   oleh   Madhva   untuk   menjelaskan   penampakan   dari perbedaan, di mana pada dasarnya tidaklah demikian. Katagori ini membedakan antara substansi dan kualitas yang merupakan bagian dari keseluruhan. Antara substansi dan kualitas atau antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya tidak ada bedanya. Kita tidak melihat perbedaan antara baju dan putihnya, kita merasakan kekhususan dari baju itu. Dalam kasus Tuhan, prinsip-prinsip kekhususan ini dipergunakan untuk mendamaikan kesatuan dengan pluralitas dari kualitas-kualitas, dan tenaga-Nya, badan ronani-Nya, baju rohaniNya, dan dunia rohaniNya. Konsep visesa dipergunakan untuk mengakomodir dua teks  yang  saling  bertentangan  satu  sama  lainnya  dalam  upanisad-upanisad  di  mana Madhva ingin mendamaikan konsep monisme dengan pluralitas. Konsep visesa mirip dengan konsep acintya bedha-bedha yang mendamaikan monisme dengan pluralisme dan identik dengan konsep acinya tapi dalam pengertian yang berbeda. Acintya Madhva tidak begitu acintya sebab ia menghubungkannya dengan visesa untuk mendamaikan penampakan yang berbeda dan kesamaan, sementara acintya dari Sri Chaitanya mendamaikan perbedaan yang riil dengan identitas yang riil (Suwira, 2008).

4.2.2 Pandangan Dvaita Vedanta Mengenai Jiwa

Dalam sistem Dvaita Vedanta dikemukakan bahwa jiwa jumlahnya tidak terhitung. Tiap jiwa berbeda dengan jiwa yang lainnya. Maka itu setiap jiwa memiliki pengalamannya,  cacadnya,  sengsaranya  sendiri-sendiri.  Jiwa-jiwa  itu  berbentuk  atom, akan tetapi karena bersifat intelegensi, maka ia dapat meliputi tubuh yang ditempatinya. Jiwa-jiwa itu  adalah kekal  dan  penuh  kebahagiaan,  karena adanya  hubungan  dengan benda maka jiwa itu mengalami penderitaan dan kelahiran yang berulang-ulang ke dunia (Penyusun, 2009).

Roh-roh yang berdiam dalam sebuah atom dari ruang adalah tak terbatas. Jiwa berbeda dengan Tuhan dan materi, dan Madhva menganggap perbedaan antara Brahman dan Jiwa adalah nyata. Walaupun ukuran jiwa terbatas, ia meresapi badan, di karenakan sifat dan kecerdasannya. Jiwa merupakan perwakilan yang aktif, tetapi tergantung kepada Tuhan dan Tuhan memaksa jiwa untuk berbuat sesuai dengan prilaku masa lalunya, sehingga akibat hubungannya dengan badan material, membuatnya menderita kesakitan dan perpindahan roh. Selama mereka tidak bebas dari ketidak murnian, mereka tersesat dalam Samsara, mengembara dari satu kelairan ke kelahiran  yang lainnya.  Bila ketidak murniannya lepas mereka mencapai moksa atau pembebasan, tetapi roh tidak mencapai kesamaan  dengan  Tuhan, namun hanya berhak melayaniNya (Maswinara, 1999).

Madhva menerima klasifikasi Ramanuja tentang roh menjadi  nitya atau abadi seperti Laksmi, mukta atau terbebas (para deva, manusia, para rsi, orang-orang bijak), dan baddha atau roh terikat. Kelompok roh baddha ada dua golongan, yaitu (1) mereka yang layak dipilih untuk moksa (mukti-yogya), dan (2) mereka yang tidak layak untuk dipilih, dibedakan menjadi; (a) mereka yang selamanya terikat pada siklus Samsara (nitya- samsarin), dan (b) mereka yang nasibnya ada di neraka, atau wilayah kegelapan yang membutakan (tamo-yogya) (Maswinara, 1999).

Pemikiran Madhva tentang jiwa-jiwa bukan hanya perbedaan antara yang satu dengan yang lain tapi juga berdasarkan gradasi intrinsik diantara mereka berdasarkan atas pengetahuan dan kebahagiaan. Hal ini jelas sekali pada saat jiwa mencapai statusnya yang asli. Ada tiga kelompok jiwa yaitu dewa-dewa, manusia dan raksasa. Dewa-dewa dan manusia adalah superior dapat mencapai moksa atau pembebasan. Manusia yang dalam kualitas yang sedang-sedang saja akan lahir kembali ke dunia ini, manusia terjelek pergi ke neraka, raksasa akan pergi ke wilayah yang gelap. Ada dua wilayah di mana mahluk hidup tidak dapat kembali lagi yaitu wilayah yang gelap dan atau wilayah kebebasan. Dua wilayah ini bersifat permanen. Manusia dapat digolongkan menjadi superior atau inferior tergantung dari hari-bhakti dan hari-dvesa. Hari-dvesa adalah roh akan mencapai wilayah gelap dan hari-bhakti adalah roh-roh yang mencapai moksa. Roh yang berada antara kualitas hari-bhakti dan hari-dvesa, atau sedang-sedang saja tetap berada di dunia materiil, tidak naik dan tidak turun (Penyusun, 2009).

Jiwa dapat dipengaruhi oleh Tri Guna, maka itu ada jiwa yang Sattvika, jiwa yang Rajasika, dan jiwa yang tamasika. Pengaruh Tiga Guna inilah yang menentukan jiwa-jiwa untuk mencapai sorga, kelahiran kembali ke dunia, dan masuk ke dalam neraka yang menyebabkan seseorang mengalami kebahagiaan dan penderitaan. Menurut Dvaita Tiga Guna itu merupakan produk pertama dari Prakerti yang menjadi asas kebendaan, maka pengaruhnya sangat kuat terhadap jiwa (Penyusun, 2009).

4.2.3 Pandangan Dvaita Mengenai Benda

Dalam  sistem  Dvaita benda disamakan  dengan  Prakerti  yang merupakan  asas kebendaan  yang tidak  memiliki  kesadaran.  Prakerti  dalam  Dvaita bergantung kepada Tuhan (Penyusun, 2009). Tuhan merupakan penyebab efisien dan bukan penyebab material dari alam semesta, karena prakerti yang merupakan substansi berbeda dengan-Nya dan merupakan penyebab material dari alam semesta ataupun semua obyek, badan dan organ-organ roh dan diberi tenaga melalui Lakşmī, demikianlah terjadinya penciptaan (Maswinara, 1999). Dengan perantara Lakşmī atau Sakti, Tuhan bertindak di dalam prakerti kemudian dari prakerti itu keluarlah alam semesta beserta isinya. Terciptanya alam semesta menurut Dvaita pada prinsipnya tidak jauh berbeda dari ajaran Samkhya (Penyusun, 2009).

Yang pertama dilahirkan dari prakerti adalah ketiga Guna, yaitu Sattvam, Rajas, dan Tamas. Dari ketiga Guna itu lahirlah Mahat, Ahamkara, Tamas, sepuluh indriya, Panca  Tan  Matra,  Panca  Maha  Bhuta,  dan  gabungan  dari  Panca  Maha  Bhuta  itu muncullah alam semesta beserta isinya (Penyusun, 2009).

Tri Guna atau Tiga Guna itu tidak dapat diamati oleh indriya. Adanya disimpulkan atas obyek dunia ini yang merupakan akibat dari padanya. Karena adanya kesamaan asas, antara akibat dan sebab, maka dapat diketahui sifat-sifat Guna itu dari alam semesta yang merupakan wujudnya. Semua obyek dunia ini mempunyai tiga sifat, yaitu sifat-sifat yang menimbulkan rasa senang, susah dan netral. Sattvam adalah unsur dari prakerti yang alamnya  bersifat  senang,  riang,  terang  bercahaya.  Wujudnya  berupa  kesadaran,  sifat ringan yang menimbulkan gerak ke atas, seperti adanya angin dan air di udara dan semua bentuk kesenangan, kepuasan, kebahagiaan dan sejenisnya (Penyusun, 2009).

Rajas adalah unsur gerak pada benda-benda ini, ia selalu bergerak, yang menyebabkan benda dan mahluk bergerak. Rajas menyebabkan api berkobar, angin berhembus, pikiran berkeliaran ke sana-ke mari. Tamas menyebabkan sesuatu menjadi pasif dan bersifat negaif. Ia bersikeras menentang aktifitas, menahan gerak pikiran, sehingga menimbulkan kegelapan, kebodohan, mengantarkan seseorang pada kebingungan. Karena menentang, aktifitas, menyebabkan seseorang menjadi malas, acuh, dan suka tidur. Demikian sifat-sifat Triguna itu, karena dunia terbentuk dari Tiga Guna, maka dalam dunia inipun dapat kita saksikan selalu ada pertentangan dan kerjasama dalam kesatuan. Ketiga Guna ini selalu bersama-sama dan tidak pernah terpisah satu dengan yang lainnya. Tidak hanya salah satu dari padanya membangun benda-benda atau mahluk-mahluk di dunia ini. Kerja sama ke tiga Guna itu laksana minyak, sumbu dan api yang bersama-sama menyebabkan adanya nyala lampu, walaupun masing-masing elemen berbeda-beda sifatnya bertentangan. Ketiga Guna berubah terus-menerus. Ada perubahan bentuk dari Tiga Guna itu, yaitu: Swarupaparinama dan Wirupaparinama. Pada waktu pralaya masing-masing Guna berubah pada dirinya sendiri tanpa mengganggu yang lain. Perubahan seperti disebut Swarupaparinama. Pada waktu demikian tidak mungkin ada ciptaan karena tidak ada kerja sama antara ketiga Guna itu. Namun bila Guna yang satu menguasai  Guna  yang  lain,  maka  terjadilah  suatu  penciptaan,  perubahan  ini  disebut Wirupaparinama (Penyusun, 2009).

Pertama-tama yang timbul dari Tri Guna adalah mahat. Mahat adalah benih dunia ini. Segi kejiwaan atau psikologisnya disebut Buddhi yang memiliki sifat-sifat kebijakan, pengetahuan, tidak bernafsu dan Ketuhanan atau dharma, jana, wairagya, dan aiswarya.

Perbedaan antara Mahat dan Buddhi adalah, bahwa mahat adalah asas kosmis dan Buddhi adalah asas kejiwaan. Tetapi Buddhi bukanlah jiwa yang tidak bersifat kebendaan itu. Buddhi adalah zat halus dari segala proses mental, kecakapan untuk membedakan segala hal, dan menerima sesuatu seperti apa adanya. Fungsinya adalah untuk mempertimbangkan serta memutuskan segala hal yang dianjurkan oleh alat-alat  yang lebih rendah dari padanya.  Buddhi  adalah unsur kejiwaan  yang tertinggi dan  tempat terakhir bagi semua jenis perbuatan moral dan intelektual (Penyusun, 2009).

Dari Buddhi timbullah ahamkara, yaitu asas individualisasi, asas yang menimbulkan individu-individu. Karena ahamkara juga memiliki segi yang kosmis dan bersifat kejiwaan, sehingga dari segi  yang kosmis timbullah subyek dan obyek  yang berdiri sendiri-sendiri dan dari segi kejiwaan timbullah rasa aku manusia (Penyusun, 2009).

Setelah ahamkara perkembangan prakerti menuju kedua jurusan, yaitu jurusan yang bersifat kejiwaan, di mana Guna Sattvam lebih berkuasa dari pada Guna lainnya, dan jurusan yang bersifat fisik, di mana Tamaslah yang merajainya. Di dalam perkembangan ini Guna Rajas semata-mata berfungsi sebagai tenaga yang memberi dinamika dan kekuatan kepada kedua Guna yang lain (Penyusun, 2009).

Perkembangan kejiwaan yang pertama adalah manas, yaitu alat pusat kerjasama dengan indriya-indriya untuk mengamati kenyataan-kenyataan di luar diri manusia. Tugas manas adalah untuk mengkoordinir perangsang-perangsang keindraan, mengaturnya sehingga menjadi petunjuk-petunjuk dan meneruskannya kepada ahamkara dan buddhi. Sebaliknya manas bertugas untuk meneruskan putusan-putusan kehendak buddhi kepada alat-alat yang lebih rendah. Gabungan buddhi, ahamkara dan manas disebut Antahkarana (alat batin) (Penyusun, 2009).

Perkembangan kejiwaan kedua adalah Panca Budhindriya yaitu: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Perkembangan kejiwaan yang ketiga disebut Panca Karmendriya, yaitu indriya untuk berbuat, yang terdiri dari: daya untuk berbicara, daya untuk memegang, daya untuk berjalan, daya untuk membuang kotoran, dan daya untuk mengeluarkan sperma. Kesepuluh indriya ini tidak dapat diamati, tetapi berada di dalam alat-alat yang tampak, dan berbeda dengan alat-alat itu. Hanya dengan perantara alat-alat yang tampak itulah orang dapat mengamati serta mengenal obyek-obyek yang ada di luar diri manusia. Perkembangan  fisik  atau  jasmani  menghasilkan  asas  dunia  yang  ada  di  luar melalui dua tahap. Tahap pertama kelima unsur itu masih halus yang disebut Tan Matra. Ada lima jenis Tan Matra yaitu: sari suara, sari sentuhan, sari warna, sari rasa, dan sari bau (Penyusun, 2009).

Karena adanya kombinasi dari unsur-unsur yang halus inilah timbul unsur yang kasar di dalam perkembangannya yang kedua. Dari unsur suara muncullah akasa, dari kombinasi unsur suara dan sentuhan muncullah Agni (api), dari gabungan unsur suara, sentuhan, warna, rasa timbullah air (apah), dan dari gabungan unsur suara, sentuhan, warna, rasa, dan bau muncullah bumi (pertiwi). Sehubungan dengan itu maka unsur yang kasar  memiliki  sifat  yang  sesuai  dengan  unsur  yang  membentuknya,  yaitu:  ruang memiliki sifat suara, hawa memiliki sifat raba, api memiliki sifat warna, air memiliki sifat rasa, dan bumi memiliki sifat bau (Penyusun, 2009).

Dari gabungan unsur atau Panca Maha Bhuta itu berkembanglah alam semesta beserta   isinya.   Dalam  perkembangan   yang   terakhir   ini   terjadi   bermacam-macam perubahan dan perubahan-perubahan itu senantiasa bergantian di alam batas-batas suatu masa. Umpamanya: sebatang pohon yang tumbuh kemudian mati, diuraikan dan dikembalikan kepada unsur yang menyusunnya, yaitu unsur tanah, air, dan sebagainya. Akan tetapi perkembangan yang pertama yaitu dari mahat sampai dengan unsur kasar tetap ada sepanjang perputaran masa dan hanya akan dipindahkan pada akhir perputaran masa itu.

Segala sesuatu yang dikuasai oleh Tamas dan Sattvam adalah bersifat fisik atau kebendaan, sebab semuanya muncul dari prakerti. Walaupun demikian oleh karena kodratnya yang lebih halus segala sesuatu yang dikuasai oleh Sattvam akan tetap membentuk jiwa untuk menyatakan obyek-obyek yang ada di luar diri manusia. Semua bentuk aktifitas yang dikuasai oleh Sattvam sangat diperlukan bagi kehidupan mental. Seluruh peralatan yang terdiri dari Antah Karana atau alat batin bersifat fisik yang sangat diperlukan   pengalaman.   Semua   itu   akan   menyertai   seseorang   dalam   seluruh kehidupannya di dunia yang disebut tubuh halus. Tubuh halus ini akan terpisah dari seseorang jika ia telah mencapai kelepasan yang sempurna (Penyusun, 2009).

4.3 Epistemologi Dvaita Vedanta

Dalam sistem Dvaita Vedanta untuk memperoleh pengetahuan yang benar, diajarkan dua jenis Pramana, yaitu: alat yang primer yang disebut Kewalapramana dan Anupramana atau alat sekunder. Yang dimaksud dengan Kewalapramana adalah pengetahuan yang benar yang menunjuk langsung kepada suatu peristiwa bukan alat untuk mendapatkan pengetahuan. Sedangkan yang dimaksud alat pengetahuan sekunder atau Anupramana ialah alat-alat guna mendapatkan pengetahuan melalui perantara. Anupramana dalam Dvaita dibagi atas tiga macam yaitu: pengamatan, penyimpulan dan kesaksian.  Dalam  hubungan  dengan  kesaksian  sistem  Dvaita  lebih  dominant  kepada Kitab-kitab Agama dan Purana dari pada kitab Veda.

Pengamatan memberikan pengetahuan kepada kita dari obyek yang kita amati melalui perantara indriya. Hubungan ini merupakan hubungan realitis, karena setiap indriya memiliki sifat-sifat yang khas dari obyek yang diamati. Kaitan indriya dengan Panca Maha Bhuta adalah sangat erat sekali, maka itu kita dapat mengamati sesuatu melalui  indriya.  Dalam  sistem  Dvaita  dinyatakan  bahwa  pengamatan  hanya  terjadi melalui indriya bukan di luar dari pada itu. Menurut Dvaita ada tujuh indriya, yaitu kelima indriya yang biasa ditambah Manas dan Saksin. Yang dimaksud dengan Saksin adalah pribadi manusia, yang pada hakekatnya sama dengan jiwa, yaitu kesadaran yang dipandang sebagai mengetahui segala prilaku manusia. Saksin oleh Dvaita dipandang sebagai salah satu alat pengamatan karena Saksin mengenal segala sesuatu yang dihadapkan indriya yang lain kepadanya. Di samping itu Saksin juga dapat mengetahaui segala   sesuatu   secara   langsung.   Karen   adanya   Saksin   itulah   manusia   mengenal kesenangan, kebahagiaan, kesusahan, waktu dan ruang. Pengenalan pribadi yang bersifat kesadaran itu diperoleh melalui perantara diri sendiri (Penyusun, 2009).

Mengenai proses terjadinya pengetahuan menurut ajaran Dvaita pada umumnya sama dengan ajaran Nyaya-Waisesika. Akan tetapi ajaran tentang pengetahuan itu sendiri ada bedanya, menurut Dvaita pengetahuan adalah suatu perubahan bentuk dari manas, sehingga pengetahuan itu memberikan sifat kepada manas bukan kepada pribadi manusia. Namun di dalam proses pengetahuan itu pribadi manusialah yang menjadi pengelolanya, sebab ia yang memprakarsai proses itu, sehingga ada hubungan yang erat antara pribadi manusia dan pengetahuan yang timbul itu.

Dalam sidtem Dvaita dikemukakan bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuanyang sesuai dengan kenyataan yang ada di luar diri manusia. Pengetahuan yang salah juga memiliki obyek. Adapun obyeknya ialah asat yaitu ada yang tidak ada. Hal ini dijelaskan demikian, orang melihat orang melihat seutas tali sebagai seekor ular. Sistem Nyaya-Waisesika dinyatakan bahwa ular itu memang ada, sekalipun bukan di tempat di mana ia disangkakan, melainkan di tempat yang lain. Terhadap hal ini sistem Dvaita berpendapat bahwa ular itu tidak ada, baik di tempat yang diperkirakan maupun ditempat yang lain, karena obyek itu memang tidak ada sama sekali. Dengan demikian yang dimaksud dengan pengetahuan yang salah ialah asat yaitu hal yang tidak ada secara mutlak.

Dalam ajaran Dvaita sesuatu yang tidak adapun dapat dikenal, umpamanya ada orang berbicara tentang hal yang tidak ada atau asat, menunjukkan bahwa asat itu dapat diketahui. Seandainya tidak, tentulah tidak dapat dibicarakan, misalnya seseorang berbicara tentang suatu lingkaran yang bersegi sama sisi. Dari hal itu dapat dikatakan bahwa obyek pengetahuan yang salah adalah benar-benar nyata. Kepalsuan obyek tidak berarti di dalamnya terkandung kepalsuan ilmu pengetahuan.

Mengenai penyimpulan atau Anumana dalam ajaran Dvaita memiliki pandangan yang sama dengan sistem  Avedanta yang lainnya. Pengetahuan yang didapat dengan penyimpulan adalah dengan melihat suatu tanda atau Lingga yang selalu memiliki hubungan dengan obyek yang ditarik kesimpulannya yang disebut Sadhya. Perhubungan antara Lingga dengan Sadhya disebut Wyapti. Dalam Dvaita dikemukakan bahwa dalam penyimpulan semestinya ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu Paksa (suatu kesimpulan yang ditarik), Sadhya (obyek yang ditarik kesimpulannya), dan Lingga (tanda yang tidak terpisahkan dengan  benda dan  kesimpulannya).  Misalnya,  dikejauhan  ada terlihat asap, hal ini memberikan kesan kepada kita tentu ada api di sana. Dengan melihat keadaan demikian itu kita menarik suatu kesimpulan tentu ada sesuatu yang terbakar di tempat tersebut (Penyusun, 2009).  Mengenai  kesaksian  atau  Sabda,  sistem Dvaita lebih dominan bersandar pada kitab Agama, dan Purana dari pada Kitab Veda. Hal ini dapat dipahami karena ajaran yang terdapat dalam kitab Agama dan purana tidak beertentangan dengan  isi Veda. Maka dari itu apa yang diajarkan oleh kitab Agama dan Purana adalah mengandung kebenaran yang mutlak dan patut dilaksanakan dalam hidup ini,.kitab Agama dan Purana mengantarkan manusia kepada hal-hal yang bersifat eika, upacara  keagamaan,  cara  memuja,  sedangkan  Kitab  Veda  menghubungkan  manusia kepada sasaran pemujaan. Dengan demikian Dvaita menganjurkan kepada semua pihak, bila hendak mengertikan isi Veda hendaklah dimulai dari mempelajarai kitab Agama dan Purana. Dalam mempelajari kedua kitab itu hendaklah dibimbing oleh guru yang ahli dalam bidang Vedanta,  sehingga  tujuan  yang  hendak  dicapai  dapat  terealisir  dengan sebaik-baiknya (Penyusun, 2009).

4.4 Etika Dvaita Vedanta

Tujuan tertinggi dari Dvaita adalah untuk mencapai kelepasan. Kelepasan dalam hal ini adalah peniadaan Avidya secara sempurna. Karena adanya Avidyalah munculnya samsara atau penderitaan dalam hidup ini. Sesungguhnya banyak macam penderitaan di dunia ini, seperti kelahiran,  umur  tua,  penyakit,  ketidak  harmonisan,  dan  sejenisnya adalah penderitaan. Penderitaan merupakan belenggu bagi setiap orang untuk mencapai kelepasan.  Semua bentuk  penderitaan  menurut  Dvaita disebabkan  oleh  Avidya.  Oleh karena Avidya manusia tidak lagi mengetahui hakikat Tuhan yang sebenarnya dan tidak dapat mengetahui hakikat dirinya sendiri. Dengan peniadaan Avidya itu orang akan mendapatkan pengetahuan yang benar tentang Tuhan dan tentang hakikat dirinya sendiri. Penderitaan  hendaklah  dipandang sebagai  suatu  gejala dan  penyakit.  Yang dimaksud dengan penderitaan sebagai gejala ialah segala macam cacad jasmani, maupun rohani yang diderita oleh semua  yang  hidup.  Yang  dimaksud  dengan  penderitaan  sebagai penyakit ialah kecendrungan untuk mengalami kejahatan ini, yang tidak dapat dipisahkan dari keadaan perorangan (Penyusun, 2009).

Semua bentuk penderitaan dalam hidup ini kelihatannya selalu diimbangi oleh kesenangan, akan tetapi jika kesenangan itu direnungkan secara mendalam, maka akan ditemukanlah bahwa kesenangan itu sendiri menjadi akan penderitaan. Sebab penderitaan lahir dari kelimpahan kesenangan, yaitu bila obyek yang disenangi itu berakhir. Oleh karena itu maka dapat dikemukakan bahwa kesenangan itu sendiri adalah suatu bentuk penderitaan. Sebab semua penderitaan itu disebabkan oleh Avidya. Dari Avidyalah munculnya nafsu-nafsu yang serakah yang ingin dipuaskan di sana-sini, keinginan kepada kesukaan, kemewahan hidup dan keinginan kepada kekuasaan.

Yang menyebabkan orang menderita adalah keinginan hidup yang dikaitkan dengan nafsu kepada hal-hal yang bersifat duniawi berupa kesukaan, kemewahan dan kekuasaan. Karena adanya keinginan yang bertentangan dengan dharma itulah seseorang mendapat penderitaan, yang semua  ini  disebabkan  oleh  Avidya.  Ketidaktahuan atau Avidya bersifat kosmis yng menjadikan orang memiliki pandangan yang kabur terhadap hakikat Tuhan yang sebenarnya dan hakekat dirinya sendiri (Penyusun, 2009).

Untuk mencapai kelepasan, sistem Dvaita mengajarkan beberapa jalan yaitu: Karmayoga, Srawana, Manana, dan Dhyana atau Meditasi. Karmayoga mengajarkan bahwa orang harus melaksanakan tugasnya tanpa mengharapkan pahalanya. Menurut Karmayoga, tindakan  yang  dilakukan  seseorang  tidak  dapat  dihancurkan  sebelum tindakan itu membuahkan hasilnya. Tidak ada kekuatan dalam alam semesta ini yang dapat menghentikan tindakan itu sehingga tidak membawa akibat. Bila seseorang berbuat jahat, maka ia harus menderita karenanya, demikian pula sebaliknya. Pada hakekatnya sesuatu sebab pasti membawa akibat, terhadap hal itu tidak ada sesuatu kekuatan yang dapat mengalahkannya.

Manusia yang ideal menurut Karmayoga ialah ia yang di tengah-tengah kesunyian menemukan kegiatan yang hebat dan di tengah-tengah kegiatan yang hebat menemukan kesunyian.  Ini  berarti  ia  telah  mengerti  rahasia  penahanan  nafsu  dan  telah  dapat menguasai dirinya sendiri. Inilah idealnya dari Karmayoga dan bila seseorang telah mencapainya, maka ia benar-benar telah mengerti mengenai rahasia dari pekerjaan. Karmayoga menjadikan suatu ilmu pengetahuan untuk berkarya, dan semua orang dianjurkan untuk belajar daripadanya, bagaimana cara menggunakan semua pekerjaan di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Kerja adalah suatu keharusan, tetapi hendaknya bekerja dengan tujuan tertinggi. Seorang Karmayoga lebih merasa berterima kasih kepada mereka yan telah memberi kesempatan untuk mempraktekkan amal kebijakan di atas kehidupannya.

Dvaita mengajarkan bekerjalah tanpa henti, tetapi lepaskanlah segala pengikatan kepada pekerjaan itu. Serahkan semua hasil kerja itu kepada Tuhan, karena pada hakekatnya apa yang dikerjakan oleh seseorang, apa yang ia dengar, rasakan dan yang ia lihat adalah semata-mata untuk Tuhan. Janganlah hendaknya seseorang meminta pujian, semua itu adalah kepunyaan Tuhan, berikanlah buahnya kepada Tuhan (Penyusun, 2009).

Dengan demikian Karmayoga berusaha mencapai kebebasan yang menjadi tujuan tertinggi bagi semua umat manusia melalui jalan kerja, dengan tidak mementingkan diri sendiri. Karena semua tindakan yang bersifat egoisme akan memperlambat tercapainya kelepasan dan sebaliknya. Hendaknya manusia hidup di dunia hatinya selalu menghadap Tuhan dan tangannya pada pekerjaan.

Karmayoga dalam Dvaita juga termasuk melakukan upacara keagamaan yang dilakukan menurut petunjuk Veda melalui kitab Agama dan Purana. Melakukan pemujaan melalui bentuk-bentuk simbolik dan mengulang-ulang mantera-mantera suci dalam pemujaan kepada Tuhan juga termasuk Karmayoga.

Srawana adalah mendengarkan petuah-petuah guru tentang isi Kitab Suci Veda, Agama dan isi Kitab Purana. Dalam mempelajari isi kitab suci menurut Dvaita hendaklah dibimbing oleh guru yang berwenang dibidang itu, sehingga tujuan yang hendak dicapai dapat terealisir. Setelah melakukan Srawana dilanjutkan dengan melakukan Mananam, yaitu memahami, membahas dan menguji apa yang didengar, sehingga muncul keyakinan yang mendalam mengenai kebenaran terhadap kitab suci tersebut. Kitab-kitab suci hendaklah   dimeditasikan   (Dhayana)   atau   direnungkan   secara   mendalam   sehingga sehingga orang mendapatkan pengetahuan yang benar tentang hakekat Tuhan dan hakekat dirinya sendiri. Pengetahuan ini akan melahirkan cinta kasih kepada Tuhan. Cinta kasih ini harus diperlihatkan oleh setiap orang dalam dirinya sendiri, sehingga menjadi cinta kasih yang terus menerus kepada Tuhan.

Melalui Dhyana atau Meditasi diharapkan Tuhan berkenan menganugrahkan karunia-Nya. Karena karunia ini manusia akan dapat merealisasikan hakekat Tuhan dan hakekat dirinya sendiri secara intuisi. Meditasi adalah berbagai penolong untuk hidup spiritual, karena dalam meditasi orang akan dapat melepaskan semua ikatan pada dirinya dan merasakan adanya getaran suci dari Tuhan Yang Maha Esa.

Bila semua disiplin tersebut di atas dilakukan dengan baik, maka akan tercapai kelepasan yaitu bebas dari Avidya, sehingga akhirnya dapat melepaskan diri dari samsara dalam hidup ini (Penyusun, 2009). Seseorang dapat mencapai moksa melalui cinta  kasih,  penyerahan  diri  secara  total  dan  pelayanan  kepada  Brahman  (Suamba, 2003).

DAFTAR PUSTAKA

Donder, I. K. 2005. Brahmavidya. Paramita: Surabaya.

Donder, I.K. 2009. Teologi Memasuki Gerbang Ilmu Pengetahuan Ilmiah tentang Tuhan

Paradigma Sanatana Dharma. Paramita: Surabaya.

Maswinara, I Wayan. 1999. Sistem Filsafat Hindu (Sarva DarsanaSamgraha). Paramita: Surabaya.

Rama, Svami.2009. Hidup dengan para Rsi, Yogi Himalaya. Paramita: Surabaya. Sivananda, Svami, 2003.                   Intisari Ajaran Hindu. Paramita: Surabaya.

Suamba, I.B Putu. 2003. Dasar-Dasar Filsafat India. PT Mabhakti: Denpasar

Suwira, Wayan. 2008. Buku Ajar Sejarah Filsafat India. Departemen Filsafat Universitas Indonesia.

Penyusun, Tim. 2009. Modul Materi Pokok Darsana. Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu:

                   Departemen Agama RI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *